Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Unpredictable


__ADS_3

Beberapa bulan setelah Kiara dan Biru resmi putus, mereka berdua kini menjadi teman baik. Di sela-sela kesibukan kantornya, Kiara selalu menyempatkan diri untuk menemui Biru di Oke Cupid.


Pria itu menolak untuk bekerja dengan ayahnya, dia benar-benar ingin merintis karirnya sendiri dari nol tanpa dibayang-bayangi nama besar ayahnya di kancah dunia bisnis.


Keputusannya itu, tentu saja membuat Angkasa senang bukan main. Dia bersama Kiara mulai menambah jasa mereka serta mencari talent-talent baru untuk keberlangsungan usaha mereka.


"Sleep call? Ada-ada saja! Apa yang kalian lakukan saat sleep call?" tanya Biru ketus saat mendengar ide dari Angkasa.


Angkasa menyeringai. "Ide ini berasal dari Kiara. Temanny itu mempunyai kekasih dan hampir tiap malam mereka melakukan sleep call. Ya, telponan sampai ketiduran dan begitu pagi, pasangannyalah yang paling pertama mengucapkan salam. Menurutku, ide itu keren,"


Biru mendengus, dia tidak habis pikir mengapa ada orang yang mau menghabiskan waktu seperti itu. Konyol sekali! Begitu pikirnya. Namun, begitu dia melihat survey dan peminatnya cukup banyak, otak pria itu mulai melakukan kalkulasi dengan cepat. "Berapa per jam?"


"Per 15 menit. Kiara juga yang membuat ide seperti ini. Pelanggan akan membayar sekian setiap 15 menit. Tergantung kesanggupan mereka, tentu saja. Kita tidak akan memaksa harus berapa lama mereka melakukan panggilan ini," ucap Angkasa menjelaskan.


Dalam hati, Biru mengagumi ide brilian Kiara. Aktivitas menelepon apalagi jika berbicara dengan seseorang yang memberikan kita rasa nyaman, akan berat jika harus mengakhiri panggilan itu dengan cepat. Mau tidak mau, Biru mengakui ide cerdas mantan kekasihnya itu.


Maka, tanpa meminta penjelasan lagi kepada rekannya, Biru pun meminta Angkasa untuk menulis semua daftar pembukaan jasa mereka yang baru.


"Sleep call, menemani ke pesta, menjadi kekasih per hari, per minggu, per bulan, dan per jam. Kemudian, mengirimkan pesan mesra dan ucapan selamat pagi-siang-sore-malam, bahkan selamat tidur sampai selamat ulang tahun. Lalu, apalagi?" tanya Angkasa mengecek kembali daftar usaha mereka.


Biru hanya menggelengkan kepalanya saat melihat daftar panjang itu. "Aku tidak ikut-ikutan,"


Namun, betapa terkejutnya dia saat Angkasa mulai menaikan iklan tersebut. Banyak sekali remaja tanggung berusia sekitar 17-25 tahun yang mendaftar. Mulai dari talent maupun ingin memakai jasa mereka.

__ADS_1


Selama satu bulan itu, keuntungan yang mereka dapatkan naik berkali-kali lipat. Hal ini tak akan mereka dapatkan andai saja, Kiara tidak memberikan ide yang terlihat bodoh tetapi sangat menguntungkan ini.


"Aku hanya membantu. Rasa-rasanya kalau kau hanya menyewakan seseorang untuk menjadi kekasih, usaha kalian tidak akan berkembang. Lalu, kulihat gaya berpacaran Renatha dan kekasihnya, dan kupikir, aku bisa menambahkan servis-servis itu ke dalam list," kata Kiara saat Biru menemuinya setelah gadis itu pulang dari kantor.


Kunjungan Biru pun berakhir dengan makan malam bersama di sebuah kafe tak jauh dari apartemen Kiara. Begitulah hubungan mereka saat ini, tak lebih dari seorang teman, atau dapat dikatakan sahabat baik.


Akan tetapi, dibalik harmonisnya hubungan Kiara dan Biru, ada seseorang yang tidak menyukai hubungan mereka. Angeline! Gadis cantik itu meminta orang suruhannya untuk memata-matai Biru dan Kiara.


"Cih! Katanya sudah putus, tapi masih makan bersama!" ketus Angeline.


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, dia pun segera menemui kedua orang tua Biru dan memberitahukan apa yang baru saja diketahuinya.


