PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Putus


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Vivi dan Jemmy sudah semakin dekat, Jemmy serius dengan kedekatannya. Tapi Vivi masih ragu dengan Jemmy, karena perbedaan agama di antara mereka.


Vivi sudah berpikir matang-matang, Vivi akan memutuskan hubungan dengan Jemmy, jika dia tetap mempertahankan prinsipnya. Menjelang malam, Vivi di rumah neneknya, sedang duduk di depan rumah Sapta bersama Vero.


"Mbak aku mau ke wartel dulu ya" kata Vivi berdiri dari duduknya, Vivi ingat hari ini jadwal Jemmy menginap di rumah orang tuanya.


"Di temenin ga?" tanya Vero.


"Ga usah, aku sendiri aja" kata Vivi meninggalkan Vero sendiri.


******


Tut... tuutt... tuuutt...


"Halo" suara seorang wanita tua di seberang, yang Vivi yakini, itu mama Jemmy.


Vivi : "Selamat malam tante, Jemmy nya ada?" tanya Vivi sopan.


Mama Jemmy : "Ada, ini dari siapa?"


Vivi : "Vivi tante" jawab Vivi


Mama Jemmy : "Tante panggilkan dulu ya"

__ADS_1


Vivi : "Makasih tante"


"Jemmy... ada telepon dari Vivi" teriak mamanya, suaranya terdengar menjauh dari telepon. Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat.


Jemmy : "Hallo, Vi... apa kabar? Kangen ya" Jemmy terkekeh dengan kata-kata nya sendiri.


Vivi : "Ko, ada yang mau aku mau ngomong sama koko, aku sudah ga bisa nahan lagi."


Jemmy : "Kenapa Vi, kok serius banget?"


Vivi : "Aku mau kita putus, karena kita punya prinsip masing-masing yang ga bisa di satukan"


Jemmy : "Vi, kenapa harus di telepon? Kenapa ga pas kita ketemu aja ngomongnya?"


Jemmy : "Aku sayang kamu Vi, aku ga mau pisah sama kamu, aku serius, ga mau main-main"


Vivi : "Maaf ko, selama kita beda prinsip aku ga bisa ko"


Vivi meletakkan gagang teleponnya, menghela nafas berat. Jujur dia sedih banget, dia juga sayang sama Jemmy, tapi dia ga mau ambil resiko, jika melanjutkan hubungan mereka.


Setelah membayar biaya telepon, Vivi keluar dari wartel tersebut, dan melihat di seberang jalan ada teman-teman nya yang beberapa di antaranya Vivi kenal.


"Vi... " panggil salah satu teman mereka, melambaikan tangannya, menyuruh Vivi datang.

__ADS_1


"Hey..." jawab Vivi melambaikan tangannya, sebenarnya Vivi malas untuk datang, karena kondisi hatinya sedang tidak baik. Tapi karena ga enak dengan teman-teman nya, akhirnya Vivi mendatangi mereka.


Setelah basa-basi sebentar Vivi hendak meninggalkan mereka, tapi ada suara yang tidak asing baginya.


"Apa kabar Vi?" suara itu sangat jelas dan Vivi tidak mungkin lupa dengan suara itu.


"Tio" suara batin Vivi


"Baik... Kamu?" dia balik bertanya.


"Baik, tumben keliatan" pancing Tio.


"Sebenarnya ga juga, apa beberapa kali datang, ini kebetulan aja, tadi abis dari wartel" kata Vivi canggung.


"Kok wajah kamu kusut banget?" tanya Tio lagi. Vivi tak menjawab, hanya tersenyum kecut.


"Kenapa? Kalo boleh tau?" tanya Tio penasaran.


"Aku baru putus sama cowok ku?" jawab Vivi lirih.


"Ohh... sorry ya, aku bikin kamu sedih" kata Tio dengan wajah penuh penyesalan.


"Ga papa" dah ya aku duluan, ga enak sama orang rumah, aku keluar dah kelamaan.

__ADS_1


"Oke" jawab Tio dengan perasaan tidak rela Vivi pergi, dia hanya ingin menghibur Vivi saat Vivi sedih. Tio menatap punggung Vivi sampai tak terlihat di tikungan.


__ADS_2