Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Angeline Baskara


__ADS_3

Di akhir pekan yang cerah, seorang gadis turun dari mobilnya dengan mengenakan sepatu kets bermerk terkenal dan dengan anggun, dia berjalan menuju pintu masuk sebuah rumah. Tangannya menenteng kantong belanjaan yang berasal dari restoran ternama di ibu kota.


Tas tangan kecil mengapit di lengannya. Gadis itu pun menekan bel pintu rumah tersebut, lalu memasang senyumnya yang paling menawan.


Dia tahu kedatangannya pasti akan disambut baik oleh sang pemilik rumah. Benar saja, seorang wanita membukakan pintu dan segera memeluknya dengan sayang. "Waaa, Angeline! Masuk, Sayang,"


Gadis cantik bernama Angeline itu pun memberikan kantong belanjaan tadi kepada wanita tersebut. "Aku tadi mampir ke restoran ini dulu, Tante. Aku tau pasti Tante dan Om suka makan di sini,"


Wanita itu memberengut manja. "Tahu saja, deh. Berarti selera kita sama, ya, Sayang, hahaha! Aduh, terima kasih banyak,"


"Mama dan papamu tidak jadi ikut?" tanya wanita itu lagi berbasa-basi.


"Nanti menyusul, Tante. Papa masih ada meeting proyek dengan kepala vendor. Om ikut proyek ini juga, 'kan, Tan?" tanya Angeline dengan gaya penting.


Wanita berambut panjang dan lurus itu mencari keberadaan seseorang. Lalu, dia mengedikkan kedua bahunya. "Tante, sih, kurang tau, ya, Ngel. Mungkin ikut juga karena beberapa hari ini memang sibuk,"


Obrolan tentang bisnis serta proyek baru yang akan digarap oleh Tuan Baskara semakin bergulir seru di antara keduanya. Seperti tidak kehabisa bahan pembicaraan, obrolan mereka beralih ke restoran ternama yang sempat dibahas oleh Angeline.


Tawa dan pekik histeris keduanya memenuhi ruang keluarga rumah itu. Hingga, seorang pria muda keluar dari salah satu ruangan dan dengan cuek, pemuda itu melewati kedua wanita yang sedang asik berbincang-bincang.


"Biru, mau ke mana? Ada Angeline, nih. Disapa dulu, dong," kata wanita berambut lurus itu.


Laki-laki bernama Biru menghentikan langkahnya dan mengucapkan hai tanpa niat, lalu kembali berjalan ke arah garasi rumahnya.


Merasa kurang puas, wanita itu mengikuti Biru sampai garasi. "Mau ke mana? Mama sudah 2 kali bertanya lho, Bi,"


"Pergi," jawab Biru singkat, lalu dia mengecup pipi wanita itu dan melajukan kendaraannya.


Angeline yang berada di ruang keluarga melihat mobil Biru keluar dan dia berdecak kesal. Senyumnya seketika menghilang diiringi dengan suasana hatinya yang berubah dengan cepat.


Angeline Baskara, seorang gadis yang usianya tidak terpaut jauh dengan Biru. Putri dari Rega Baskara serta Yuna Baskara itu merupakan kolega bisnis Dirgantara.


Mereka berdua sedang terlibat sebuah proyek yang cukup besar dan jika mereka memenangkan proyek tersebut, maka kerjasama di antara keduanya pun terjalin, otomatis keuntungan yang akan mereka raih akan semakin besar.


Maka dari itu, untuk mengikat perjanjian kerjasama yang sudah mereka berdua sepakati, mereka menjodohkan putra dan putri mereka dalam sebuah pernikahan.

__ADS_1


Angeline yang mudah jatuh cinta itu pun segera menyetujui rencana pernikahan tersebut. Walaupun saat itu, dia hanya melihat Biru dari foto.


Namun sayangnya, rencana indah itu tak berjalan mulus sesuai dugaan mereka. Biru tidak menyetujui pernikahan tersebut. Sempat beberapa kali menentang, sampai akhirnya laki-laki itu memakai jasa seorang gadis untuk mejadi kekasih sewaannya sampai perjodohan ini dibatalkan.


Tak mau menyerah begitu saja, Angeline terus melakukan pendekatan kepada Dirgantara dan Amanda Bramasta. Hampir setiap hari gadis itu datang ke rumah Biru, tetapi dia tidak pernah berhasil membuat Biru memperhatikannya.


Suatu hari, Angeline datang secara tiba-tiba. Saat itu, Amanda sedang tidak ada di rumah. Yuna dan Amanda tergabung dalam kelompok arisan yang sama, sehingga Angeline mengetahui jadwal arisan mereka.


Gadis itu pun menekan bel pintu rumah Biru dan seorang pelayan wanita membukakan pintu untuknya. "Selamat siang, Nona. Silahkan masuk,"


"Terima kasih, Bi. Nyonya ada?" tanya Angeline mencoba berbasa-basi sambil tersenyum.


"Nyonya arisan tuh, Non. Sudah dari pagi berangkatnya. Kalau Tuan ke kantor. Adanya Den Biru, saya panggilkan, ya," kata pelayan itu lagi.


Angeline mengangguk dan mempersilakan pelayan itu untuk memanggil Biru. Tak lama, seorang pria keluar dengan sudah berpakaian rapi.


