Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Jangan Ikut Campur!


__ADS_3

Sementara Kiara sedang bimbang karena pernyataan cinta yang mendadak dari Kala, Biru diliputi perasaan marah kepada orang tuanya karena mereka memperlakukan Kiara layaknya seorang gadis murahan yang sangat jahat.


"Mama tidak berhak mengusir Kiara seperti itu! Dulu, ya, kami menjalin hubungan yang saling menguntungkan. Dia membutuhkan uang dan aku butuh dia! Tapi ternyata, akulah yang jatuh cinta kepadanya!" tukas Biru. Lalu, dia kembali mengambil foto resi di ponsel Amanda dan mengangkatnya. "Ini adalah resi lama! Mama bisa lihat tanggalnya!"


Napas Biru tersengal-sengal, baru kali ini dia merasakan marah yang meledak-ledak. Dia tak tahu lagi bagaimana menjelaskan masalah ini kepada orang tuanya dan sebelum itu, bagaimana dan darimana orang tuanya mengetahui hubungan dia dan Kiara dahulu?


"Kau tidak pantas berbicara seperti itu kepada ibumu!" tukas Dirgantara kesal.


Amanda pun menatap putranya itu dengan geram. "Kau selalu membela gadis itu! Apa yang sudah dia berikan kepadamu?"


Di saat Dirgantara dan Amanda berbicara bersahut-sahutan menyerang Biru, laki-laki muda itu juga seakan tak mau kalah. Dia mendebat kedua orang tuanya dengan lantang dan berani.


Sifat keras kepalanya diwarisi dari Dirgantara, sehingga malam itu, mereka saling berteriak dan tak jarang terdengar makian keluar dari mulut ketiganya.


"Darimana Mama dan Papa tahu tentang hal ini?" tanya Biru. Lalu kemudian, kedua matanya membesar. Dia tersenyum kesal sambil mendengus. "Angeline! Ya, 'kan? Kenapa, sih, perempuan itu harus selalu ikut campur urusanku? Apa mungkin hidupnya belum tenang kalau belum merusak hidupku?"


"Biru! Justru harusnya kau berterima kasih kepadanya! Kau disadarkan oleh Angeline! Buka matamu dan lihatlah, gadis macam apa Kiara itu?" tukas Dirgantara. Nada suaranya bertambah semakin tinggi.


Tak mau kalah, Biru pun meninggikan suaranya juga. "Ya, memang! Aku sadar kalau dia tidak pernah cocok untukku! Papa saja yang menikah dengan Angeline dan berbagilah dengan Mama!"


"Biru!" tukas Amanda dan Dirgantara bersamaan.


Keributan itu mungkin tak akan berhenti sampai pagi, jika salah seorang pelayan tidak mengetuk pintu kamar Biru dan mengatakan kalau makan malam sudah siap di meja makan.


Namun, Biru tidak berbelok ke meja makan, dia menyambar kunci mobilnya, dan segera saja menyalakan mesin kendaraannya lalu melaju menembus gelapnya malam. Berkali-kali dia berusaha menghubungi Kiara, tetapi gadis itu tak kunjung mengangkat panggilannya.


Hanya satu tujuan Biru, yakni, apartemen Kiara. Maka, pria itu pun menambah kecepatan mobilnya untuk pergi ke apartemen kekasihnya itu.

__ADS_1


Namun, sesampainya di sana, kamar apartemen Kiara kosong. Sahabat yang biasa menemani gadis itu pun tidak terlihat ada di dalam kamar.


Kedua alis Biru saling bertautan. Dia berpikir ke mana kira-kira Kiara pergi? Tiba-tiba, terlintas begitu saja di benak Biru untuk pergi ke rumah orang tua Kiara. Akam tetapi, dia mengurungkan niatnya itu.


Ponsel miliknya terus dia genggam. Nyaris satu menit sekali dia melirik ke arah ponsel bobanya tersebut. "Kau di mana, Ra?"


Merasa kesal dan frustrasi, Biru meninggalkan apartemen Kiara dan mendatangi rumah seseorang yang sudah membuat rencananya malam ini hancur berantakan.


Masih di malam yang sama, Kiara tertegun mendengar pernyataan dari atasannya itu. Walaupun dia tau, kalau Kala bisa bertindak lebih gila dari ini, tetapi Kiara tak pernah membayangkan kalau Kala sungguh-sungguh mencintainya.


