
Keesokan harinya, Biru menemui Kiara di apartemennya. Kiara dan Renatha yang masih tertidur, terpaksa harus membuka mata mereka, dan saling menunjuk untuk memutuskan siapa yang harus membukakan pintu untuk tamu mereka.
"Kiara, buka pintunya!" tukas Renatha sambil membuka penutup matanya.
Kiara mengerang kesal dan berbalik memunggungi Renatha. "No! Kau saja. Aku tidak memesan makanan atau apa pun,"
"Ck! Tidak mau! Sudah, biarkan saja! Siapa pula yang bertamu pagi-pagi seperti ini?" kata Renatha dan tak lama, suaranya perlahan menghilang digantikan dengan dengkuran halus.
Begitu pula dengan Kiara, tak ada yang terbangun saat itu. Sampai akhirnya, Biru mencoba menghubungi ponsel Kiara. Sayangnya, ponsel Kiara dalam mode senyap, sehingga gadis itu tidak mendengar suara dering telepon sama sekali.
Biru tetap menunggu sampai kekasihnya itu membukakan pintu untuknya. Lama dia menunggu di luar, terkadang dia bermain games, terkadang duduk, dan terkadang berputar-putar, atau mengetuk kembali pintu apartemen gadis-gadis itu.
Saat hari menjelang siang, penantian Biru terjawab sudah. Renatha muncul dengan membawa plastik sampah besar dan tertegun melihat Biru yang sedang berjongkok di depan pintu. "Biru? Sedang apa kau di sini?"
"Heh! Ada Biru, Re?" Mendengar nama Biru, Kiara pun beranjak dari ranjangnya dan menyusul teman baiknya di depan pintu. "Loh, sedang apa kau di sini?"
Biru mengangkat wajahnya dan menyeringai lebar saat melihat kedua gadis yang masih berpakaian piyama tidur menatapnya dengan tatapan heran. "Aaah, syukurlah kalau kalian baru bangun. Kupikir kalian pergi,"
"Kau daritadi ada di sini? Apa jangan-jangan kau yang mengetuk pintu berkali-kali dari tadi pagi?" tanya Kiara dengan nada bersalah. "Maaf, a-, kami, ...."
Renatha menyikutnya. "Kau yang tidak mau membukakan pintu untuknya bukan kami! Sudahlah, aku mau buang sampah dan mencari sarapan,"
Gadis itu cepat-cepat meninggalkan Biru dengan Kiara untuk memberikan ruang dan waktu untuk mereka berdua. Malam sebelumnya, Kiara kembali dengan mata bengkak dan wajah memerah. Dia pun menceritakan segalanya pada Renatha, tentang tuduhan orang tua Biru kepadanya, tentang Kala yang menemukan Kiara di halte, tentang pernyataan cinta Kala yang tiba-tiba dan terkesan seperti perintah, sampai bagaimana mereka berdua bertemu dengan Biru, hingga akhirnya dia meninggalkan kedua pria yang saling memukul satu sama lain itu.
__ADS_1
Oleh karena itu, Renatha merasa inilah yang tepat untuk memberikan waktu untuk mereka berdua supaya apa pun masalah yang mereka hadapi dapat segera selesai dengan baik.
Kiara mempersilakan Biru untuk masuk. Berkali-kali gadis itu meminta maaf kepada kekasihnya karena telah membuat Biru menunggu di luar terlalu lama.
"Maafkan aku, ya. Tadi malam, aku dan Renatha mengobrol sampai larut malam," ucap Kiara meminta maaf. Dia merapikan sofa tamu dan membereskan sampah-sampah bekas cokelat serta beberapa bungkus es krim yang tergeletak di meja. "Maaf juga, karena kau harus melihat sampah-sampah ini,"
Biru tersenyum dan membantu gadis itu untuk memungut sampah yang beserakan. Setelah semuanya selesai dan tidak ada tetesan es krim atau remah biskuit yanh tertinggal, Kiara duduk di samping Biru.
"Nah, jadi? Bagaimana?" tanya Kiara.
Tanpa basa-basi, Biru merengkuh tubuh Kiara ke dalam dekapannya. "Maafkan sikapku tadi malam dan maafkan kedua orang tuaku,"
"Tidak apa-apa, aku sudah melupakan segalanya. Rencananya hari ini, aku juga ingin menemuimu," kata Kiara melepaskan dekapan Biru.
Raut wajah gadis itu tak dapat ditebak. Ada kesedihan di sana dan ada secuil rasa lega juga, entah karena apa. Yang jelas saat itu, Kiara berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang membuatnya menyesal.
"Oke, setelah apa yang terjadi kemarin, kupikir ada baiknya, kita berpisah jalan sementara," kata Kiara berhati-hati. Dia tidak ingin menyakiti Biru, karena dia sendiri pun merasa jantungnya ditikam saat mengatakan hal tersebut.