"Hai, Bi," sapa Angeline.


Biru tak membalas sapaan Angeline tersebut. Alih-alih membalas, Biru mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju garasi.


Gadis itu meraih tangan Biru, tetapi Biru segera menyentak tangan tersebut. "Aku ada urusan! Lagi pula kenapa datang kalau sudah tau mamaku tidak ada?"


"Untuk bertemu denganmu. Aku datang ke sini supaya aku bisa dekat denganmu, bukan untuk berbicara berjam-jam bersama ibumu," kata Angeline yang terus mengekori ke manapun Biru melangkah.


Biru masuk ke dalam mobilnya, begitu pula dengan Angeline. "Turun!"


Angeline menggelengkan kepalanya. "Tidak mau!"


Mencoba untuk menahan emosi, Biru pun keluar dari mobil dan berjalan ke depan. Lagi-lagi, Angeline mengekorinya. "Apa yang kau mau? Kenapa mengikutiku? Aku sudah memiliki kekasih dan saat ini, kami akan berkencan. Jadi, menyerahlah dan katakan kepada orang tuamu kalau kau lelah dan pernikahan kita akan dibatalkan! Selesai!"


Angeline termenung melihat Biru kesal. Lalu kemudian, dia tersenyum dan memeluk pria itu dari belakang. "Jangan pergi, Bi. Aku menyukaimu hanya karena melihat fotomu. Aneh, 'kan? Makanya, jangan pergi! Berikanlah aku kesempatan untuk bisa mengenalmu,"


"Itu urusanmu! Lepaskan aku!" kata Biru kasar sambil melepaskan lengan Angeline yang merangkul pinggangnya.


"Aku akan mengadukan kepada orang tuamu kalau kau memilih pergi daripada menemaniku. Aku sudah mengirimkan foto kepada ibumu kalau aku sedang berada di sini," kata Angeline mengancam.

__ADS_1


Hari itu, Biru berniat akan menemui Kiara di kampusnya untuk menemani gadis itu mengerjakan skripsi. Ya, hubungan mereka berdua memang sudah sedekat itu. Naky, sepertinya rencana hari ini batal karena kehadiran Angeline. Biru pun berdecak kesal dan dia mengirimkan pesan kepada Kiara yang mengatakan dia akan terlambat datang atau bahkan tidak jadi datang disertai dengan emoticon bergambar karakter sedih.


"Ck! Masuk!" titah Biru kepada Angeline.


Dengan senyum kemenangan, Angeline pun masuk ke mobil dan duduk di samping Biru. "Kita mau ke mana?"


"Aku akan menjualmu!" jawab Biru ketus, lalu dia melajukan kendaraannya dengan cepat menuju ke suatu tempat.


Rencana Biru sebelum bertemu dengan Kiara hari itu, ingin memberikan gadis itu sesuatu sebagai tanda penyemangat dalam skripsi nanti. Rencana itu tetap dia laksanakan, tetapi dengan mengajak Angeline.


Setibanya di sebuah pusat perbelanjaan yang hanya menjual barang bermerk terkenal, Biru berjalan lebih dahulu dan membiarkan Angeline mengikutinya dari belakang.


"Biru, tunggu! Untuk apa ke sini? Kau ingin mengajakku jalan-jalan atau ingin membelikanku sesuatu?" tanya Angeline. Dia berlari kecil untuk menyusul langkah Biru.


"Ikut saja! Kalau lelah duduk di manapun kau mau, aku tidak peduli!" kata Biru.


Sementara Angeline dan Biru sedang berada di mall mewah, keluarga Bramasta dan keluarga Baskara memutuskan untuk bertemu. Kebetulan Dirgantara dan Rega berada dalam satu proyek, begitu pula dengan Amanda dan Yuna yang berada dalam satu kelompok arisan yang sama. Mereka pun bertemu di sebuah kafe club di ibu kota.


"Anak-anak kita sedang berkencan. Angeline mengirimkan fotonya kepadaku. Senang sekali melihat mereka akrab seperti ini, hahaha!" kata Amanda sambil memperlihatkan foto yang dikirimkan Angeline di ponselnya.


Yuna pun tersenyum bahagia. "Kalau mereka sudah dekat seperti ini, kita tinggal menyusun pesta kejutan saja untuk mereka. Bagaimana, Jeng?"


Amanda mengangguk setuy, begitu pula dengan suami-suami mereka. "Sekalian saja kita ikat mereka. Tidak perlu langsung menikah. Tunangan saja dulu, ya?"


"Ide bagus," cetus Amanda dan Yuna bersamaan.


Akhirnya kedua pasang orang tua itu sibuk menghubungi seorang event organizer untuk datang menemui mereka hari itu juga. Mereka memutuskan akan mengadakan pesta kejutan berkedok tunangan itu bulan depan.


Di lain tempat, Biru terus mengumpat dan menahan kekesalannya pada Angeline. "Ck! Kau merepotkan!"


"Tidak apa-apa, 'kan? Aku calon istrimu, jadi kau harus mulai mengenalku," kata Angeline santai sambil menggandeng lengan Biru.


"Huh! Aku sudah memiliki kekasih yang akan kunikahi dan yang jelas bukan kau!" tukas Biru, lalu menghentakkan lengan Angeline dengan kasar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2