
"Kiara Pratama, maukah kau menjadi kekasihku lagi?"
Pernyataan Biru di lobi kantor Rajash Globalindo Corporation istirahat siang itu menggema ke seluruh gedung. Dengan membawa sebuah pengeras suara yang sering dipakai di sebuah rumah ibadah, Biru berjalan dengan penuh percaya diri dan sekali lagi dia mengudarakan suaranya. "Panggilan untuk Kiara Pratama, aku menunggu jawabanmu di bawah sini. Lihatlah aku, Kiara Pratama! Aku mencintaimu dengan segenap hati dan seluruh jiwa ragaku, jadi maukah kau mencintaiku seperti itu juga?"
Kiara yang saat itu baru saja selesai rapat, tertegun mendengar suara samar-samar yang memanggil dirinya. Tak hanya Kiara, tetapi seluruh ruangan yang berada di lantai 25 itu dapat mendengar suara Biru yang lantang menggema.
"Kiara, bukannya itu untukmu, ya?" tanya Aileen menatap kiara penuh rasa ingin tahu.
Kiara tersenyum kecut dan sebelum dia melangkah keluar dari ruang rapat, Kala datang dan menutup pintu itu rapat-rapat. Raut wajahnya tampak kesal dan geram. "Jangan keluar! Orang gila itu, dia pikir apa yang dia lakukan di sini! Mengacaukan kantor orang seenaknya sendiri!"
"Itu Biru?" tanya Kiara tak percaya.
Kala mengangguk gusar. Sambil menyugar rambutnya, dia menahan pintu di belakangnya supaya Kiara tidak menyelinap keluar. "Siapa lagi yang bisa ugal-ugalan seperti itu? Aku juga mencintaimu, jadi jangan kau berani pergi menemui dia! Tetaplah di sini!"
Sementara itu, Biru masih menunggu kemunculan gadis yang dia cintai di tengah-tengah lobi. Dia tidak peduli kalau saat itu dia menjadi pusat perhatian orang-orang. Dia juga tidak peduli akan bisikan-bisikan serta lirikan tajam yang mengarah kepadanya.
Namun tidak semua seperti itu, beberapa gadis yang lewat memberikan semangat kepada Biru dan bahkan mereka terang-terangan mengajak Biru berkencan dengan mereka jika cintanya ditolak, mengingat kabar pertunangan Kiara dengan Kala yang bukan lagi menjadi rahasia umum.
Semua itu berawal dari ide mendadak Biru yang mengambil langkah nekat untuk datang ke kantor Kiara dan menyatakan cinta di sana.
"Jadi, yang kau maksud dengan misi itu kau ingin menjatuhkan dan menghancurleburkan harga dirimu di muka umum?" tanya Angkasa saat itu.
Biru hanya memberikan seringai lebar sebagai jawaban atas pertanyaan Angkasa. "Tapi, aku harus pulang dulu. Aku akan minta restu kepada kedua orang tuaku,"
Biru sudah membulatkan tekadnya hari itu untuk menyelesaikan segala-galanya. Pria itu dapat bernapas lega karena ternyata Rendy menanggapi opininya dengan positif dan ayah dari Kiara itupun secara tidak langsung memberikan izinnya kepada Biru untuk bersaing dengan Kala dalam mendapatkan hati Kiara.
Akan tetapi, ada satu hal lagi yang harus dia selesaikan. Kedua orang tuanya. Maka, setelah dari rumah Rendy Pratama, Biru pun kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Rumah megah yang biasanya ramai dengan celotehan Amanda, ibu Biru, kini tampak sepi dan kosong. Berbeda sekali dengan rumah Kiara yang terasa hangat walaupun rumah itu lebih kecil dan lebih sederhana.
Sudah lebih dari sebulan, laki-laki muda itu meninggalkan rumahnya. Saat hari ini dia kembali, bangunan itu tampak asing baginya.
"Ma! Pa! Aku pulang," kata Biru.
Karena tak ada jawaban, Biru mencari Amanda dan Dirgantara di ruang kerja. Perlahan, dia mengetuk pintu ruangan kerja ayahny tersebut.
"Pa! Aku pulang, Pa," kata Biru.
Berkali-kali Biru mengetuknya sekali lagi, tetapi tak ada jawaban. Biru pun memberanikan diri membuka kenop pintu ruangan itu, tetapi terkunci.
Tak hilang akal, dia mencari pelayan rumah yang biasa membersihkan rumah keluarga Bramasta. Setelah menemukan pelayanan wanita bertubuh mungil itu, Biru menanyakan keberadaan orang tuanya.
