Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Harga Sebuah Harga Diri


__ADS_3

Siang itu, suasana hati Kiara tidak seterang dan secerah Sang Penguasa Siang. Padahal sebelum Biru mengajaknya, dia sudah menguatkan hati agar tidak terbawa emosi jika kedua orang tua Biru membandingkan dirinya dengan gadis lain.


Berkali-kali dia mengingatkan dirinya sendiri, kalau saat ini dia sedang bekerja, bukan menjadi kekasih Biru sungguhan. Namun tetap saja, kata-kata menyakitkan dari Amanda dan Dirgantara tak dapat dia lupakan begitu saja. Apalagi siang ini, ada Angeline yang membuat siang hari Kiara berasa seperti tiga abad lamanya.


Beruntunglah, Biru tak lepas dari sisinya sedetik pun. Walaupun dia tidak menanggapi atau melontarkan pembelaan untuk Kiara, tetapi laki-laki itu selalu menggenggam tangan Kiara jika dilihatnya Kiara mulai gugup.


Sebelum makan siang untuk mereka siap, Amanda meminta Angeline untuk menunjukan kepiawaiannya dalam bermain piano dan biola.


Tanpa sungkan, Angeline segera duduk di kursi piano dan tak lama ruang keluarga itu sudah dipenuhi dengan alunan instrumental Minuet In G dari Johan Sebastian Bach. Dengan lihai jari-jarinya melompat-lompat di atas tuts piano.


Begitu selesai, Amanda dan Dirgantara memberikan standing applaus untuk Angeline. Mereka meminta tambahan lagu yang dapat mereka berdua nyanyikan. Dengan senang hati, Angeline kembali memijat tuts piano dan mengiringi orang tua Biru untuk bernyanyi bersama.


"Kau hebat sekali, Angeline. Tante dengar kau kemarin baru saja mengikuti olimpiade piano di luar negeri, ya? Bangga, deh, Tante sama kamu," kata Amanda sambil memeluk Angeline.


Angeline hanya tersenyum saat dirinya dibanjiri pujian dari kedua orang tua Biru. "Tante, bisa saja. Oh, aku membawa oleh-oleh untuk Om dan Tante,"


Gadis cantik bertubuh mungil itu pun berlari keluar dan kembali dengan membawa beberapa tas belanja. Dia memberikan satu tas kepada Dirgantara, dua tas untuk Amanda, dan satu tas untuk Biru.


"Silakan dibuka, Om, Tante, Biru juga," kata. Angeline dengan gayanya yang centik. Rambut keriting gantungnya seolah ikut melonjak kegirangan.


Dengan antusias kedua orang tua Biru membuka buah tangan dari calon menantu mereka. Kedua mata Amanda bersinar ceria saat dia mengeluarkan sebuah tas mini merk terkenal yang konon katanya hanya tersedia 10 buah di dunia.


"Sayang! Astaga, ini, 'kan, mahal sekali! Terima kasih, Nak. Aduh, Tante jadi sungkan. Tante tidak punya apa-apa untuk Tante berikan kepadamu. Om sedang sibuk, sih, jadi sudah lumayan lama juga kita tidak jalan-jalan, ya, 'kan, Biru?" ucap Amanda dan tiba-tiba saja dia mengalihkan pandangannya kepada Biru yang sedang asik berbincang-bincang dengan Kiara. "Biru! Dengarkan Mama, dong! Mama sedang bicara denganmu, lho!"


"Makanya Tante tidak suka dengan Kiara," kata Amanda, dia merendahkan suaranya serendah mungkin saat menyebut nama Kiara. "Dia memang pintar, tapi sepertinya tidak tahu aturan. Tante dan Om tidak suka,"

__ADS_1


Kiara melihat Amanda yang sedang berbisik dengan Angeline dari sudut matanya. Dia berdeham perlahan dan meminta Biru untuk menjaga jarak dengannya.


"Aku tidak mau!" kata Biru menolak tegas. "Kalau aku harus menjaga jarak denganmu, untuk apa aku menyewa jasamu,"


"Kata-kata orang tuamu menusuk sekali dan aku seperti mati suri, lalu ketika aku keluar dari rumah ini, aku dihidupkan kembali," bisik Kiara lagi sungguh-sungguh.


Namun, Biru tertawa terkikik. "Hahaha! Aku sedang membayangkan kau ditusuk dengan pedang kata-kata dan mati, lalu hidup lagi. Kau seperti tokoh dalam game-ku,"


Amanda serta Dirgantara melirik tajam ke arah mereka. Biru segera mengubah tawanya menjadi batuk. "Uhuk! Uhuk! Ehem! Ma, aku sudah lapar. Sepertinya Bibi sudah siap,"


"Kiara, tadi kau sudah melihat Angeline bermain piano. Coba kau ceritakan kepada Om dan Tante apa keahlianmu selain belajar? Kalau belajar lewat buku, pasti banyak yang bisa. Tapi kalau keahlian seperti piano, ballet, biola, atau bernyanyi, membutuhkan kemampuan yang cukup tinggi dan tidak ada di dalam buku. Ya, 'kan, Angeline Sayang?" kata Amanda bertanya dengan nada menyindir kepada Kiara.


