Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Kabur!


__ADS_3

"Pa! Papa! Biru tidak ada di kamarnya, Pa! Mobil atau motornya, ada tidak, Bi? Bisa tolong dicek? Aduh, jantungku! Papa mana, sih? Papa! Ish, Papa!"


Pagi hari itu ramai oleh suara panik Amanda. Ya, saat meminta putra tunggalnya untuk sarapan, dia melihat Biru sudah tidak ada di kamarnya lagi. Ranjangnya rapi dan bersih, seperti tidak ditiduri semalaman.


Napas Amanda mulai sesak, gangguan panik mulai menyerangnya. Dengan tertatih-tatih, dia berjalan ke ruangan suaminya. Karena sejak dia bangun tidur tadi, Dirgantara tidak ada di sisinya. Hanya ada 1 tempat yang dia tau pasti akan dikunjungi oleh suaminya itu. Ruangan kerja Dirgantara.


Satu lagi alasan, mengapa Dirgantara tidak merespon panggilannya, pria itu pasti sedang melakukan telekonferens atau sedang menghubungi seseorang.


Benar saja, begitu Amanda masuk ke dalam ruang kerja Dirgantara, ayah satu anak itu sedang melakukan virtual meeting dengan koleganya. Dia hanya memberikan telapak tangannya untuk menahan Amanda agar jangan berbicara dulu.


Setelah kira-kira 5 menit, Dirgantara menutup laptopnya dan menghampiri Amanda. "Kenapa kau berteriak histeris tadi?"


Dengan lembut, Dirgantara memeluk pinggang ramping istrinya dan mengecup bibir yang belum dipulas lipstik milik Amanda. "Biru, ya? Kenapa lagi anak itu?"


"D-, dia kabur, Pa. A-, aku tadi ke kamarnya tapi dia ngga ada. Dia tidak membawa apa pun, bahkan ponselnya saja dia tinggal," kata Amanda terisak-isak. Butiran air matanya mulai menganak sungai membasahi pipinya.


Dirgantara mengusap air mata yang mengalir dari mata istrinya itu. "Aku rasa dia tidak akan pergi jauh. Lagi pula, kalau dia membawa kartu ATM atau kartu kredit, kita bisa melacaknya, 'kan? Jangan terlalu dipikirkan,"


Ucapan lembut penuh penghiburan itu dibalas dengan sebuah pukulan kecil di lengan Dirgantara. "Kau santai sekali, Pa! Mana bisa Mama seperti Papa, 'kan? Mama tetap mau cari Biru!"


"Dia pria dewasa, Ma! Lagian Mam mau cari ke mana? Yang namanya kabur, tidak mungkin dia meninggalkan jejak untuk ditemukan, 'kan? Biarkanlah dia menenangkan dirinya dulu, Biru sedang berusaha menjadi pahlawan untuk anak gadis Pratama. Bersabar sajalah," hibur Dirgantara lagi. "Buka saja ponselnya dan kita akan mencoba menghubungi teman dekatnya,"


Amanda mengangguk-angguk dalam pelukan suaminya, sesekali dia membersitkan hidung dengan selembar sapu tangan yang selalu dia bawa ke manapun dia pergi.


Wanita itu tidak pernah menyangka kalau putra tunggalnya akan berbuat nekat seperti ini. Bahkan sampai tidak membawa apa pun! Di tengah isakannya, tiba-tiba saja mata Amanda membulat. "ATM! Mama akan cek kartu ATM Biru!"

__ADS_1


Dia keluar dari ruangan kerja suaminya dan masuk ke dalam kamar Biru. Wanita cantik berambut keriting gantung itu membuka semua tas dan laci putranya, hanya untuk mencari kartu.


"Ini kartu ATMnya, dia sengaja meninggalkannya di bawah ponsel," kata Dirgantara yang ternyata ikut bergabung bersama istrinya. Keningnya berkeriut dan dia berkacak pinggang sambil berpikir ke mana kira-kira putranya itu pergi.


Sambil berpikir, dia menyalakan ponsel Biru. Namun sayangnya, dia diharuskan memasukan password ke dalam ponsel itu, dan sialnya lagi, kartu sim ponsel Biru tidak ada. Jadi ponsel itu dalam keadaan kosong dan terkunci. Dirgantara mendengus, diam-diam dia memuji ide putranya.


"Bagaimana ini, Pa? Ke mana kita harus cari Biru?" Amanda kembali menangis sesenggukan.


