
"Pak tolong tunggu sebentar ya, saya takut mereka masih mengejar saya, sampai saya dapat bus ya pak" Vivi memohon kepada bapak yang mengantarnya.
"Iya mbak, saya tunggu mbak disini" bapak itu iba dengan kondisi Vivi.
Tidak lama bus terakhirpun datang, Vivi merasa beruntung sekali, setelah mengucapkan trimakasih berkali-kali, diapun naik bus tersebut, mencari tempat duduk yang sampingnya sudah terisi bapak-bapak tua, bus masih berhenti membuat Vivi makin cemas.
"Pak boleh duduk disini, tolong bantu saya ya, saya di kejar-kejar orang jahat, saya takut" kata Vivi sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Iya nak, duduklah, kamu aman sama bapak" ucap bapak itu menenangkan. Dan benar saja, bus hampir berjalan, tapi kenek memukul kaca, tanda untuk minta bus berhenti.
__ADS_1
"Tunggu" kata kenek itu, dia pikir ada penumpang, tapi ternyata salah satu dari dua pria tadi naik ke atas bus, Vivi yang sejak naik teringat topinya, yang langsung dia pakai, sambil menunduk merapat ke arah bapak tua di sampingnya. Kemudian pria itu turun, karena hanya berdiri di depan, tanpa berjalan ke arah belakang, dimana Vivi duduk bersama bapak tua di sampingnya.
"Huuuftt" ada perasaan lega di benak Vivi setelah bus berjalan meninggalkan tempat itu.
"Apa yang terjadi nak?! tanya bapak di samping Vivi. Dan Vivi pun cerita apa yang dia alami baru saja kepada bapak itu.
"Nak, mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati. Jangan mudah percaya kepada orang lain, tidak semua orang baik nak, apalagi jika di luaran sana" bapak itu menasehati.
"Memang selama ini orang tua saya mengajarkan saya untuk bersikap baik kepada semua orang, saya pikir semua orang sama seperti yang orang tua ajarkan kepada saya" sambung Vivi
__ADS_1
"Hahaha.... tidak nak, di luar sangat keras, jadikan hari ini pelajaran hidup, jangan sampai terulang lagi. Kamu anak baik yang di ajar dari orang tua yang baik juga" bapak itu kembali menasihati.
"Trimakasih pak" Vivi mencerna kata-kata bapak itu.
"Semua apa yang bapak ini sampaikan semua benar, pengalamanku baru sedikit, tapi aku berharap pengalaman seperti ini yang terakhir" Pikiran Vivi melayang ke masa kecil Vivi, mungkin dia masih kelas empat SD.
Flashback on
Saat itu ibu Vivi punya pegawai, seorang waria panggilannya mbak Win, sudah cukup lama bekerja sama ibu. Vivi kecil sangat senang dengannya, karena dia sayang anak-anak. Suatu kali mbak Win minta ijin ke ibu, ajak Vivi tidur di kos nya, sudah seminggu ini mbak Win kos tidak jauh dari salon ibunya. Dulu sebenarnya mbak Win nginap di rumah ibu, tapi karena ga enak numpang di rumah orang terus, akhirnya berinisiatif untuk kos. Sebenarnya ibu tidak mengijinkan, tapi karena mbak Win ngeyel akhirnya ibu Vivi mengijinkan. Ibu mengijinkan Vivi di ajak mbak Win nginap, mungkin dia kesepian, pikir ibu.
__ADS_1
"Ayo Vi" ajak mbak Win kemayu, sambil tangannya terulur ke tangan Vivi. Vivi menyambut tangannya, digandeng melangkah keluar rumah. Vivi merasa senang karena dia sangat sayang sama mba Win, dia baik, sering kasih oleh-oleh, beliin apa yang Vivi mau, sifatnya keibuan. Walaupun Vivi kadang kesal dengan mbak Win, karena dia sering genit menggoda pria pelanggan salon ibu Vivi. Vivi kecilpun sering marah kalau ada pria, yang menggodanya.