Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Percaya Saja Padaku!


__ADS_3

Biru terus menggandeng tangan Kiara dengan erat tanpa sedikit pun dia lepaskan. Kiara yang terengah-engah mulai berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Biru.


"Biru! Aarrghhh! Lepaskan! Lepaskan tanganku!" ucap gadis itu tersengal-sengal. Dengan satu tangannya, dia melepaskan sepatu high heels yang dipakainya. "Aku pakai ini dan kau mengajakku berlari seperti tadi! Aku sudah tidak kuat berlari lagi,"


Sesaat kemudian, Biru berhenti. Dia lupa kalau gadis yang digenggamnya itu sedang memakai gaun dan sepatu berhak tinggi. Biru segera melepaskan tangan Kiara dan berlutut di hadapan gadis itu. "Kakimu lecet. Turuti kata-kataku!"


Pria itu pun berbalik badan dan memberikan punggungnya yang lebar untuk Kiara. "Naiklah! Aku akan menggendongmu sampai mobil,"


"Heh! T-, tidak perlu! Kita jalan saja pelan-pelan, baru lecet, kok, belum putus, hahaha!" jawab Kiara sambil mengipasi wajah dengan tangannya. Ya, wajah gadis itu merona tanpa diminta.


"Sudah! Naik sajalah! Cepat!" Dengan cepat, Biru menarik kedua kaki Kiara dan menaikan gadis itu ke punggungnya. "Jangan banyak bergerak, kau berat juga ternyata!"


"T-, apa katamu!" tukas Kiara memprotes. Tetapi dia mengalungkan lengannya di pundak Biru.


Mereka berdua berjalan dalam diam, hanya terdengar deru napas Biru malam itu. Sampai akhirnya, suara Kiara memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka berdua.


"Aku, ... Aku merindukanmu, kau tau itu, 'kan?" tanya Kiara.


Biru tersenyum kecil dan tak menanggapi pernyataan dari Kiara. Dia menghela napas dengan lega karena akhirnya gadis itu mengungkapkan perasaan rindunya.


Setibanya mereka di dalam mobil, Biru menurunkan Kiara dengan sangat hati-hati. Setelah itu, mereka pun melaju ke dalam keramaian malam.


"Apa kau percaya padaku?" tanya Biru saat mereka berada di dalam perjalanan.


"Tentang?" tanya Kiara.


Biru memberikan ponselnya pada Kiara. "Bukalah, aku telah mengumpulkan materi tentang perusahaan Bramtama Corporation dan hasilnya, memang ayahku super brengsek! Hampir 50% saham ayahmu dimanipulasi oleh ayahku!"

__ADS_1


Kiara menyimak sambil membaca hasil penemuan yang telah dikumpulkan oleh Biru. Tak lama, gadis itu mengembalikan ponselnya pada Biru. "Aku sudah melupakan kasus ini, begitu pula dengan orang tuaku. Kami sudah memutuskan untuk tidak menoleh ke belakang dan ayahku menyampaikan permintaan maaf kepadamu,"


"Aku menerima permintaan maaf ayahmu, tapi kasus ini harus aku selesaikan. Aku ingin ayahku mendapatkan ganjarannya, dia tidak bisa melarikan diri begitu saja. Selain itu, kedua orang tuaku juga berhutang maaf kepada keluargamu," kata Biru bersungguh-sungguh.


Saat ini, Kiara dipenuhi dengan luapan rasa terima kasih atas apa yang dilakukan oleh Biru. Akan tetapi, dia tidak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut. Dia ingin hati dan hidupnya damai seperti dulu.


Rasanya, tidak akan ada habis-habisnya kalau terus mencari kesalahan dan berusaha membalas dendam atau mencari tahu tentang persoalan yang telah lalu. Lagi pula, Kiara serta kedua orang tuanya sudah mengikhlaskan apa yang telah terjadi.


Kiara memegang lengan Biru dengan lembut. "Lupakan saja. Aku dan keluargaku sudah baik-baik saja. Oh, nanti akan kuberikan alamat orang tuaku. Berkunjunglah ke sana,"


"Ke mana aku harus mengantarmu?" tanya Biru lagi saat mereka sudah berada di persimpangan jalan.


