
3 tahun kemudian,
"Kiara oh Kiara! Bisa-bisanya kau kembali bersama mantanmu itu. Sampai sejauh ini pula dan kau mendahuluiku. Oh, aku iri sekali!" ucap Renatha sambil mengusap perut seorang wanita yang terlihat membesar.
Wanita berkuncir satu itu terlihat bahagia saat sahabat baiknya itu mengusap perutnya dengan tatapan iri. Dia tersenyum dan menginjak ibu jari kaki Renatha hingga wanita berkulit hitam manis itu menjerit kesakitan. "Ouwh! Kenapa kau menginjakku?"
"Supaya kau tertular, hehehe," jawab wanita bernama Kiara itu.
Mereka berdua saling menginjak dan tertawa. Tiga tahun yang lalu, di saat Renatha menikah dan akan berbulan madu, Kiara memutuskan untuk ikut dengan sahabatnya itu, hanya saja dia memilih tempat yang berbeda dengan mereka walaupun penuh dengan perdebatan dan penolakan dari Renatha.
Di saat Kiara sudah memutuskan, Biru datang dan mengajaknya untuk bertemu dengan keluarganya. Tentu saja Kiara menolak ajakan itu.
"Tidak mau! Setelah kupikirkan, aku belum siap untuk menikah denganmu, Biru. Aku takut," kata Kiara saat itu.
"Kenapa kau bercerai dan kembali kepadaku? Kenapa mantan suamimu mengatakan kalau kau masih memikirkanku? Kenapa juga kau peduli denganku, Ra? Kasihan atau cinta?" tanya Biru mendesak.
Kiara menghela napas panjang. Dia berusaha memenuhi rongga paru-parunya supaya memiliki kekuatan untuk menghadapi Biru saat itu. "Aku sendiri tak tau apa yang aku mau, Biru! Aku bingung karena ini semua terjadi begitu cepat! Aku mencintaimu, ya, dan di sisi lain hatiku, aku juga mencintai Kala, dan aku tidak dapat memungkiri itu. Hatiku sakit kalau aku mengingat Kala mengusirku dan memintaku menceraikannya,"
Keheningan kini menggelayuti kedua insan yang sedang tersesat dalam sebuah hubungan rumit itu. Keduanya terdiam dan menatap. Hanya hati mereka yang saling mencari jawaban serta kepastian.
"Kau memilihku?" tanya Biru dengan takut-takut. Dari apa yang dia dengar dari Kiara, gadis itu memilihnya walaupun dengan perasaan bersalah.
Kiara menggeleng. "Entah sejak kapan hidupku jadi tidak beraturan seperti ini. Dulu, aku penuh dengan rencana dan perhitungan. Aarrgghh, aku sedang dalam fase membenci diriku sendiri. Ikut sajalah dan temani aku di sana, tapi, ketika aku mengatakan aku ingin sendiri, tolong jauhi aku,"
Biru yang masih belum mengerti maksud Kiara pun mengerenyitkan keningnya. "Ikut? Ikut ke mana?"
"Ikut sajalah!" ujar Kiara.
Karena kepasrahan Biru, pada akhirnya mereka berdua bergabung bersama Renatha beserta suaminya berbulan madu. Tentu saja, Renatha tidak berkeberatan, dia malah senang karena sahabatnya ikut bersamanya.
"Kau tidak iri? Kau belum sempat merasakan bulan madu, kan?" goda Renatha di perjalanan.
__ADS_1
Kiara mencebik. Sempat terlintas di benaknya alangkah bahagianya dia kalau saat ini dia pergi bersama dengan Kala dan bukan Biru.
Kiara dan Renatha memang membuat acara bulan madu mereka di tempat yang sama. Bahkan mereka sudah menyusun apa saja yang akan mereka lakukan bersama pasangan masing-masing saat berbulan madu dan saat ini, yang ada di sampingnya adalah Biru, bukan orang yang terlalu dia harapkan untuk pergi ke tempat impiannya.
Sepanjang perjalanan menuju tempat impiannya, Kiara hanya terdiam. Sesekali dia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Pikirannya hanya dipenuhi oleh sosok mantan suaminya. Apa yang sedang dilakukan oleh Kala? Bagaimana kabar pria itu? Ingin sekali dia datang dan meminta maaf kepadanya.
Setibanya di tempat liburan, Renatha beserta suaminya segera menuju kamar hotel yang sudah mereka pesan. Sedangkan, Biru dan Kiara saling berpandangan.
"Full booked?" tanya Biru pada resepsionis yang menjaga di lobi hotel.
Resepsionis wanita itu mengangguk dan memasang wajah bersalah. "Iya, Tuan. Hotel kami memang diperuntukkan bagi pasangan pengantin yang ingin berbulan madu atau pasangan yang ingin mengadakan pesta pernikahan di sini,"
Tiba-tiba saja, Kiara teringat pesanan kamar hotel atas namanya dan Kala. "Adakah kamar atas nama Tuan Mahendra yang dipesan seminggu yang lalu?"
