
Pagi itu, sebuah mobil mewah sudah terparkir rapi tak jauh dari rumah keluarga Pratama. Delia yang mengenali kendaraan itu sebagai mobil teman kerja putrinya pun bergegas memanggil Kiara.
Dia mengetuk pintu kamar Kiara dan membukanya. "Kiara Sayang, hari ini kau ke kampus, 'kan?"
Kiara yang sedang memasukkan buku serta laptopnya ke dalam tas mengangguk dan setelah selesai dia memandang ibunya. "Iyalah, kenapa, Ma?"
"Sepertinya teman kerjamu ada di depan. Atau itu mobil tetangga, ya? Tapi, bagus sekali! Persis dengan mobil yang waktu itu menjemputmu," kata Delia bersemangat. Dia merendahkan suaranya supaya tidak terdengar oleh Rendy.
Sebenarnya, Rendy tidak melarang Kiara untuk berpacaran atau berteman dengan lawan jenis, hanya saja dia meminta supaya putrinya itu fokus dulu untuk kuliahnya. Menurut Rendy, berpacaran dapat mengalihkan fokus, apalagi kalau sedang bertengkar atau putus. Pria itu tidak ingin Kiara gagal hanya karena seorang pria.
Mendengar penuturan dari wanita berusia 40-an tahun itu, Kiara menautkan kedua alisnya. "Masa, sih? Teman Kiara sudah lulus kuliah. Dia pasti bekerja dan tidak mungkin menjemput Kiara,"
"Ya, sudah, Kiara jalan dulu, ya, Ma," ucap Kiara lagi sembari berpamitan.
Gadis itu menghampiri ayahnya yang sedang menikmati kopi dan sarapan pagi. Rendy sudah tampak rapi dengan kemeja dan celana panjang bahan yang warna hitamnya sudah mulai memudar.
Hati Kiara seperti diremmas saat melihat pakaian ayahnya dan pagi itu, dia memutuskan untuk membelikan kemeja serta celana panjang juga sepatu untuk ayahnya. Tentu saja dia memperoleh uang dari hasih menjadi kekasih sewaan Biru.
Kiara menjadikan impiannya itu sebagai cambuk, sehingga dia dan Biru dapat segera mencapai tujuan akhir mereka yakni, orang tua Biru membatalkan pernikahan Biru dengan Angeline. Kiara harus berusaha lebih keras dan giat lagi saat bekerja.
"Pagi, Pa. Kiara berangkat dulu, ya," kata Kiara sambil mengecup pipi ayahnya.
Rendy memandangi putri semata wayangnya. "Tidak sarapan dulu, Ra? Papa buatkan roti, nih. Sengaja Papa buat untukmu. Bawa saja kalau tidak sempat. Papa bungkus roti lalu, nah, ini susu untuk anak Papa yang pintar,"
Dengan gerak cepat, Rendy menuangkan susu, dan memberikan gelas yang penuh berisi susu itu kepada Kiara. Tak lama, roti sandwich pun sudah masuk juga ke dalam tas putrinya itu.
Kiata tersenyum. "Terima kasih, Papa Kiara yang tampan,"
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Kiara pun bergegas menuju halte bus yang tak jauh dari komplek perumahannya.
Namun saat dia berjalan, dia melihat mobil Biru di rumah tetangganya. Benar saja, mobil itu membunyikan klaksonnya dan tak lama, kepala Biru menyembul dari jendela. "Psst, Ra! Naik cepat! Aku akan mengantarmu!"
__ADS_1
Kiara menggelengkan kepalanya dan terus berjalan. Akan tetapi, Biru terus mengikuti dengan mobil mewah hitamnya. "Ra, ada yang ingin aku bicarakan denganmu! Naiklah!"
Gadis berkepang dua itu bergeming. Dia tetap mengacuhkan Biru. Karena merasa terus diacuhkan, Biru menghadang Kiara dengan mobilnya. Lalu, dia keluar dari mobil dan dengan kasar menarik tangan Kiara untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa harus memaksa seperti ini? Sakit, tahu!" protes Kiara. "Lagi pula, kau harus memberikan kabar kepadaku kalau ingin bertemu. Begitu, 'kan, isi kontrak kita?"
Kedua tangan Biru sudah sibuk mengendalikan kemudi kendaraannya. "Aku tidak butuh kau menjelaskan isi kontrak! Pokoknya, mulai hari ini, aku akan selalu berada di sisimu!"
Kiara mengerenyitkan keningnya. "Kenapa tiba-tiba? Aku tidak suka dan aku tidak mau!"
"Menurut saja!" tukas Biru dengan nada memaksa.
Gadis peraih cumlaude selama kuliah itu, tidak mengerti apa maksud Biru yang tiba-tiba saja ingin berada di sisinya. Kalau ini termasuk ke dalam lingkup kerjanya, Kiara tentu menolak. Karena kata-kata 'selalu berada di sisimu' tidak ada dalam kontrak.
