PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Perpisahan


__ADS_3

Deddy menggenggam tangan mungil Vivi, seolah mengalirkan kekuatan, dia tau dia salah tapi dia tidak mau membohongi dirinya, jika dia benar-benar jatuh cinta pada gadis mungil di depannya. Dia biarkan Vivi berpikir sejenak.


Vivi menatap mata Deddy, ada kemarahan, kesedihan, kekecewaan dalam hatinya. Deddy menatapnya dengan lembut, rasa itu sudah ada dalam hati Vivi, tapi yang baru saja dia alami membuat hancur.


"Vi.... aku sayang kamu... aku cinta kamu" ucapan Deddy membuat Vivi hampir menangis, kenapa hatinya selamat ini. Deddy menarik tangan Vivi dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vivi, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Vivi. Dia ******* bibir mungil itu, di tariknya tengkuk Vivi merapat, semakin dalam ******* bibir Deddy, lalu Deddy memainkan lidahnya, yang membuat Vivi terhanyut. Air matanya mengalir deras, dia seperti dalam persimpangan, yang membuat Vivi cepat tersadar, di tariknya bibir mungil itu.


"Maaf Ded, aku ga bisa" tangisnya makin menjadi


"Maafin aku Vi" Deddy menarik nafas panjang dan membuangnya hati-hati, seolah tidak mau terdengar di telinga Vivi.


"Aku ga mau lanjutin hubungan kita Ded, aku wanita... aku yakin kalo Alfi tau, dia juga sesakit aku" kata Vivi lirih.


"Tapi Vi.... Aku...." suara nya terputus, karena Vivi menggeleng.

__ADS_1


"Cukup Ded, tolong antar aku ke terminal, aku mau pulang" ucap Vivi lagi.


"Vi.... aku tau kamu marah, aku tau kamu kecewa sama aku. Tapi aku juga mau kamu ngerti in aku, tidak ada yang bisa memaksa cinta itu datang. Cinta datang sendiri, dan itu takdir Tuhan." Deddy hampir putus asa meyakinkan Vivi.


"Aku tau Ded, tapi maafkan aku, jika saat aku mau memulai nya, kamu sendiri yang sudah menghancurkan nya, dan aku ga mau jadi orang ketiga di antara kalian, cukup aku yang merasakan sakit" ucap Vivi sambil mematikan rokoknya di atas asbak.


"Sekarang aku mau pulang, aku mau sendiri" katanya lagi.


"Oke aku pakai baju dulu" kata Deddy sambil berdiri menuju ke lemarinya. Setelah memakainya dia mengulurkan tangannya ke arah Vivi, Vivi menyambut tangannya lalu berdiri.


"Apa?" tanya Vivi singkat.


"Aku ingin memeluk kamu, dan mencium kamu untuk terakhir kalinya, sekali saja!" pinta Deddy. Vivi mematung tanpa menjawab, dia sedang bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


Tapi Deddy sedikit membungkuk, lalu sudah memeluknya erat, seolah tidak ingin berpisah, air mata Vivi kembali turun, begitupun hatinya merasakan apa yang di rasakan Deddy.


Deddy merangkup wajah Vivi, dia cium kedua pipinya, kening, hidung, lalu bibirnya, dua berikan ******* pada bibir Vivi, Vivi berontak, tapi Deddy tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia semakin mengeratkan pelukan nya, tanpa melepaskan ******* bibirnya.


Vivi pasrah, hanya bisa membalasnya, dan berlangsung cukup lama. Deddy melepaskan bibirnya, tapi belum melepaskan pelukannya.


"Vi... seandainya hal ini tidak terjadi, aku pengen kita tetap bersatu, aku ga mau lepaskan kamu" kata Deddy seolah menyesali apa yang sudah terjadi.


"Sudahlah Ded, cinta kamu lebih besar padanya, kita masih bisa berteman" Vivi mencoba menerima apa yang di hadapinya ini.


"Maaf!" hanya itu yang keluar dari mulut Deddy.


"Sudah Ded, aku mau pulang" Vivi tidak mau kembali larut dengan keadaan ini. Deddy mengangguk, mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu menyambar kunci motornya.

__ADS_1


"Peluk aku" perintah Deddy ketika di atas motor. Vivi menurut lalu di lingkarkannya tangannya ke perut Deddy. Dalam perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang terucap, Deddy hanya sesekali menghisap rokoknya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai tiba di terminal, mereka menunggu bus datang, Deddy menatap Vivi sedih. Vivi hanya tertunduk, dia tidak mau terlihat lemah, setelah jus datang, dia menarik nafas, menatap Deddy dan tersenyum. Deddy membalas, lalu memejamkan matanya dalam.


__ADS_2