
"Mas, ini Vivi nya, kasian dia, sakit, badannya sampe kurus kaya gini" Eka yang membantu memapah Vivi keluar untuk menemui Jemmy.
"Iya mbak, makasih ya, saya mau bawa Vivi ke rumah sakit dulu." Jemmy memandang wajah tirus Vivi tidak percaya, karena mereka baru tiga hari lalu bertemu, Vivi masih segar.
Jemmy segera menggantikan Eka memapah Vivi menuju taksi yang sudah menunggu mereka. Jemmy masih menggenggam tangan Vivi, hanya sekitar lima menitn mereka sampai di Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit swasta besar di kota itu.
"Sus tolong cepat, ada pasien gawat di dalam" kata Jemmy menunjuk taksi yang mereka tumpangi tadi.
Dua orang suster dan seorang satpam membantu Vivi naik ke emergency stretcher, lalu mendorong masuk ke ruangan tersebut.
"Maaf, bapak tunggu di sini dulu" ucap salah seorang suster tersebut sambil menutup pintu, dan Jemmy menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi ibu, mengabarkan kondisi Vivi sekarang. dan tidak lama ibu sama mbah putri berangkat menuju rumah sakit yang Jemmy tunjukkan.
"Ya ampun Vi, kenapa bisa kaya gini?" ucap ibu sedih, tapi karena kondisi Vivi lemah, dia tidak bisa menjelaskan padanya.
Akhirnya Jemmy cerita panjang lebar awal mula Vivi sakit, karena dia sudah mendengar langsung dari Vivi tadi. Jemmy juga menyampaikan kata dokter jaga di UGD tadi, jika terlambat beberapa menit saja nyawa Vivi melayang.
__ADS_1
Sore pun tiba, Jemmy minta ijin untuk pulang, Jemmy menghampiri ranjang tempat Vivi tergolek lemah tak berdaya.
"Vi, aku pulang dulu ya, kamu cepet sehat, makan yang banyak biar cepet pulih" nasehat Jemmy, tangannya menggenggam jemari Vivi, dia pun tersenyum dan mengangguk.
"Koko ati-ati di jalan ya?! Makasih" ucap Vivi lirih, Jemmy membalas senyuman Vivi lalu mengecup jemari Vivi yang dari tadi di genggamnya.
"Besok kalo udah pulang, kalo pas libur aku datang ke rumah" Jemmy melepaskan tangan Vivi, lalu dia mendekati ibu mencium tangannya lalu berganti ke mbah putri.
"Makasih banyak Jemmy sudah nolongin Vivi, ko ga entah Vivi seperti apa sekarang" ucap ibu Vivi sedih.
"Amin... kamu ati-ati ya" kata ibu Vivi lagi.
******
Hari menjelang pagi, dari semalam Vivi ga bisa tidur, karena merasa tidak nyaman di tempat asing, apalagi melihat kondisinya yang lemas karena dehidrasi. Akhirnya minta di temani ibu di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Gimana Vi rasanya badan kamu?" tanya ibu khawatir.
"Udah ga papa kok bu, aku maunya pulabg hari ini. Tolong mintain ijin sama dokter ya?" kata Vivi memohon, sebenarnya dia belum sehat bener, tapi karena sudah bosan di atas tempat tidur rumah sakit dari kemarin.
Kebetulan pagi itu suster datang untuk memeriksa suhu badannya, dan kondisinya pagi itu.
"Coba angkat tangannya" kata suster sambil menyisipkan thermometer, lalu mengukur tensi darah Vivi.
"Sus, dokter visit jam berapa ya? tanya Vivi.
"Sekitar jam 10-11 biasanya mbak, gimana ada yang mau di sampaikan?" suster itu balik bertanya.
"Mau bilang kalo saya sudah sembuh mbak, sudah pulih, pengen pulang" kata Vivi sambil tersenyum manis, seolah mau menunjukkan kalau dia benar-benar sudah sembuh.
"Iya, nanti di sampaikan ke dokternya dulu ya, sekarang dokternya belum datang... normal semua, suhu tiga puluh enam derajat, tensi seratus dua puluh per sembilan puluh" ujar suster nya sambil membereskan alat-alatnya.
__ADS_1
"Permisi" suster mengangguk sopan, tersenyum dan berlalu.