"Heh? Honeymoon! Mereka tidak mencariku? Astaga! Orang tua macam apa itu!" tukas Biru tak percaya.
"Tetap saja, anaknya hilang bukannya dicari, malah bikin anak lagi! Hadeeuuh!" tukasnya. Biru tak habis pikir dengan kedua orang tuanya, bisa-bisanya mereka berbulan madu di saat dia menghilang selama sebulan lebih.
Tak mau mengambil pusing, akhirnya Biru melampiaskan rasa rindunya kepada ranjang yang sudah lama dia tinggali. Dia memeluk bantal dan gulingnya dengan penuh rasa sayang. Beberapa menit kemudian, laki-laki muda itu pun terlelap.
Tanpa terasa hari mulai menjelang malam dan petang pun datang. Sentuhan lembut dari seorang wanita membangunkan Biru dari mimpi indahnya.
Biru pun terbangun dan sontak saja dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Super sekian detik kemudian, dia tersadar dan dia melihat wajah ibunya yang sudah dia rindukan berada di hadapannya. Dia pun segera memeluk tubuh Amanda dan menghirup dalam-dalam wangi ibunya. "Mama!"
"Kau ke mana saja, Nak?" tanya Amanda lembut.
Tak lama, suara dalam seorang pria menemani mereka. "Rindu atau sudah menyerah?"
__ADS_1
Biru segera duduk tegak dan menatap tajam manik ayahnya. "Papa,"
Ketegangan pun terjadi dan segera saja memenuhi kamar bernuansa biru itu. Kedua manik ayah dan anak itu saling menatap dan bersitegang.
Tanpa dapat ditahan lagi, Biru memuntahkan emosinya seperti gunung merapi yang memuntahkan lahar panas dari dalamnya.
Laki-laki muda itu mengungkapkan segala yang dia temui dan bagaimana pertemuannya dengan Rendy Pratama. "Papa berhutang maaf kepada mereka! Kembalikan saham Pratama dan hiduplah dengan damai, Pa!"
Dirgantara menghempaskan tulang ekornya di sofa kamar sambil mendengus lemah. "Huh! Kalau aku mengembalikan saham Pratama, Bramtama akan goyah. Selama ini, Rendy-lah yang menjadi penopang utama Bramtama. Papa mulai menyadari itu. Pergerakan Papa kali ini sangat lemah. Baskara hanya licik tapi tidak cerdik, sedangkan Rendy, dia cerdik, cerdas, tapi tidak licik. Andaikan aku memiliki dua kepribadian itu di dalam satu orang, mungkin Bramtama tak akan selemah ini,"
"Lagi pula kudengar, Rendy sudah mendapatkan penawaran terbaik dari Mahendra. Putrinya bekerja di sana, bukan?" tanya Dirgantara lagi.
Raut menyesal sangat jelas tersirat di wajah Dirgantara. Tak hanya menyesal, tetapi juga rasa bersalah. Tatapan mata pria berusia 50-an tahun itu melemah dan dia menghela napas panjang. "Kiara dan Angeline bagaikan langit dengan sumur. Saat itu, Papa takut. Ya, Papa takut menghadapi kemarahan Rendy,"
"Lalu, kapan Mama dan Papa akan meminta maaf dan merestui hubunganku dengan Kiara?" tanya Biru setengah mendesak.
"Kau akan merebut dia dari Mahendra?" tanya Amanda. "Kudengar mereka akan segera melangsungkan pertunangan. Lalu, bagaimana dengan Angeline?"
Biru mengangguk mantap. "Tentu saja! Aku tidak akan pernah mengikhlaskan dia dengan siapa pun selain denganku! Angeline? Bukan urusanku! Aku tidak suka denganny sejak awal!"
Amanda dan Dirgantara saling bertukar pandang. Mereka mengedikan bahu mereka bersamaan. "Ajak dia datang ke sini sekali lagi, kami akan meminta maaf kepadanya,"
Senyum cerah menghias wajah tampan Biru saat dia mendengar kalimat itu dari mulut kedua orang tuanya. Dia juga meminta maaf karena telah membuat mereka khawatir.
Maka saat ini, di sinilah dia sekarang. Dengan membawa pengeras suara, buket bunga, serta hati yang penuh dengan cinta, Biru menunggu kedatangan Kiara di lobi gedung Rajash Globalindo Corporation sambil terus berharap pujaan hatinya itu akan segera muncul dan menjawab pernyataan cintanya.
...----------------...
__ADS_1