Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Keputusan Mendadak


__ADS_3

"Apa! Kau ingin menikah dengan Biru? Astaga, Kiara! Papa bingung apa sebenarnya yang sedang kau lakukan saat ini! Kau menikahi Kala dan tidak sampai tiga hari, kau mengumumkan perceraianmu dengannya, lalu sekarang, kau mengatakan ingin menikahi Biru! Di mana mau kau letakkan harga diri ayah dan ibumu, Nak?" tukas Rendy dengan emosi yang berapi-api. "Lagi pula, bagaimana kau akan berhadapan dengan orang tuanya? Ampun, Kiara, Papa pusing!"


Kiara hanya tersenyum simpul melihat reaksi ayahnya. Dia sudah membayangkan bagaimana ayah dan ibunya itu akan merespons permintaannya.


Tak hanya Rendy, Delia sang ibu pun rasa-rasanya sulit untuk menerima keinginan putrinya tersebut. Bagaimana bisa dalam waktu tiga hari, Kiara sudah meminta untuk menikah kembali. Berkali-kali Delia hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang dengan kasar.


"Orang tua Biru sudah menerima Kiara, kok, Pa. Ini tidak ada hubungannya dengan Kala, kar-, ...."


"Mau sudah menerima atau belum, tidak sepantasnya kau bermain-main dengan sebuah pernikahan, Kiara! Pernikahan itu sakral dan suci! Kemarin kau mengucapkan sumpah dihadapan Tuhan, lalu, dengan santainya kalian mempermainkan sumpah itu! Baik Mama, Papa, ataupun Papa Rajash sungguh kecewa dengan sikap kau dan Kala! Bisa-bisanya kalian mempermainkan sebuah pernikahan!" tukas Delia yang kini ikut angkat bicara.


Kiara menunduk. Dia sudah menebak jawaban serta reaksi kedua orang tuanya yang pasti akan menentang keputusannya tersebut.


Keputusan Kiara untuk menikah dengan Biru memang dia akui terlalu terburu-buru dan terkesan seperti bermain-main. Namun, rasa cinta yang mereka berdua rasakan, tak pernah mereka anggap menjadi sebuah permainan.


Hari itu di pantai, Biru menyatakan cintanya kepada Kiara sekaligus melamar gadis itu. Kiara sudah memikirkan lamaran Biru itu selama beberapa hari dan pada akhirnya, dia memutuskan untuk menerima lamaran Biru untuk menjadi istrinya.


"Tidak ada pernikahan lagi!" sahut Rendy tegas. Seolah menyetujui sang suami, Delia ikut mengangguk mantap walaupun tanpa kata.


Kiara menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sedih dan bingung. Setelah itu, dia berpamitan dan kembali ke apartemennya.


Setibanya di sana, dia melihat Renatha sedang sibuk berselancar di depan laptopnya sambil berbicara dengan calon suaminya dari ponsel. Mereka berdua tampak asik dan seru sekali saat membicarakan tentang pesta pernikahan yang akan mereka adakan di akhir bulan ini.


Kiara merasa sedikit iri. Mengapa hidupnya tiba-tiba menjadi rumit dan berantakan dalam satu malam? Dia tidak punya pekerjaan, pernikahannya hancur, dan saat ini, entah apa yang akan dia lakukan untuk masa depannya. Kiara tidak tahu.


Begitu melihat sahabatnya masuk, Renatha segera menyudahi percakapannya, lalu memeluk Kiara erat. "Hei, bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


"Aku menggila, hehehe," jawab Kiara dengan suara tercekat. Butiran air mata yang lama ditahannya, kini berangsur-angsur turun bak hujan.


Dalam waktu beberapa menit, suasana di ruangan apartemen Kiara dan Renatha hening dan hanya terdengar suara isak tangis.


"Apa yang membuatmu menangis? Rasa sesal? Rasa bersalah? Atau kau sedih karena tidak dapat bersama Biru?" tanya Renatha.


Kiara mengusap air matanya. "Segalanya, Re. Hanya dalam waktu tiga hari, aku menenggelamkan semua mimpi dan merusak masa depanku. Tapi di lain sisi, aku lega karena aku tidak perlu memaksa diriku untuk terus mencintai Kala,"


"Apa kau bahagia saat ini, Ra?" tanya Renatha cemas.


Kiara mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Aku rasa emosiku sudah mati. Aku tidak dapat merasakan apa pun,"


Renatha kembali memeluk sahabatnya itu dengan lembut. Membiarkan semua perasaan yang dirasakan oleh Kiara tumpah melalui pelukan.


