
Setelah perpisahan orang tua nya, Vivian yang ketika itu masih kelas tiga SD, ikut ibu nya yang berasal dari desa. Tapi karena sayangnya pada bapak, dia selalu minta di antar untuk ke kota untuk bertemu dengan bapak maupun keluarga dari neneknya, ibu dari bapaknya, mereka tinggal bersebelahan rumah dengan nenek. Sedangkan neneknya tinggal satu rumah dengan om nya, adik dari bapaknya yang belum menikah, juga budhe nya seorang janda dengan 4 orang anak. Usia anak-anak budhe Vivian, lebih tua sedikit di atasnya
Dari situlah Vivi begitu dia biasa di panggil, anak manja, bisa memiliki banyak teman di kota, kebanyakan teman cowok, karena Vivi memang sedikit tomboy, penampilan sehari-hai biasa menggunakan celana pendek dan kaos oblong, sering pakai topi, dan biasanya selalu ada dalam tasnya, fungsi topi tersebut salah satunya untuk menutup wajah dari cowok-cowok ganjen. Saking tomboy banget, rasanya dia memakai rok hanya saat ke sekolah dan acara-acara tertentu.
Ketika masuk SMP hampir setiap sabtu-minggu Vivi datang dengan menaiki bus ke rumah neneknya sendirian.
Kiki dan Sapta, kakak adik yang usianya hanya terpaut satu tahun, sedikit lebih muda dari Vivi, anak tetangga sebelah rumah nenek Vivi, walaupun kalau ngomong asal nyeplos, tapi dia baik dengan Vivi. Sayang sama Vivi dan selalu menjaganya.
Di dekat rumah mereka ada tempat duduk-duduk yang teduh, makanya rumah mereka sering ramai, di gunakan untuk nongkrong teman-teman mereka, dan dari situ juga Vivi kenal mereka. Vero, kakak perempuan Sapta, juga sering ikut gabung dengan anak-anak ABG ini, karena Vero tidak punya teman sebaya di deretan rumah itu. Vero anak SMA yang usianya selisih tiga-empat tahun di atas Vivi, yang termasuk anak alay juga.
__ADS_1
Setelah pertemuan beberapa kali, Vivi naksir cowok bernama Lilo, tetangga depan kampung neneknya, Lilo cowok ramah yg murah senyum, pembawaannya menyenangkan. Vivi sering curhat dengan Ria, teman kecil yang rumahnya tidak jauh dari rumah neneknya, tapi sepertinya Lilo menganggap Vivi tidak lebih hanya sebatas teman saja.
Sementara itu, Ria di kejar-kejar Tio tetangga kampung sebelah dari kelas 5 SD. Tapi baik Ria maupun Vivi sebel banget sama Tio, karena selain dia suka mabuk-mabukan, anak motor, sering ikut balapan liar, suka ngebully teman-temannya termasuk Vivi. Tapi meskipun begitu, mereka tetap menganggap teman.
Sapta seperti dapat mainan baru, dia sering ikut nyomblangin Ria dengan Tio agar mereka jadian. Tapi Ria tetap menolak, tidak suka dengan Tio
"Ri, nih ada cowok loe" goda Sapta, suatu hari, saat motor Tio berhenti di depan kios bensin milik ibu nya.
"Apaan sih loe, Ta?" Ria yang baru duduk ngobrol di depan rumah nenek Vivi, melotot ke arah Sapta.
__ADS_1
Anak-anak cowok yang juga duduk di depan rumah Sapta ikut tertawa menggoda.
"Mungil...." karena salah tingkah dengan Ria, Tio malah menyapa Vivi, sambil menaruh tangannya di bawah pundak, mengejek Vivi menandakan Vivi pendek, karena jika berjajar dengannya, Vivi hanya di bawah pundak Tio yang memiliki postur tubuh jangkung.
"Dasar kurus, kriting, item, jelek" balas Vivi sewot, sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Belum terlalu lama mereka kenal, tapi sudah akrab, tapi sangat sering perang mulut.
Begitulah keseharian mereka jika bertemu, seperti kucing sama anjing. Walaupun itu hanya sekedar bercanda, dan tidak pernah sampai terjadi kemarahan yang serius.
Mereka berteman, dan sudah tahu sifat masing-masing, walaupun kesal mereka juga terkadang tertawa bareng. Saling mengejek, dan pasti selalu ada korbannya.
__ADS_1