PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Melihat kedepan


__ADS_3

Tiba-tiba Arbi menyentuh bahu Vivi, merangkulnya, kemudian di tariknya mendekat, Arbi menunduk lalu mengecup rambut Vivi.


"Mas?!......" Vivi terdiam ketika dagunya di tarik, Vivi mendongak kaget ketika sebuah bibir sudah ******* bibirnya. Dia berontak ingin melepas tapi tenaganya tak cukup kuat. Arbi semakin erat mencengkeram bahunya. Darah Vivi seolah naik ke ubun-ubun, dia kesal, malu, takut, marah. Baru pertama kalinya dia di perlakukan kasar, tapi ciuman pertama itu sempat membuainya. Vivi diam tak membalasnya.


Vivi membelalakkan matanya ketika, ada tangan yang menelusup kedalam kaosnya, meraba dadanya yang masih kecil. Di tepisnya tangan itu, tapi sekali lagi dia kalah tenaga, dan diapun pasrah dengan apa yang terjadi.


"Mas, jangan..... aku takut" ucap Vivi ketika Arbi melepas pagutan bibirnya, sambil menatap sedih ke arah Arbi. Arbi tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya ke arah Vivi.


Vivi memiringkan tubuhnya sudah bersiap mundur, tapi satu tangan Arbi mencengkeram bahu kiri Vivi lagi, tangan yang lain masih di posisi swmula.


"Tenang Vi, ga akan sakit" katanya sambil menyeringai, mencoba merayu Vivi sambil tangan kanannya terus meremas dada Vivi.

__ADS_1


Vivi tidak berani melawan, entah berapa lama sampai Arbi puas, dia kembali ******* bibir Vivi. Tak berapa lama dia mengecup puncak kepala Vivi tersenyum kearahnya dan pergi, seolah tak pernah terjadi sesuatu..


Vivi mematikan tv, berlari masuk ke kamarnya dan menangis, mengingat apa yang sudah di alaminya barusan.


flashback off


"Ya Tuhan....... sebegitu pahitnya apa yang sudah aku alami, bahkan di usia yang masih sangat belia dan berkali-kali." Vivj menutup wajah dengan kedya tangannya, tanpa terasa ada air mata di pelupuk matanya. Vivi mengusapnya sebelum jatuh.


Dua jam sudah perjalanan, Vivi sampai di desanya, bapak tua yang tadi duduk di samping Vivi sudah turun di terminal sebelumnya.


"Ibu pikir kamu ga pulang, sampak jam segini baru nyampe. Ibu kuatir" kata ibunya sambil menatap Vivi, lega.

__ADS_1


"Iya bu, tadi busnya berhenti lama, mungkin karena bus terakhir" kata Vivi berbohong, dia tidak ingin ibunya khawatir lebih lagi.


Selama ini Vivi menyimpan rapat pelecehan yang di alaminya. Dia malu dan takut seandainya justru orang lain akan menganggap dirinya sudah ternoda.


"Ya sudah, kamu pasti belum makan, makan dulu sana" kata ibunya lagi.


"Tadi sudah jajan di jalan bu" Vivi berbohong lagi, karena setelah apa yang terjadi, membuatnya tidak bersemangat lagi.


Wajah Vivi yang manis, pembawaannya yang ramah, dan selalu ceria, juga susah buat Vivi untuk menolak sesuatu, karena dia selalu takut membuat kecewa orang lain, yang justru membuat banyak orang jadi salah mengartikan. Tapi dia juga masih tidak habis pikir, kenapa harus dia yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, bahkan saat usianya masih sangat kecil.


Tapi dengan pengalaman dan kejadian yang sudah dia lalui, dia juga di tempa untuk menjadi gadis yang lebih kuat, tidak mudah cengeng, dan waspada kepada orang di sekelilingnya.

__ADS_1


Beruntung Vivi bukan anak yang mudah larut dalam sebuah masalah, apalagi sampai mengalami trauma yang berkepanjangan. Itu yang membuatnya gadis yang selalu ceria.


Vivi type orang yang dengan cepat melupakan sebuah masalah, bukan pendendam, bercermin dari kejadian-kejadian lalu. Dia menatap masa depan dengan cara selalu bersyukur pada Sang Pencipta, karena banyak orang yang lebih menderita dari pada dia.


__ADS_2