
"Pergilah! Kembalilah pada Pria Menyedihkan itu!" seru Kala setelah sampai di kediaman mereka.
Kiara yang sedari tadi mengekor pada Kala, menarik tangan suaminya itu dengan kasar. "Ada apa denganmu? Aku hanya bertemu dengannya sebentar dan memberikan dia motivasi supaya tidak terpuruk! Bagaimanapun, dia pernah ada di hidupku, Kala! Mengertilah!"
Setelah tadi Kala memergoki Kiara dan Biru yang saling berpegangan tangan, darah pria itu seakan mendidih. Pria manapun pasti akan emosi dan marah melihat istrinya berpegangan tangan dengan mantan kekasihnya, apa pun alasan yang dikemukakan oleh mereka.
Yang membuat Kala semakin bingung, bagaimana bisa Biru memaksa Kiara untuk kembali dan menikah dengannya. Padahal, pria itu juga sudah merusak pesta pernikahan dirinya.
Saat ini, Kala mengepalkan tangannya menahan amarah. Dia tidak ingin membuat Kiara takut atau sakit karena melihat ledakan amarahnya. Dia menghela napas panjang. "Jadi, apa maumu? Bertemu dengan dia sampai kau puas? Apa kau tidak memikirkan perasaanku atau bahkan kenalanku atau rekan kerja ayahku yang melihat kalian berdua saling berpegangan tangan dengan mesra seperti itu? Katakan padaku, bagaimana kira-kira tanggapan mereka?"
Kiara terdiam. Kesempatan itu dipakai oleh Kala untuk membalaskan rasa sakitnya. "Maka dari itu, selagi aku masih baik, pergilah. Aku akan katakan kepada media dan ayahku, kalau kontrak kita habis,"
"Kontrak? Kontrak apa?" tanya Kiara semakin bingung. Saat rasa bersalahnya belum tuntas, rasa ingin tahu kini menyelimutinya.
Namun, Kala tertawaan saat melihat wajah bingung istrinya. "Hahaha! Kau ingat saat awal aku memperkenalkanmu kepada ayahku? Aku memakai jasamu sebagai kekasih sewaanku,"
Tawa itu dengan cepat menghilang dari wajah Kala. Dia kini menatap Kiara dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. Suaranya terdengar dingin dan datar. "Anggap saja, kontrak kita berakhir dan katakan saja, kau tidak ingin memperpanjang kontrak kita,"
Butiran bening terasa hangat membasahi kedua pipi Kiara. Dia mengusapnya cepat. "Kenapa harus seperti itu? Kenapa kau tidak ingin mempertahankanku dan pernikahan kita? Berjuanglah untukku,"
"Hahahaha! Kau selalu berhasil membuatku tertawa, Kiara Sayang," kata Kala tertawa kering. "Kau yang tidak mau kuperjuangkan dan kau juga yang tidak mau kupertahankan,"
Dahi Kiara berkeriut. Ini di luar dugaannya. Dia tak pernah membayangkan atau memperhitungkan Kala akan menemukannya sedang berdua dengan Biru. Kali ini, dia tak harus merespons seperti apa dan bagaimana.
Di dalam lubuk hatinya, Kiara tak ingin mengakhiri pernikahannya dengan Kala. Namun anehnya, di lain sisi, dia sedikit lega saat Kala memintanya untuk mengakhiri pernikahan ini.
__ADS_1
Akan tetapi, perasaan bersalah masih menggelayuti hati Kiara dan dia tidak tahu bagaimana menghilangkan perasaan tidak nyaman itu.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Kiara takut-takut.
Kala menggeleng. "Kau masih mencintainya, Kiara. Aku dapat melihat cinta itu dengan jelas di matamu,"
"Pergilah! Lagi pula, aku juga tidak terlalu mencintaimu. Aku sungguh-sungguh," sambung Kala lagi.
Kiara tau, Kala sedang berbohong kepadanya. Dialah yang paling berbahagia saat Kiara menjawab 'Ya' saat dia melamarnya. Kala juga yang terlihat sangat bersemangat saat mereka menyiapkan pesta pernikahan.
Kiara kembali terisak, dia gagal menahan laju air matanya."Kala, kumohon, jangan seperti itu,"
Namun Kala tetap menggeleng. Prinsip pria itu adalah sekali berselingkuh, maka seterusnya akan seperti itu. Daripada dia terus menggerus hatinya dengan rasa sakit, lebih baik, dia memutuskan apa yang seharusnya dia lakukan sejak lama.