Isi kontrak yang sudah ditandatangani oleh Kiara dan Biru mengatakan, pertama selalu memberikan kabar jika ingin bertemu maksimal satu hari sebelum acara, kedua, tidak melibatkan perasaan, dan yang ketiga, jika salah satu dari mereka jatuh cinta kepada pasangan sewaannya atau sakit hati dan ingin mengakhiri perjanjian tersebut karena ulah salah satu dari mereka, maka perjanjian kontrak akan berakhir.
Menurut Kiara, Biru sudah melanggar kontrak nomor satu dan dua. Gadis itu mengemukakan protesnya kepada pria yang sedang fokus menyetir itu.
Biru masih tetap fokus dengan jalanan yang mulai terlihat ramai. Tujuan pemuda itu datang dan menjemput Kiara adalah ingin membuktikan kepada orang tuanya kalau dia dan gadis itu bersungguh-sungguh. Sehingga mereka akan membatalkan rencana perjodohannya dengan Angeline.
Selain itu, Biru juga ingin meminta maaf karena telah menyerey gadis itu masuk ke dalam kehidupannya serta bersedia dicaci maki oleh keluarga Bramasta. Selain itu juga, dia ingin berterima kasih karena Kiara telah bertahan dan bersikap profesional selama kemarin bertemu kedua orang tuanya.
Namun, entah kenapa kedua kata ajaib itu sulit sekali dia keluarkan dari mulutnya. Alih-alih mengucapkan terima kasih dan maaf, Biru memberikan sebuah kotak perhiasan berwarna merah yang terbuat dari beludru.
"Apa ini?" tanya Kiara menuntut.
"Itu bisa dibuka. Buka saja," jawab Biru datar. Tetapi, dia menggosok-gosokkan hidungnya dengan jari, pertanda kalau dia gugup.
Kiara membuka kotak beludru itu dan dia melihat seuntai kalung cantik dengan liontin ukiran namanya. "Apa ini?"
"Kalung, dong. Masa kau tidak tau kalung?" jawab Biru santai. "Itu untukmu. Aku minta maaf karena kejadian kemarin lalu, terima kasih karena kau hebat,"
__ADS_1
Wajah Biru memerah saat dia mengucapkan itu. Tak pernah dia sangka kalau pada akhirnya dia dapat berteman baik dengan gadis yang dia anggap telah mempermalukan dirinya di pesta dansa tersebut.
Kiara mendengus dan mengembalikan kalung itu. "Aku tidak mau! Aku melakukan ini semua karena kau sudah membayarku bukan karena aku bersimpati kepadamu. Terima kasih,"
Tak lama, mereka pun sampai di kampus Bright University. Kiara segera turun dan berlari tanpa berpamitan dengan Biru.
Sementara itu, Biru yang telah memutuskan untuk bertahan dan bahkan melakukan penyerangan secara halus kepada orang tuanya, menunggu Kiara sampai jam kuliah gadis itu selesai.
Walaupun marah-marah dan mengomel, Kiara masuk ke dalam mobil dan menerima niat baik Biru untuk mengantarnya.
Tidak hari itu saja Biru berusaha masuk ke dalam hidup Kiara. Akan tetapi di hari-hari lain, Biru tetap datang untuk mengantar jemput Kiara ke kampus.
"Seharusnya aku menolakmu dan kau tidak boleh sering-sering menjemputku seperti ini," kata Kiara suatu hari. Gadis itu takut, suatu saat akan timbul rasa nyaman dan ingin memiliki, itu berbahaya.
"Tidak masalah." Biru menanggapi kekhawatiran Kiara dengan santai.
Pemuda itu juga tak hanya mengantar jemput, tetapi juga mengajak Kiara untuk menghabiskan waktu bersama. Biru mengabulkan wishlist Kiara satu per satu. Kafe, mall, taman bermain, berbelanja, menonton bioskop, hal-hal yang sudah lama Kiara tidak rasakan. Bahkan, Biru mengajak Kiara ke kantor Oke Cupid dan mengenalkan gadis itu kepada Angkasa.
Suatu hari, Biru kembali mengajak Kiara ke rumahnya. Saat ini, Biru yakin kalau dia sudah memiliki chemistry dengan Kiara dan berharap orang tuanya akan melihat kedekatan hubungan mereka. "Orang tuaku ingin mengundangmu makan siang. Pakai saja apa yang menurutmu nyaman,"
Kiara mengangguk setuju. "Baiklah,"
Walaupun sedikit takut kepada tuan dan nyonya Bramasta, tetapi karena Biru telah mengajaknya bersenang-senang maka kini giliran Kiara membalas bayaran Biru dengan bekerja secara profesional.
Hari itu pun tiba dan tak disangka-sangka, Amanda menyambut Kiara dengan hangat. "Oh, datang juga. Masuk! Masuk!"
Namun saat mereka berdua masuk, seorang gadis cantik sudah menyambut mereka di ruang keluarga Bramasta. Dia mengambil Biru dari sisi Kiara dan mengecup pipi pria itu dengan lembut. "Hai, aku sudah menunggumu daritadi, lho,"
"Nah, Kiara, ini Angeline. Cantik, 'kan?" kata Amanda merangkul gadis cantik bak boneka barbie itu.
...----------------...
__ADS_1