
Malam minggu membuat perjalanan mereka sedikit terganggu, karena jalan menuju mall sore itu sudah mulai agak macet.
"Terima kasih pak, ambil aja kembaliannya" ucap Jemmy sambil menyerahkan uang kepada pengemudi taksi tersebut.
"Sama-sama pak, semoga malam minggu anda menyenangkan" kata pengemudi taksi itu, lalu berlalu dari hadapan mereka berdua.
Mall sudah mulai ramai pengunjung, Jemmy menggandeng tangan Vivi menuju ke lantai tiga, di mana gedung bioskop ada di lantai tersebut.
"Kamu berani nonton film misteri?" tanya Jemmy menatap Vivi. Karena dalam jadwal paling dekat film itu yang akan di putar.
"Masih ada waktu dua puluh menit lagi" kata Jemmy menunggu jawaban Vivi. Vivi menatap poster yang di pasang wajah srigala dengan badan manusia.
"Iya nonton itu ga papa" kata Vivi, berpikir daripada nunggu film yang lain akan lama mereka menunggu.
"Oke aku beli tiket dulu" Jemmy melangkah menuju ke loket penjualan tiket, studio dua bagian J, yang bangku pinggir dua tiket mbak" kata Jemmy sambil mengeluarkan dompetnya. Setelah membayar Jemmy menuju ke arah Vivi kembali.
"Mau popcorn?" tanya Jemmy menghadangnya menuju ke cafetaria.
"Ga usah, minum aja, milo es sedikit" kata Vivi setelah melihat menu yang terpampang besar di depan mereka. Jemmy memesan dua minuman lalu membayarnya.
__ADS_1
Mereka duduk di bangku tunggu, Vivi sesekali mencuri pandang ke arah Jemmy, yang tampan itu. Dan satu kali mata mereka beradu pandang, Jemmy tertawa melihat Vivi tertunduk malu.
"Kamu pernah kencan kaya gini?" tanya Jemmy, dengan cepat Vivi menggeleng, membuat Jemmy tersenyum lebar.
"Tapi udah pernah pacaran kan?" Vivi benar-benar terkejut mendengar pertanyaan Jemmy.
"Udah" kata Vivi pelan, menutupi rasa kikuk nya.
"Berapa kali?" Jemmy seolah menyelidik
"Dua kali" ucap Vivi lalu kembali tertunduk menahan panas di pipinya.
"Taun ini dua puluh, kamu?" Vivi mengangkat wajahnya, menatap Jemmy dan menunggu jawabannya.
"Tiga satu" Vivi melotot mendengar jawaban Jemmy, mulutnya menganga, lalu menelan ludahnya sendiri, rasanya tenggorokannya kering.
"Sebelas tahun di atasku? Tapi wajahnya kaya anak usia dua limaan, ga nyangka, selama ini aku pacaran sama berondong, sekarang deket sama om-om " Vivi senyum-senyum sendiri.
"Kenapa tua ya?" Jemmy tertawa dengan pertanyaannya sendiri.
__ADS_1
"Ga... Ga keliatan malah" jawab Vivi.
Mereka berdiri dan berjalan menuju ke theater dua karena sudah terdengar melalui pengeras suara, kalau pintu dua sudah terbuka.
Jemmy menyerahkan dua tiket ke penjaga theater tersebut, lalu mengantarnya ke bangku yang di pesan.
*******
Film barat dengan genre misteri membuat Vivi sedikit tegang, dia tidak takut, tapi sering terkejut dengan efek suara dari film tersebut.
Lebih terkejut lagi ketika ada adegan romantis, Jemmy tiba-tiba menggenggam tangannya, lalu mengecupnya. Degup jantung Vivi sudah tidak bisa di kondisikan, dia hanya tersenyum sambil pura-pura serius melihat layar yang ada di depannya. Padahal pikirannya melayang sampai awan-awan.
Tangan Vivi mulai berkeringat, sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini, bahkan dia tidak pernah menyangka, seseorang yang dia temui di bus pun bisa mengusik hatinya. Padahal selama dia kuliah, dia sering di ajak kenalan cowok dalam perjalanan. tapi tidak pernah ada seorang pun yang berlanjut.
Bahkan terhadap Jemmy pun, dia masih belum percaya dengan kedekatan mereka.
"Apa Jemmy akan seperti yang lain, kenalan ketemu satu-dua kali trus ngilang" walaupun Jemmy belum menyatakan cintanya, tapi dari cara nya memperlakukan Vivi, seperti kepada seorang kekasih. Itu yang membuat Vivi masih ragu.
"Ya mungkin karena baru kenal kali" pikir Vivi menghibur diri.
__ADS_1