
Setelah puas di area leher, Jemmy menelusuri dua gundukan mulus itu, di bukanya baju yang menempel di tubuh Vivi, Vivi menahannya tapi sia-sia, dia kalah tenaga dengan Jemmy.
"Aah... ko... hentikan..." di antara desahannya Vivi masih setengah sadar. Tapi bukannya berhenti, Jemmy malah semakin menjadi, dia mengulum puncak satu bukit, dan salah satu tangannya meremas, satu lagi bukit itu.
"Aaah.... ssshhhh.... ko... henti....." Jemmy menutup mulut Vivi dengan ******* bibirnya.
"Aku sayang kamu Vi..." bisik Jemmy, lalu mengecup dan menggigit kecil telinga Vivi.
Tangan Jemmy menelusup ke dalam celana Vivi, reflek tangan Vivi menahannya.
"Sudah ko... jangan di lanjutkan... ouuwhhh...." Jari Jemmy berhasil menyentuh area sensitif Vivi.
"Jangan ko... aku takut... eehhhmmm..." mata Vivi terpejam rapat, seluruh tubuhnya serasa kena aliran listrik tegangan tinggi.
"I love you, honey...." Bibir Jemmy kembali berbisik, membuat Vivi terlena. Dan entah kapan celana Vivi sudah lolos dari tempat dimana seharusnya berada.
"Ko.... jangan..." Vivi mencoba menutup bagian bawahnya dengan tangannya, tapi di cegah oleh tangan Jemmy, dia pun mempermainkan daerah sensitif bagian bawah Vivi.
__ADS_1
"Aaahh.... ko... stop... jang.... aaah.... ssshh.... ko..." Vivi meracau di antara dunia nyata dan di awan-awan. Jemmy membuka kedua paha Vivi, dan mencoba memasukkan miliknya, tapi tak juga bisa masuk, karena sempitnya milik Vivi.
"Saaaa....kiiiit koooo......" Vivi menggigit bibir bawahnya, menutup rapat matanya.
"Aku pelan-pelan sayang..." Jemmy kembali mendorong miliknya kedalam, tapi sia-sia, karena memang milik Vivi susah di tembus.
"Aaawww..." Vivi menangis, karena berkali-kali usaha Jemmy tidak berhasil, malah membuat merah milik mereka masing-masing.
Jemmy menyerah, dia masuk kamar mandi, mengambil sabun, untuk menyalurkan hasratnya di dalam kamar mandi.
******
"Kalo orang bilang, katanya berhubungan suami istri katanya enak, tapi buktinya apa? Sakit banget kaya gini. Apa ini juga yang alasan orang menikah bisa bercerai?" Pikir Vivi polos.
Jemmy berjalan keluar dari kamar mandi, melihat Vivi masih menangis.
"Masih sakit Vi? Maaf ya sayang" Jemmy mengecup jemari Vivi. Di peluknya tubuh mungil itu, lalu di kecupnya kening Vivi.
__ADS_1
"Sakit banget ko..." rengek Vivi manja.
"Iya sayang... maaf ya, aku sayang kamu" Jemmy mengecup keningnya berulang-ulang.
"Aku takut aku hamil ko" Vivi mendongak, menatap Jemmy. Jemmy geli, mendengar penuturan Vivi yang polos.
"Sayang, aku ga menabur benih, di sini" Jemmy menunjuk perut Vivi.
"Kamu dulu biologinya dapet berapa sih?" ucap Jemmy tertawa, mengacak rambut Vivi.
"Tapi tadi kan sudah masuk" ucap Vivi lirih.
"Iya sayang, tapi gimana aku mau nabur kalopun masuk aja cuma sampe pintu" kata Jemmy masih belum berhenti tertawa. Vivi cemberut, dan salah faham dengan penjelasan Jemmy.
"Apa jangan-jangan dia ga mau tanggung jawab kalo aku sampe hamil nanti" pikir Vivi kesal, pikirannya masih benar-benar polos.
"Iya... iya... kita tunggu bulan depan, nanti kalo sampe kamu memang hamil, aku akan nikahi kamu" kata Jemmy mengecup bibir Vivi, seolah tahu apa yang di pikirkan Vivi. Jemmy memeluk Vivi dan mereka tertidur bersama, karena waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, mereka masih polos, tanpa memakai pakaian.
__ADS_1