Tentu saja pemberitaan itu membuat amarah Dirgantara kembali meledak. "Apa! Mereka masih bersama! Benar-benar anak itu! Terlalu! Apa bagusnya gadis itu, sih? Dia sudah mempermainkan Biru tanpa perasaan, bisa-bisanya Biru masih menemui gadis kurang ajar itu!"


"Aku juga tidak tahu, Om! Atau mungkin, mereka sudah melakukan hubungan yang tidak boleh mereka lakukan, jadi Kiara tidak mau melepaskan Biru begitu saja," kata Angeline sambil menarik sudut bibirnya licik.


Dirgantara mengangguk cepat. "Harus, Ma! Angeline, katakan pada ayahmu pertunangan kalian akan dipercepat dan Om akan mengumumkan ini kepada media, supaya berita pertunangan kalian diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat,"


Angeline tersenyum puas. Raut wajahnya penuh kemenangan dan dia pun mengangguk senang. "Oke, Om. Tapi, bagaimana kalau Biru menolak?"


"Dia harus mau! Kalau tidak, Om akan mengirimnya ke luar negeri dan bekerja di sana!" tukas Dirgantara tegas.


Sementara Amanda dan Dirgantara mengumpulkan pers, Rajash Mahendra di kediamannya mempertanyakan kelanjutan hubungan putranya dengan Kiara.

__ADS_1


Pria yang sudah lama menyandang status duda itu mulai khawatir dengan gaya berpacaran anak muda zaman sekarang. Selain itu juga, dia tidak ingin kesepian. Paling tidak, kalau putra tunggalnya itu menikah, mereka akan memberikan seorang cucu kepada Rajash. Dengan kehadiran sang cucu, Rajash yakin dia tidak akan kesepian lagi.


"Kala, ajaklah kekasihmu datang ke sini. Ayo, kita makan bersama dan membicarakan pernikahanmu," kata Rajash suatu pagi.


Saat itu, mereka berdua sedang sarapan. Sewaktu Rajash mengucapkan kalimat itu, Kala sedang menyesap kopi panas. Sontak saja, dia tersedak kopi panas hingga matanya berair. "Uhuk! Uhuk! T-, tunggu, Pa,"


Kala mengambil napas dan menghembuskannya perlahan. Dia berusaha membersihkan saluran pernapasannya sehingga kembali lega. "Ahem! Tadi Papa bicara apa?"


Rajash mencebik melihat putranya pura-pura tidak mendengar. "Papa mau bertemu dengan Kiara! Sekalian saja ajak orang tuanya datang ke sini. Kita akan jamu mereka dengan baik,"


"Harusnya kita, 'kan, yang datang ke sana? Kita, 'kan, dari pihak laki-laki," jawab Kala santai. Kali ini, dia dapat menguasai keadaan dengan baik dan tidak panik seperti tadi. Lagi pula, memang dia berniat ingin bertemu dengan kedua orang tua Kiara dan membicarakan tentang maksudnya hendak menjalin hubungan lebih jauh dengan Kiara.


Mendengar jawaban Kala, Rajash tertegun, lalu sepersekian detik kemudian dia mengangguk. "Oke, kapan? Sekarang? Ayolah!"


"Papa!" tukas Kala kesal.


Tak pernah dia bayangkan ayahnya akan menyetujui hubungannya dengan Kiara apalagi sampai mengharapkan dirinya menikah dengan gadis itu.


Tujuan awal dia menyewa Kiara hanya untuk menemaninya ke pesta dan ya, hanya sekedar uji nyali saat dia memperkenalkan Kiara sebagai calon tunangannya.


Dia juga tak pernah menyangka, rasa sukanya kepada Kiara semakin membesar, bukan menghilang. Gadis itu sanggup membuat dunia Kala jungkir balik. Tanpa dia sadari, wajahnya merona merah dan dia mengukir senyum di wajahnya.


"Nah, 'kan! Kau pasti memikirkan Kiara, 'kan? Cepat kita atur waktunya dan tidak perlu lagi menunda pernikahan kalian lebih lama," ucap Rajash puas saat melihat perubahan di wajah anaknya.

__ADS_1


Kala mengangguk. "Ya, aku akan menghubungi Kiara dan akan kukatakan kalau besok kita akan menemui orang tuanya,"


...----------------...


__ADS_2