"Aku tinggal di apartemen dekat Rajash Globalindo Corporation. Aku tinggal bersama dengan Renatha. Kau bisa menurunkan aku di halte depan apartemen," kata Kiara sambil menunjuk ke arah halte yang tak jauh dari persimpangan jalan dekat lampu merah.


Begitu mengetahui tempat di mana Kiara akan turun, Biru menurunkan laju kecepatan kendaraannya. "Jadi? Kau pindah karena menghindariku?"


Kiara tersenyum. "Tidak. Sungguh! Percayalah padaku, aku tidak pernah berniat untuk mengindarimu. Aku dan Renatha mencari tempat yang dekat dengan tempat kami bekerja demi menghemat ongkos. Kau tau, itu sudah seperti sesuatu yang harus kami pikirkan,"


"Kalau soal gaji, tidak perlu kau ragukan lagi. Dia cukup loyal walaupun terkadang sedikit menyebalkan, tapi dia baik hati," jawab Kiara lagi tanpa ingin membuat Biru cemburu.


Namun, wajah Biru berubah murung dan mencebik. Dia menyugar rambutnya sambil mendengus. Saat itu, Kiara menyadari rambut Biru mulai gondrong dan sedikit berantakan. Jantung Kiara tiba-tiba saja kembali berdetak cepat.


"Wuah, ternyata aku masih menyukaimu. Kau yang menyugar rambutmu, tapi hatiku yang berantakan," kata Kiara. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


Sedetik kemudian, dia tersadar, dan menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya merona merah dan cepat-cepat gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Tak hanya Kiara, wajah Biru pun memerah. "Tenang saja, pertemuan ini bukan pertemuan terakhir. Percaya saja padaku, aku bisa membuatmu memikirkanku sepanjang malam. Hahaha!"

__ADS_1


Kiara berdecih, kemudian dia kembali memberi tanda supaya mobil Biru berhenti. "Terima kasih sudah mengantarku dan semoga, Kala tidak memotong gajiku karena kau menculikku,"


"Katakan saja kepadaku kalau dia memotong gajimu. Akan kurebut kau darinya," kata Biru sombong.


Sebelum Biru membuka kunci pintu mobil, pria itu mempersempit jarak di antara mereka dan mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Kiara. "Kau cantik malam ini. Hubungi aku dan kalau Angeline yang membalasnya, jangan hiraukan dia. Oke?"


Kiara mengangguk dan tersenyum kecut. Biru tidak tahu kalau Kiara memblokir nomornya karena saat itu, Angeline-lah yang menjawab telepon darinya.


Malam itu menjadi malam yang cukup mendebarkan untuk Kiara. Bagaimana tidak? Dia bisa bertemu dengan Biru dan mendapatkan jawaban dari perasaannya serta kasus yang menimpa keluarga mereka.


Selama ini, dia menyembunyikan perasaannya sendiri dan tidak mengakui kalau dirinya masih merindukan sosok seorang Biru. Kiara tidak ingin kecewa dan sakit, tetapi tanpa dia sadari perasaannya pada Biru semakin membesar dan malam ini, perasaan itu membludak seperti kembang api yang meledak.


Dengan membawa senyuman, gadis itu pun masuk ke dalam apartemennya. Namun, baru saja dia hendak masuk, sebuah mobil membunyikan klaksonnya.


Kiara mengira suara itu berasal dari Biru, akan tetapi, harapannya itu salah. Dari mobil itu keluar seorang pria berwajah masam.


"Kenapa kau meninggalkanku?" tanyanya dengan nada suara kesal. "Aku harus maju seorang diri dan mengatakan kalau kau sakit perut sehingga harus ke kamar kecil!"


"K-, Kala," kata Kiara menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, tadi a-, ...."


"Biru Sialan itu! Dia sudah menabuhkan genderang perang kepadaku! Kali ini, aku harus serius dan tidak bisa lagi membuang waktuku," kata Kala bersungguh-sungguh.


Kiara mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak paham apa yang dibicarakan oleh Kala. Selama ini, atasannya itu terlihat tidak pernah main-main dan selalu fokus bekerja. Lalu, kenapa kini dia mengatakan dia harus serius?


"Apa maksudmu?" tanya Kiara tak tahan dengan rasa penasarannya.


"Kau! Aku akan menjadikanmu sebagai kekasih sungguhanku! Katakan saja hari ini kita resmi berpacaran," kata Kala dengan percaya diri.

__ADS_1


"Heh?"


...----------------...


__ADS_2