"Apa yang kau inginkan saat ini?" tanya Renatha lagi.


Lagi-lagi mereka berhasil menciptakan suasana hening di dalam apartemen itu. Sampai akhirnya, Kiara bersuara lirih dan mengatakan kalau dia ingin menikah dengan Biru dan hidup bahagia bersamanya.


"Lalu, bagaimana dengan orang tuanya?" tanya Renatha. "Bagaimana pula dengan orang tuamu, Ra? Apa mereka setuju?"


Kiara pun menjelaskan bagaimana kedua orang tuanya. "Orang tuaku tidak, tapi orang tua Biru sudah setuju,"


"Apa kau sudah bertemu dengan mereka? Darimana kau tau kalau kedua orang tua Biru sudah merestui hubungan kalian? Kau hanya mendengarnya dari Biru, 'kan? Status pernikahan Biru dengan Angeline bagaimana? Kau tidak lupa dengan itu, 'kan?" tanya Renatha penuh selidik.


Hati Kiara mencelos. Dia memang belum diajak untuk bertemu dengan orang tua Biru. Hampir saja dia melupakan Angeline karena kemunculan Biru dan segala ucapan manis yang diberikan oleh pria itu kepadanya.

__ADS_1


Namun, dia sudah membulatkan tekad untuk tetap menjalani keputusan yang sudah diambilnya, yaitu, menikahi Biru. Rasa rindu dan cinta Kiara kepada pria itu, sudah tidak dapat dibendung lagi.


"Tapi, Re, aku ingin hidup bersama Biru dan menua bersamanya. Entahlah, mungkin karena dia cinta pertamaku dan dia juga segala-galanya untukku," kata Kiara berkilah.


Renatha mengangkat kedua bahunya lalu mengangkat kedua tangan. "Aku menyerah kalau begitu. Aku hanya memberimu masukan. Pikirkan lagi sebelum kau menikah dengannya. Bagaimana dengan orang tuanya, bagaimana dengan Angeline, apakah mereka masih hidup bersama, atau sudah berpisah. Menurutku, lebih baik kau hidup sendiri. Kau lebih oke saat sendiri, Ra,"


Kiara terdiam. Saat ini rasa ingin menjauh dari drama percintaan memang lebih besar dibandingkan dengan keinginannya untuk menikah dengan Biru. Akan tetapi, apa yang harus dia lakukan saat dia butuh seorang teman?


Seolah menjawab keraguan Kiara, Renatha pun buka suara, "Kalau kau kesepian atau membutuhkan seorang teman, aku akan ada untukmu 24 jam. Bahkan, aku akan meminta kekasihku untuk mengajakmu berbulan madu bersama kami,"


Mendengar hal itu, sontak saja, Kiara tertawa. Setelah tenang, gadis itu kembali memikirkan usulan dari sahabatnya itu. Dia sedikit tergoda untuk menghabiskan waktunya seorang diri.


Maka, keesokan harinya, dia bertemu dengan Biru dan mengatakan kalau dia akan menunda pernikahannya dengan laki-laki muda itu.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin sendiri? Kemarin kau sudah setuju untuk menikah denganku, Ra!" tanya Biru sedikit kecewa dan curiga karena keputusan mendadak yang diberikan oleh Kiara.


"Angeline dan kedua orang tuamu. Sampai detik ini, kau belum menjelaskan tentang Angeline dan kau juga belum mengajakku untuk bertemu dengan kedua orang tuamu," kata Kiara. "Pernikahan Renatha tinggal satu minggu lagi dan setelah dia menikah, mungkin aku ingin menenangkan diriku sendiri di suatu tempat yang baru,"


Biru tak bisa berkata-kata. Ketika Kiara sudah membuat keputusan, maka tidak ada orang lain yang sanggup mematahkan keputusannya tersebut, kecuali, Renatha. Makhluk itu berbeda, begitulah yang dipikirkan oleh Biru.


"Ayo, ikut ke rumahku!" kata Biru akhirnya. Dia menggandeng tangan Kiara dengan kasar dan menariknya.


Kiara menepiskan tangan Biru. "Untuk apa? Aku tidak ada persiapan?"


Biru berdecak, lalu, mengambil tangan kecil itu lagi. "Ikut saja! Setelah itu, semua keputusan ada di tanganmu, Ra!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2