"Kiara, jawab pertanyaanku! Kalau kau diam saja, berarti kau bersedia!" tukas Kala membuyarkan lamunan Kiara.


"Mana bisa seperti itu! Bisakah kau membiarkanku tenang! Kupikir kau mengerti kalau aku sedang kacau, ternyata, kau tetap saja tidak berperasaan! Cih, bos macam apa itu!" balas Kiara tajam.


Kala mengalihkan wajahnya dari gadis itu dan berdeham cukup keras. "Ehem! Kalau kau marah, berarti kau menolakku dan itu berarti kau menolak sebuah anugerah terindah yang datang ke hidupmu,"


Lagi-lagi wajah Kala merona. Pria mapan itu tiba-tiba saja menggenggam kedua tangan Kiara dan menghadap gadis itu dengan canggung. "Kiara, aku akan menunggumu untuk siap menerimaku. Hmmm, tapi, kau ingat, 'kan, kita akan mengadakan pesta pertunangan? Hahaha! Itu sungguhan, walaupun pura-pura, tapi itu sungguh-sungguh,"


Ingatan Kiara pun melayang ke beberapa minggu yang lalu. Di mana dia diundang ke pesta para pengusaha dan malam itu, Kala mengumumkan Kiara sebagai calon tunangannya.


Tak lama, dia mengeluh. "Aarghh, kau ada-saja, sih! Sudahlah, aku pulang sekarang!"


Kiara pun bergegas bangkit dari kursi taman dan berjalan keluar dari taman itu. Kala mengejarnya dan menggenggam salah satu tangan Kiara.


Mereka pun keluar dari kawasan restoran tenda itu sambil terus bercanda atau membahas sesuatu di luar pekerjaan mereka. Tak jarang, Kala melontarkan lelucon yang membuat Kiara terpingkal-pingkal.


Saat tiba di tempat Kala memarkirkan mobil, sebuah mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi dan hampir saja menyenggol Kiara.

__ADS_1


Dengan cepat, Kala mendekap Kiara, dan menjauhi tubuh gadis itu dari pinggir jalan. "Wih, dia pikir ini di arena sirkuit? Kau baik-baik saja?"


Kiara mengangguk, dia hanya sedikit terkejut. "Ya, aku baik-baik saja,"


Kala pun cepat-cepat membukakan pintu untuk gadis kesayangannya dan saat dia ingin masuk ke dalam kursi supir, seseorang datang, dan memukul rahangnya dengan kencang sehingga laki-laki itu terpelanting.


"Ouch!" tukas Kala sambil memegang rahangnya. "Kau? Kenapa kau menyerangku! Pengecut!"


Laki-laki itu mencengkeram pakaian Kala dan memukulnya sekali lagi dengan sekuat tenaga. "Kau yang pengecut!"


Melihat Kala diserang, Kiara tak tinggal diam. Gadis itu cepat-cepat turun dari mobil dan berusaha memisahkan kedua pria itu. Tepat pada saat itu, laki-laki yang menyerang Kala, hendak memukul atasannya itu kembali. Namun, Kiara menahan tangannya. "Biru, hentikan!"


Biru tersentak dan dia menarik tangan Kiara dengan kasar. "Kenapa kau bisa bersamanya?"


"Dia hanya mengajakku makan, tidak lebih," kata Kiara.


Tiba-tiba saja, Kala menarik tangannya yang lain. "Dia bersamaku dan kumohon, jauhi dia kalau kau tidak bisa membuatnya tersenyum,"


"Jangan ikut campur, Mahendra! Tidak ada urusannya denganmu, mau dia sedih atau bahagia!" balas Biru tajam. Matanya membesar menatap pria yang memakai tshirt berwarna hitam itu.


"Tentu saja ada! Dia calon tunanganku, seharusnya kau yang jangan ikut campur!" Kala berseru tak mau kalah.


Kiara memejamkan matanya dan kemudian dengan kasar, dia menyentakan tangannya. "Sudah kuputuskan! Aku bukan milik kalian berdua! Mulai saat ini, kalian berdua dilarang ikut campur tentang apa pun yang berhubungan denganku! Kecuali pekerjaan! Selamat malam!"


Kala dan Biru saling berpandangan dan mendesis kesal seperti dua ekor ular yang hendak saling menyerang memperebutkan makanan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2