
"Vi, kenapa kamu putus sama Jemmy?" pertanyaan pertama yang ibu katakan kepada Vivi, sesampainya dia di rumah.
"Jadi Jemmy dah telpon ibu, buat apa? Biar ibu belain dia? Biar kita ga jadi putus?" ucap Vivi kesal.
"Tapi dia baik, dia cinta sama kamu, dia juga baik dan bisa menempatkan diri dalam keluarga kita" kata ibu lembut.
"Tapi buuukk.... kita beda prinsip bu.... Aku ga mau itu" Vivi hampir menangis sedih. Jika bisa jujur Vivi masih mencintai Jemmy, tapi apa boleh buat, dia tidak bisa mengikuti keinginan Jemmy.
"Ya sudah, kamu mandi dulu" ibu mengalah melihat Vivi sedih.
******
Di sisi lain Jemmy frustasi, dia sangat mencintai Vivi, tanpa sepengetahuan Vivi Jemmy sering menghubungi ibu, untuk sekedar menanyakan kabar Vivi, apa saja yang dia lakukan di rumah. Karena Vivi ga pernah mau mengangkat telpon nya.
Akhirnya suatu hari Vivi pun memergoki ibu sedang menerima telpon Jemmy.
"Bu... Kenapa ibu masih trima telpon nya, mau apa lagi sih dia?" tanya Vivi kesal.
__ADS_1
"Dia kan hanya mau menjalin hubungan baik dengan keluarga kita Vi, dia menanyakan kabar keluarga kita kok" kata ibu, yang Vivi curigai jika ibu berbohong.
"Itu kan hanya modus dia aja" kata Vivi.
"Ya sudah, yang penting niat Jemmy baik" kata ibu, menenangkan Vivi.
******
Rasanya cinta Vivi tertutup kebenciannya, melihat seringnya Jemmy menghubungi ibu, bahkan Vivi tau, Jemmy mengirimkan makanan kesukaan nya, buku kreativitas, dan bahan kerajinan tangan untuk Vivi. Karena Jemmy tahu Vivi senang berkreasi, dia juga mencari tahu hobby Vivi dari ibu. Dan ibu juga selalu mencari alasan yang tepat untuk Vivi mau menerima pemberian Jemmy.
"Buuuk... sudah jangan terima apapun pemberian dari Jemmy" kata Vivi, karena sudah setumpuk tapi ga di apa-apakan.
"Kenapa sih, dia terus menghantui aku" gerutu Vivi.
Sebenarnya Vivi malas, tapi setelah dia pikir-pikir, dari pada tidak ada kerjaan, mungkin lebih baik dia terima apa yang sudah di kirimkan Jemmy.
"Sabtu besok, aku mau ke kota" kata Vivi yang sebenarnya mau menghindar dari ibu, karena Vivi merasa ibu memihak pada Jemmy.
__ADS_1
"Buat apa? kamu minggu lalu kan abis dari sana?" ucap ibu lembut.
"Bosen di rumah, aku mau cari udara segar, di rumah semua Jemmy terus... Jemmy terus..." kata Vivi.
"Vi... Jemmy cuma mau jaga kamu, karena dia sayang kamu Vi" kata ibu, hati-hati mengingat Vivi sedang sensitif.
"Makanya itu aku males, karena dia cuma bisa ngomong sama ibu, beda waktu sama aku" kata Vivi.
"Vi... kalian perlu bicara, kalo kamu mau ibu bilang Jemmy, biar dia ngomong baik-baik sama kamu" kata ibu.
"Ga bu... Aku ga mau" suara Vivi meninggi.
"Vi... sampai kapan kamu mau diemin Jemmy, kamu harus dewasa Vi, kamu bukan anak-anak lagi, kalo memang putus baik-baik, bicarakan dengan baik-baik. Ga kucing-kucingan kaya gini?" tutur ibu tegas.
"Ibu ini ibunya siapa sih? Ibuku apa ibunya Jemmy? Kenapa segitunya belain Jemmy?" air mata Vivi sudah menggenang.
"Vi... Ibu cuma melihat Jemmy itu baik, hanya itu." ibu menahan agar beliau tidak ikut emosi.
__ADS_1
"Ibu hanya tau apa yang ibu liat, ibu kenal Jemmy hanya dengan beberapa kali ketemu bisa menilai seperti itu?" kali ini air mata Vivi sudah tidak bisa di bendung.
"Sudah Vi... Ibu hanya mau yang terbaik buat kamu" kata bunda lemah. Vivi meninggalkan ibu di ruang tamu, dan berlari menuju kamarnya. Menghempaskan diri ke ranjang tidurnya dan menangis.