"Kita cari bersama-sama sambil Papa berusaha untuk membuka ponsel Biru. Dia mencabut kartu sim-nya, sehingga kita tidak bisa melacak di mana dia saat ini. Kecuali kalau dia menyimpan kontak teman-temannya di dalam ponsel," kata Dirgantara berusaha menghibur istrinya itu. "Mama belum sarapan, 'kan? Makan dulu, yuk, temani Papa,"


Amanda mengangguk kecil dan dia berjalan bersama suaminya. Mereka meminta pelayan untuk menghidangkan makanan di meja makan.


Sementara itu, di malam sebelumnya, Biru sedang mengemas beberapa barang yang dianggapnya penting untuk dia masukan ke dalam tas pinggangnya.


("Apartemen. Kenapa?") jawab Angkasa balik bertanya.


Biru menyunggingkan senyumnya. "Aku akan ke rumahmu malam ini. Aku minta kunci kantor,"


("Untuk?") tanya Angkasa bingung. Bagaimana dia tidak bingung, Biru menghubunginya malam-malam sekali, dan membangunkan dia dari tidurnya. Lagi pula, untuk apa dia meminta kunci kantor Oke Cupid?


Selagi Angkasa menunggu Biru datang, dia masih mencoba menerka-nerka apa kira-kira yang terjadi pada sahabatnya itu. Biru bukanlah tipe pria yang biasa bercerita. Dia terlalu sering memendam perasaan serta masalahnya sendiri.


Karena itu, Angkasa pun kesulitan dan tidak tau bagaimana cara membantu sahabatnya itu. Apa ini ada hubungannya dengan Kiara?


Tak lama, Biru datang tanpa mobil mewah atau motor besar yang biasa dia pakai. Biru datang dengan menggunakan jasa ojek pangkalan. Bahkan dia meminta Angkasa untuk memberinya uang dalam jumlah kecil.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Dia anak konglomerat, tidak pernah membawa uang kecil," kata Angkasa pada bapak ojek yang mengantarkan Biru.


Setelah itu, Angkasa mengajak Biru untuk masuk ke dalam apartemennya. Apartemen berukuran studio itu hanya dilengkapi dengan satu ranjang kecil, satu sofa panjang, meja makan sekaligus meja untuk kerja, lemari pendingin, serta peralatan kantor milik Oke Cupid yang menumpuk asal di sudut ruangan itu.


"Kuncinya mana?" tanya Biru tanpa basa-basi.


Angkasa menggelengkan kepalanya. "Kalau kau tidak jelas, aku tidak akan memberikannya kepadamu,"


"Ck! Apa kau tau, sahamku lebih dari 59% ada di Oke Cupid, jadi secara tidak langsung itu milikku!" kata Biru bersikeras. Setelah dia berbicara seperti itu, dia tertegun. Apakah ini yang dilakukan oleh ayahnya kepada Rendy Pratama?


Biru menghela napas panjang. Dia tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Setelah tenang, dia menghempaskan tubuhnya di sofa panjang, lalu berbaring telungkup. "Sa, malam ini sampai malam-malam berikutnya, aku akan menginap di sini. Bayarnya kita bagi dua. Bagaimana?"


Angkasa menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal. Dia benar-benar tidak paham apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. "Apa yang terjadi denganmu? Orang tuamu bertengkar? Kau bertengkar dengan Kiara?"


"Biarkan aku tenang dulu, Sa. Kepalaku mau meledak rasanya," kata Biru dari dalam bantal.


Sebagai seorang sahabat sekaligus partner kerja, Angkasa menghormati setiap keputusan Biru. Maka, dia keluar dari apartemennya dan membiarkan Biru berteman dengan pikirannya sendiri. "Aku akan membelikan minuman untukmu. Istirahatlah,"


Dua buah ibu jari terangkat untuk Angkasa. Sebelum Angkasa membuka pintu, Biru memanggilnya. "Sa, pinjam ponselmu atau ponsel kantor. Atau ponsel bekas juga tidak masalah. Aku tidak membawa apa pun ke sini. Hanya membawa ini,"


Biru menunjukkan kartu sim ponsel kepada Angkasa dan laki-laki itu menggelengkan kepalanya lelah. Dia mencari di nakas dan menemukan ponsel lama yang kondisinya masih cukup bagus. "Pakai ini dulu, lagi pula kalau kau kabur, kenapa kau bawa kartu sim-mu? Harusnya, kau tinggalkan saja semua di sana,"


"Kau benar juga," kata Biru tersenyum lebar, dan dengan wajah tanpa dosa, dia mematahkan kartu mungil itu menjadi dua. Setelah itu, dia mengadahkkan tangannya kepada Angkasa. "Apa kau punya kartu sim baru?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2