Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Kala MemBiru


__ADS_3

Pada suatu pagi yang cerah, Kiara terlihat kosong. Tatapan matanya menerawang, seakan jiwanya tidak ada di tempat dia berpijak. Ya, gadis itu masih memikirkan balasan pesan Biru.


Tak salah lagi, Angeline! Biru pasti bersama dengan Angeline. Lalu, kenapa Angkasa meminta tolong kepadanya untuk mengajak Biru kembali? Toh, Biru sudah kembali, 'kan?


"Hhhhhh!" Tak tahan dengan beban hatinya, gadis itu pun menghela napas kasar. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menampar kedua pipinya cukup keras. "Kiara, bangun! Hempaskan saja makhluk bernama Biru itu dan jangan kau ingat-ingat lagi!"


"Bicara dengan siapa, Ra?" tanya Renatha yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar mandi untuk mengecek riasannya.


Kiara mencibir. "Hati!"


Seketika itu juga, dia lupa kalau Renatha sempat melarangnya untuk menghubungi Biru dan dia telah melanggar larangan tersebut. Selama bersahabat dengan Renatha selama lebih dari 3 tahun, Kiara tidak pernah menyembunyikan apa pun dari sahabatnya itu, bahkan hal pribadi sekalipun.


Mendengar jawaban Kiara yang sedikit ketus, Renatha tertawa. "Hahaha! Kenapa dengan hatimu, Ra? Cinta Kala mulai menggoda, ya? Hahaha!"


"Ish! Bukan itu, Re! Sudahlah, aku jalan. Aku ada meeting pagi," kata Kiara melengos pergi keluar dari kamar mandi yang cukup sesak itu.


Setelah saling berbenturan, mereka pun akhirnya berpisah jalan menuju kantor masing-masing. Masih tetap membuat janji untuk makan siang bersama saat senggang hari itu.


Setibanya di kantor, tak seperti biasanya, Kala sudah datang lebih dulu, dan menyambut kedatangan Kiara. Dengan mengucapkan selamat pagi, pria itu memberikan satu cup kopi untuk asistennya yang sedang menatapnya bingung.


"Apa ini?" tanya Kiara


"Itu? Cinnamon frappuccino favoritmu, 'kan? Terima kasih kembali," jawab Kala santai.


Kiara mengerutkan keningnya. Dia masih mencerna maksud dari atasannya yang tiba-tiba baik itu. "Apakah hari ini kita lembur? Atau ada kesalahan fatal yang Anda perbuat dan ingin memintaku untuk membereskannya?"


"Kenapa kau curiga padaku? Aku hanya berbuat baik kepadamu," kata Kala lagi, kali ini dia mengangkat wajahnya untuk menatap Kiara. "Tapi, sebenarnya memang aku ingin meminta bantuanmu,"


Hati Kiara mencelos. Tidak mungkin seorang atasan akan berbuat baik kepada bawahannya tanpa alasan. "Bantuan apa? Oh, pagi ini kita ada meeting di pukul 9, Tuan Mahendra,"


"Aku tidak suka kalau kau berbicara formal padaku, dari dulu sudah kukatakan seperti itu, 'kan! Ya sudah, aku tidak jadi meminta bantuanmu," kata Kala memberengutkan bibirnya. "Siap-siap saja untuk rapat!"


"Lho? Okelah, saya akan-, ... Oh, maaf, aku akan siapkan ruangannya," kata Kiara bergegas pergi je ruang rapat dengan membawa setumpuk dokumen.

__ADS_1


Kalandra Mahendra, seseorang pengusaha muda yang memiliki wajah tampan dan berwibawa. Untuk pria berusia 30 tahunan, Kala dapat dikatakan lebih matang dari pria seumurannya. Kharismanya yang luar biasa dapat menaklukkan hati wanita manapun yang bertemu dengannya.


Hanya ada satu wanita yang tidak dapat dia taklukkan. Kiara! Entah hati gadis itu terbuat dari apa, tetapi dia sama sekali tidak tertarik pada Kala.


Satu hal yang membuat Kala tertarik pada Kiara adalah, karena dia tidak tertarik dengan Kala. Hanya itu! Itu satu-satunya alasan yang membuat Kala semakin penasaran. Kiara bukan tipe gadis yang cantik atau menarik, tetapi dia mempunyai daya pikat tersendiri yang tidak dimiliki oleh gadis lain. Soal kepintaran, tidak perlu diragukan lagi.


Kali ini, rasa penasaran Kala semakin membesar saat gadis itu ternyata mantan kekasih Biru Bramasta. Kalau dipikir-pikir, antara dia dan Biru, tentu saja lebih kaya Biru. Apa karena itu, Kiara tidak tertarik padanya?


Begitulah yang ada di dalam pikiran Kala sejak kemarin. Saat rapat, Kala tidak dapat memusatkan perhatian sepenuhnya pada materi rapat. Kedua sudut matanya terus mencari Kiara dan dia biarkan penglihatannya itu memandangi gadis yang sedang asik membaca dokumen rapat.


"Bagaimana, Tuan Mahendra? Apakah Anda setuju kalau kita akan meningkatkan marketing dengan memakai metode digital yang lebih ramah lingkungan dan pastinya ajan tepat sasaran," kata salah seorang pegawai.