"Sebentar, Nyonya," kata resepsionis itu lagi dan tak lama, dia sudah sibuk dengan layar komputernya. Setelah sekian menit mencari, wanita itu kembali mendongakkan wajahnya sambil tersenyum. "Ada. Apakah Anda Nyonya Mahendra?"
Kiara tersenyum kecut. "Sudah bukan, tapi, apakah kami bisa memakai kamar itu?"
Cepat-cepat Kiara menghentikan gerakan wanita resepsionis itu yang hendak menelepon Kala. "Tidak perlu. Kami akan mencari tempat lain saja toh keperluan kami hanya bekerja di sini. Terima kasih untuk perhatian Anda, Nona Adele,"
Setelah itu, dia menyeret Biru untuk keluar dari hotel tersebut sambil memaki resepsionis yang bernama Adelia tersebut. "Pegawai macam apa itu! Tidak punya sopan santun! Mau aku menikah pura-pura atau menikah sungguhan, tidak ada urusan dengannya!"
"Ahem! Apa kau tak pernah tahu siapa pemilik hotel ini? Tertera di namanya di sana itu, besar sekali," tanya Biru menunjuk pada barisan huruf besar yang tertata rapi di atas sebuah bukit kecil di depan hotel itu. "Mahendra Dewata Hotel,"
Kiara menyunggingkan senyumnya. "Pantas saja,"
Mereka berdua pun mencari hotel yang tak jauh dari sana. Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan tempat untuk menginap selama satu minggu. Beruntunglah, mereka berhasil mendapatkan kamar terpisah.
Tak lupa, Kiara memberitahukan kepada Renatha di mana tempat dia menginap. Namun sayang, ponsel sahabatnya itu tidak aktif. "Yash, bulan madunya sudah dimulai. Aku menyesal kenapa aku ikut dengannya,"
Menjelang malam, Kiara mencoba mengirimkan pesan kepada Kala. "Hei, aku sedang di tempat bulan madu kita. Aku ingin bertemu dan meminta maaf dengan benar kepadamu. Percaya atau tidak, tapi aku ingin kau ada di sini bersamaku,"
__ADS_1
Pesan itu hanya terkirim tanpa terbaca hingga malam tiba dan Biru mengetuk pintu kamar hotelnya. "Ra, makan, yuk! Aku lapar,"
Tak lama, Kiara keluar dengan memakai kaus sederhana dengan outer serta celana pendek dan sandal jepit. Wanita itu terpana melihat penampilan Biru yang dinilai terlalu formal untuk acara liburan. "Kau mau fine dining? Rapi sekali pakaianmu,"
Biru mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku berjaga-jaga saja,"
Mendengar hal itu, Kiara kembali membuka kamar hotelnya dan mengganti pakaian serta alas kakinya. Setelah lima menit berlalu, mereka pun sudah melaju untuk mencari sebuah restoran.
Mereka pun tiba setelah menempuh waktu sekitar 20 menitan di restoran bergaya santai. Restoran itu memiliki sebuah bar, sehingga setelah makan malam, mereka berdua memutuskan untuk menghabiskan waktu di bar itu.
Kiara terlihat sangat menikmati waktunya berdua dengan Biru. Mereka tertawa dan dengan cepat, dia sudah melupakan pesannya kepada Kala. Gelas demi gelas, botol demi botol sudah mereka habiskan.
"Ooh, kepalaku pusing! Sialan sekali aku melemah!" ucap Kiara sambil berjalan oleng.
Dengan sigap, Biru menangkapnya. "Kau sedang mabuk tapi bagaimana caranya kau tetap menarik di mataku, Ra,"
Lama mereka terdiam dan kedua netra mereka sambil bertemu serta memaku. Entah siapa yang memulainya, mereka larut dalam sebuah pagutan yang memabukkan malam itu.
"Lalu, kalian menikah begitu tau kau hamil?" tanya Renatha tak percaya saat mendengar cerita Kiara. "Bagaimana dengan orang tuanya?"
Kiara tersenyum nakal. "Mereka menerima kami dengan baik dan Dirgantara menangis dan meminta maaf dihadapan ayahku. Terharu sekali aku saat itu, Re. Luar biasalah pokoknya. Seperti sudah diatur karena segalanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Kurasa Biru benar-benar jodohku,"
"Mungkin saja dan semoga kau terus bahagia ya, Ra. Lalu, bagaimana dengan Kala? Apa kau sudah mendengar kabar darinya?" tanya Renatha lagi penasaran.
"Dia baik-baik saja. Kudengar dia akan menikah dengan sekretaris barunya. Syukurlah," jawab Kiara dengan wajah penuh syukur.
Renatha mengangguk-angguk. "Ya, semoga kalian semua berbahagia dan kisah ini akan berakhir bahagia juga,"
Kiara memeluk sahabatnya itu dengan sayang sampai mereka dipisahkan oleh Biru yang datang tiba-tiba. "Hush! Hanya aku yang boleh memeluknya,"
Renatha melepaskan pelukan itu dan mencubit Biru dengan gemas sembari tertawa.
__ADS_1
...----------------...