"Kala, jangan seperti itu. Kumohon. Ayo, kita mulai lagi dari awal. Aku janji tak akan bertemu lagi dengan Biru, maafkan aku," pinta Kiara memohon.
Lagi-lagi Kala menggeleng. "Aku tidak ingin mendengar rintihanmu, permohonanmu, atau tangisanmu! Pergilah besok pagi dan kutunggu surat pengunduran dirimu beserta berita tentang hubungan kita,"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kala pergi meninggalkan Kiara di dalam kamar. Kiara hanya bisa memandangi punggung suaminya yang perlahan menjauh dan menghilang. Saat itulah, Kiara merasa sesak dan dingin. Lengan yang selalu memeluknya, tidak akan pernah lagi ada di sisinya.
Malam itu, Kiara menumpahkan semua rasa sesak dan sesalnya. Dia tak ingin berakhir, tetapi dia sadar apa yang telah dilakukannya sudah sangat menyakiti hati Kala.
Dia juga tak mungkin mengatakan kabar ini kepada kedua orang tuanya. Maka, gadis itu pun memberikan kabar kepada salah seorang wartawan kenalannya dan mengatakan apa yang Kala inginkan.
Keesokan paginya, semua media dihebohkan dengan pemberitaan bertajuk Kekasih Sewaan. Pagi itu pula, kediaman Kala serta rumah megah Rajash dipenuhi oleh para wartawan yang segera saja mengerubung penuh bagaikan semut yang mengerubungi gula.
__ADS_1
Tak hanya itu pula, di meja kantor Kala, terletak sebuah surat pengunduran diri dari Kiara. Kabar itu diberitakan oleh sekretaris pribadi Kala yang mengatakan kalau Kiara kemungkinan datang pagi-pagi sekali dan meletakkan surat itu di atas meja kerja Kala.
Kejutan dari Kiara tak berhenti sampai situ. Sekitar pukul 12 siang, gadis itu mengadakan konferensi pers. Sesuai keinginan Kala, dia mengatakan kalau pernikahannya dengan putra Mahendra itu hanyalah kontrak semata tanpa tujuan apa pun dan hal itu tak ada hubungannya dengan bisnis, karena saat itu hubungan mereka hanyalah sebatas hubungan yang saling menguntungkan.
Setelah selesai mengadakan konferensi pers, ponsel Kiara tak berhenti berdering. Dia mematikan ponselnya dan pergi menyendiri ke sebuah pantai. Hanya ada dia dan ombak yang terdengar seakan berlomba-lomba menuding kesalahan kepadanya.
"Aku tau aku salah! Bisakah kalian berhenti mengalahkanku? Maksudku, tenanglah!" kata Kiara bergumam seorang diri. "Aku jahat, aku tau itu! Aarrgghh! Kalian membuatku membenci diriku sendiri! Aku kesal!"
Berjam-jam dia menangis dan sesenggukan seorang diri. Hingga dia mendengar seseorang memanggil namanya. "Hei, Kiara Gadis Sewaan! Aku tau kau pasti membutuhkanku,"
Kiara mengusap air matanya dan menoleh ke sumber suara. "Biru? Tau darimana aku ada di sini?"
"Sudah kukatakan, aku masih mencintaimu. Suara hatimu berteriak dan sampai kepadaku," jawab Biru menghampiri lalu duduk di sisi gadis bermata sembab itu. "Dia menceraikanmu?"
"Gara-gara kau! Seharusnya aku tidak mengikuti Angkasa! Tapi, ide itu keluar dariku! Aarrgghh, bodoh sekali aku ini!" ucap Kiara kesal.
Biru memeluknya dan mengusap lengan gadis itu dengan lembut. "Kau melakukan itu karena kau mencintaiku. Andaikan kau tidak mencintaiku, kau tidak akan memperhatikanku seperti ini. Suamimu, maksudku, mantan suamimu mengetahui itu,"
"Mungkin," balas Kiara singkat. "Lalu, apa rencanamu? Saat ini, aku sudah menyandang status janda. Menyedihkan sekali,"
"Temuilah orang tuaku. Ayo!" kata Biru sambil mengulurkan tangannya. "Kita akan menikah. Oh, sebelum itu, maukah kau menikah denganku?"
Kiara menengadahkan kepalanya, menatap pria yang berdiri di hadapannya, dan perlahan-lahan berlutut itu. Pria itu penuh dengan senyum dan wajahnya ceria, menunggu jawaban darinya.
...----------------...
__ADS_1