Kala berdeham dan kembali memusatkan perhatiannya pada laptopnya. "Ya, ya, ya, boleh begitu. Kalau kalian bisa melakukannya, lakukanlah yang terbaik. Aku setuju,"


"Kiara, selesai rapat temui saya di ruangan! Saya permisi dulu karena harus ada yang saya kerjakan," kata Kala beranjak dari kursinya.


"Tapi, Tuan, Anda belum menandatangani do-, ...."


"Berikan saja pada Kiara. Nanti dia akan mengantarkannya padaku," kata Kala sambil berlalu.


Sepanjang sisa rapat, gadis itu berpikir apa yang hendak dibicarakan oleh Kala? Apa dia akan meminta bantuan kepadanya? Kiara mengangguk yakin, dan kemudian bergegas menemui Kala di ruangannya.


"Kenapa kau kabur? Rapat belum selesai!" tukas Kiara sambil menyerahkan dokumen hasil rapat kepada Kala.


Tanpa basa-basi, Kala pun berkata, "Hari Sabtu besok, ikut aku ke pesta. Aku ingin kau berpura-pura menjadi kekasihku,"


Kedua bola mata Kiara membulat saat atasannya itu meminta dia untuk menjadi kekasih pura-pura. Dengan tegas Kiara menolak. Dia tidak ingin hal yang sama terulang lagi, walaupun kemungkinannya sangat kecil. "Tidak bisa dan aku tidak mau!"


"Anggap saja aku menyewamu dan uang bayaranmu sudah kutransfer ke rekeningmu dengan berita 'Bonus Kiara'," kata Kala enteng. Dia mengirimkan bukti resi pengiriman uang melalui ATM yang berada di ponsel Kala. "Kau lihat? Sudah, 'kan? Kau tidak bisa menolak lagi! Temui aku di sini hari Sabtu pukul 3 sore!"


Kiara mengerang dan meninggalkan Kala yang tersenyum puas memandangnya. "Aarggh! Sial! Kenapa, sih, harus terulang lagi! Lagi pula, pesta apa itu?"


Hari-hari berlalu dengan cepat seakan dilewati dan tiba-tiba saja sudah datang hari Sabtu yang ditakuti oleh Kiara. "Kenapa Sabtu-nya tidak bisa di skip saja, jadi langsung ke Minggu, gitu,"

__ADS_1


"Hahaha! Mana bisa, Ra. Lagi pula nikmati saja. Kalau jodoh, mau kau lari ke manapun, pasti akan terkejar," kata Renatha menyeringai.


Dengan enggan, Kiara memakai gaun terbaiknya dan segera bersiap-siap menata rambut serta merias wajahnya dengan bantuan Renatha.


Pukul 3 sore, gadis itu sudah berada di kantor, menunggu kedatangan Kala. Namun, alih-alih Kala, supir pribadi tuan besar itu datang untuk menjemputnya. "Nona Kiara?"


Kiara mengangguk dan segera saja, supir itu membukakan pintu untuk asisten kesayangan majikannya itu dan mempersilakan Kiara untuk masuk.


Supir itu membawa Kiara je sebuah gedung yang sangat megah dengan lampu-lampu gantung yang menghiasi atap gedung tersebut. Seorang pria berpakaian tuksedo one set, sudah menunggunya di depan pintu gedung.


Pria itu menghampiri Kiara dan menawarkan lengannya pada gadis itu. "Kau cantik,"


"Terima kasih dan bisakah kau beritahu aku ini acara apa?" tanya Kiara lagi sambil berjalan dengan anggun.


"Pesta para konglomerat. Saat ini, kau menjadi kekasihku dan aku akan memanggilmu 'Baby'. Berlatihlah dan panggil aku dengan sebutan Baby," kata Kala dengan berbisik.


Tanpa terasa , mereka sudah memasuki gedung megah itu. Kala menganggukkan kepalanya kepada setiap orang yang dia temui sambil memperkenalkan Kiara kepada mereka.


"Baby, kenalkan, ini Tuan Forester beserta istri. Beliau adalah pemilik perusahaan kepala sawit terbesar di kota New City," kata Kala.


Dengan sigap, Kiara menunduk dan menjabat tangan kedua pasangan itu. "Halo, Tuan dan Nyonya Forester,"


Begitulah, Kala memperkenalkan Kiara kepada setiap tamu yang datang yang ada di gedung tersebut. Sampai akhirnya, mereka bertemu dengan keluarga Mahendra. Betapa berbedanya Rajash Mahendra dengan Dirgantara Bramasta.


Tak perlu waktu lama bagi Kiara untuk merasa nyaman bersama dengan Tuan Mahendra. Mereka pun segera akrab satu sama lain seakan teman lama.


Sampai akhirnya, seorang wanita memanggil nama Kiara dengan suaranya yang sudah sangat dikenal baik oleh Kiara. "Oh, Kiara! Wow, bagaimana kau bisa sampai di sini?"


"Angeline," desis Kiara.


Melihat perubahan di wajah Kiara, Kala segera mendekat dan merangkul pinggang kekasih pura-puranya itu. "Siapa, Baby? Kenalanmu?"


Wajah Kiara mengeras dan dia tidak menjawab. Sorot matanya terpaku pada sosok pria yang berwajah masam yang ada di belakang Angeline.

__ADS_1


"Biru?" desis Kiara lagi.


...----------------...


__ADS_2