"Ma!" tukas Biru.


Amanda menaikkan satu alisnya dan mempersilakan Kiara untuk duduk di kursi piano. Tak hanya itu, Amanda juga meminta gitar Biru untuk dimainkan oleh Kiara.


"Buktikan kata-katamu!" tukas Amanda dengki.


Kiara menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sambil berharap dia tidak lupa nada serta not-not piano. Tak lama, sebuah instrumen Canon In D karya Pachabell mengalun dengan indah di ruangan tempat mereka berkumpul.


Kira-kira 2 menit, Kiara memainkan instrumen yang biasa dimainkan untuk acara pernikahan itu. Setelah selesai, dia mengambil gitar dan menyetel gitar itu sesuai kuncinya. Setelah dirasa suara yang dihasilkan oleh gitar itu tidak sengau, Kiara mulai menggumamkan sebuah lagu yang dahulu biasa dia mainkan bersama ayahnya dan ibunya biasanya akan ikut bernyanyi melengkapi iringan gitar itu.


Biru mengagumi gadis yang sedang asik memetik satu per satu senar gitarnya. Tiba-tiba saja, dia merasakan sesuatu yang aneh menyelinap masuk ke dalam hatinya dengan lembut dan perlahan.


Tak lama, Kiara mengakhiri penampilan mendadaknya itu dan mengembalikan gitar itu kepada Biru. "Terima kasih,"

__ADS_1


Tak ada tepuk tangan, tak ada sambutan hangat, dan tak ada pelukan untuk Kiara. Namun, Kiara tak memperdulikan hal seperti itu. Paling tidak, kali ini orang tua Biru tidak dapat menjatuhkannya dengan mudah.


Makan siang pun tiba, mereka berkumpul mengelilingi meja makan. Karena gagal menjatuhkan Kiara lewat prestasi, Amanda pun menyerang Kiara lewat status sosial.


Wanita itu tak ada hentinya bertanya soal barang-barang dengan merk terkenal atau kafe dan restoran terkenal di seluruh dunia.


"Kiara belum pernah ke sana, yah? Kapan-kapan pergi bersamaku. Tenang saja, aku akan mentraktirmu," kata Angeline.


Kiara mengulum senyumnya sambil mengangguk berterima kasih kepada gadis yang sepertinya memiliki sifat merendah untuk ditinggikan itu.


"Mana sanggup Kiara jalan-jalan ke sana! Ayahnya hanya seorang pegawai yang tidak memiliki jabatan apa pun. Kuliahnya saja bea siswa dan tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Karena harus belajar, dia sampai tidak tau apa-apa saja yang sedang menjadj tren di kalangan anak muda dan sosialita," cetus Amanda.


Napas Kiara mulai sesak. Namun, dia mencoba tetap tersenyum. Ya, hanya tersenyum. Makanan yang dimakannya terasa seperti batu kerikil tajam yang melukai dan menyayat kerongkongannya.


"Makanya, Om kasih tau Biru. Supaya memilih teman ataupun kekasih! Om tidak mau, anak Om harus membiayai seluruh keluarga Kiara. Mental-mental miskin dan meminta biasanya akan terus melekat sampai mati! Ingat itu, Kiara!" timpal Dirgantara tak kalah pedas.


Tangan Kiara mulai dibasahi oleh keringat dingin. Napasnya semakin sesak dan emosinya sudah berada di pucuk kepalanya, menunggu untuk diledakkan.


Gadis itu menunduk, berusaha mengingat apa pun. Potongan puisi, not balok, lirik lagu, sampai dialog drama televisi. Namun semua usahanya itu gagal saat Amanda mulai membahas tentang ibunya dan menertawakan kedua orang tuanya dengan keji.


"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Anaknya saja seperti ini, bisa kita bayangkan bagaimana ibunya, 'kan? Aduh, Tante kalau jadi ibumu, Kiara, Tante pilih mati! Punya suami tidak becus mencari nafkah dan tidak bisa membahagiakan keluarganya! Hahaha! Malang sekali nasibmu, Nak," ejek Amanda.


Tiba-tiba saja, Kiara memukul meja dengan cukup keras. "Cukup! Kalian boleh memakiku, tapi tidak dengan orang tuaku! Kami punya harga diri dan kalian tidak bisa seenaknya menginjak-injak harga diri kami! Aku memang datang dari keluarga tidak mampu, tapi bukan berarti Anda bisa meremehkan kami! Mental kami bukan mental lembek seperti kalian! Permisi!" tukas Kiara panas. Dia segera mengambil tasnya dan berjalan keluar dari rumah terkutuk itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2