Sontak saja Biru menggelengkan kepalanya. "Putus? Ra, kita baru saja balikan lagi, masa kau mau putus? Ayolah, Ra! Kita bisa hadapi ini berdua, kok,"
Namun, Kiara menggeleng perlahan. Diamnya Kiara membuat Biru berpikir negatif. Dia pun menuding Kala yang menjadi penyebab Kiara mengambil keputusan itu. "Kalandra? Kau begini karena Kalandra?"
"Bukan. Aku lebih mencintai diriku sendiri dibandingkan dengan Kala. Aku dan Kala tidak memiliki hubungan apa pun. Dia atasanku dan mau tidak mau, aku harus selalu menuruti perintahnya," jawab Kiara jujur. Dia tak ingin Biru salah sangka dan menghajar Kala lagi seperti tadi malam.
__ADS_1
Selain itu, Kiara memang tidak memiliki perasaan apa pun kepada atasannya itu. Namun sepertinya, Biru tidak mempercayai ucapan Kiara. "Lalu? Kenapa tadi malam dia bisa bersamamu?"
Kiara pun menjelaskan apa yang terjadi dengannya tadi malam dan bagaimana dia bertemu dengan Kala di halte bus malam itu. Lagi-lagi, Biru tampaknya meragukan cerita Kiara. "Kenapa dia tahu kalau kau ada di halte?"
"Karena kantor kami dekat dengan apartemenku, tentu saja kemungkinan dia dapat melihatku sedang duduk di halte tersebut cukup besar," ujar Kiara mengira-ngira. Gadis itu juga tak paham bagaimana kalah bisa melihat dirinya sedang berada di halte bus.
Apalagi saat itu, kondisi Kiara sedang sangat kacau dengan mata merah dan sedikit bengkak karena menangis sepanjang perjalanan. "Dia melihatku dan kemudian dia berhenti di depan halte dan mengajakku makan. Hanya itu,"
Biru mencari kebenaran di dalam tatapan Kiara. Saat itu juga, dia tahu kalau kekasihnya itu tidak sedang berbohong atau mengarang cerita. Lalu kemudian, dia menebak lagi apa alasan Kiara meminta berpisah dengannya. "Kemungkinan kedua kamu minta putus dariku adalah karena kedua orang tuaku?"
Kiara mengangguk perlahan. "Aku tidak akan berprasangka buruk kepada kedua orang tuamu hanya saja apa yang mereka lakukan kemarin itu cukup membuat hatiku sakit. Semua kata-kata yang mereka lontarkan kepadaku seakan mengandung seribu pedang yang menusukku,"
"Kata-kata itu sulit kulupakan, jujur saja. Rasanya aku tidak layak dan tidak pantas berada di sampingmu. Karena itu, aku putuskan untuk memikirkan segala-galanya terlebih dahulu baru kemudian aku berharap aku siap dan berani menghadapi segala resiko bersamamu," sambung Kiara lagi.
Ya, itulah yang dia rasakan sejak kemarin. Dia merasa buruk, rendah, dan tidak layak untuk berdampingan dengan seorang Biru Bramasta. Mungkin itu juga sebabnya mengapa dia tidak memiliki target apa pun saat berhubungan dengan Biru.
"Kau salah, Ra. Kaulah satu-satunya wanita yang layak dan pantas mendampingiku. Kenapa kau harus merasa rendah hanya karena ucapan kedua orang tuaku? Buktikan saja kepada mereka kalau kita lebih kuat dan sungguh-sungguh dalam menjalani hubungan kita," ucap Biru berusaha meyakinkan kekasihnya tersebut.
Namun, Kiara tetap menggeleng. "Aku berharap suatu saat aku akan memiliki pemikiran seperti itu titik tapi untuk saat ini, aku ingin memikirkan segalanya, dan aku rasa Aku akan terus berusaha supaya orang tuamu menganggapku layak untukmu,"
"Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi, Biru. Kita sudah melakukan segalanya dengan baik dan aku hanya berpikir saat ini bukan sesuatu yang tepat untuk kita untuk menjalin hubungan yang serius," ucap Kiara lagi. Suaranya mulai tercekat dan dia berdeham untuk menyembunyikan rasa ingin menangisnya.
Sesaat setelah dia mengucapkan hal itu, suasana pun menjadi hening seketika. Hanya ada mereka berdua dan hati mereka yang saling melepaskan diri dari tautan yang selama ini membelenggu mereka berdua.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu, Ra. Selalu akan menunggumu, sampai kau siap," bisik Biru dan dia memeluk Kiara sekali lagi dengan erat.
...----------------...