PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Move on


__ADS_3

Dalam perjalanan kembali ke kos nya, Vivi mengingat semua kejadian hari ini, Vivi hanya menarik nafas panjang. Tapi dia bersyukur karena tahu dari awal, bukan setelah mereka benar-benar pacaran. Jadi sakitnya belum begitu dalam.


"Lupakan... Lupakan... Dia..." Vivi memejamkan mata, mencoba melupakan yang terjadi hari ini.


***


Setahun berlalu, selama itu juga dia tidak pernah berhubungan lagi dengan Deddy, dia benar-benar hilang dari ingatannya. Vivi sibuk dengan kuliahnya dia pun sudah sangat jarang ke rumah neneknya.


Setiap sabtu, minggu dia lebih sering di pulang dari pada tinggal di kos. Sekali jalan, Vivi harus berganti satu bus kota, dan dua kali bus antar kota, yang memakan waktu kurang lebih lima jam untuk sampai di rumahnya.


Hari itu, di tengah minggu dia akan balik ke kos setelah dia pulang sehari, karena di hari minggu, kampusnya ada acara bazaar.


Dalam pergantian ke bus anyar kota yang kedua Vivi duduk di belakang pojok kanan, adalah tempat favoritnya. Karena selain di sana dia merasa lebih aman, bisa melihat sekelilingnya. Dia juga bisa menikmati pemandangan luar, yan tidak membuatnya merasa bosan.


Bus mulai bergerak pelan, tanda mau keluar dari terminal, tapi kenek memukul kaca, tanda menyuruh sopir berhenti karena ada penumpang yang naik atau turun. Dari sebelah kanan Vivi melihat seseorang setengah berlari memberhentikan bus tersebut.


Seorang cowok, dengan kemeja krem, memakai dasi, membawa koper. Berpawakan tidak terlalu tinggi, dengan tubuh proposional kulit bersih, bermata sipit, kalau jaman sekarang mirip oppa-oppa korea. Tapi dari penampilannya mirip seles obat. Eeeiittsss... mirip eksekutif muda, atau entahlah...

__ADS_1


Dia naik tapi Vivi sudah tak mempedulikannya, Vivi hanya tahu ada seseorang di sebelahnya, sampai bus berjalan kira-kira lia belas menit, Vivi melirik ke sebelahnya, karena Vivi merasa orang itu melihat ke arah Vivi.


"Jangan-jangan dia cowok jahat pencari anak-anak abege.... hiiiii.... serem" Vivi menggelengkan kepalanya pelan.


Tapi cowok itu tidak terganggu sedikitpun, sekitar sepuluh menit berlalu, Vivi melirik lagi, tepat cowok itu juga melirik Vivi.


Deg!


"Oon banget.... Kenapa aku liat dia" Vivi merutuki dirinya sendiri.


"Turun mana mbak?" tanya cowok itu.


"Mau pulang?" tanya nya lagi.


"Mau balik ke kos" Vivi memberanikan diri menengok, penasaran sama wajahnya.


"Cowok yang di terminal tadi?! Lumayan ganteng juga sih.... Duh Viviii.... kenapa mikir cowok lagi.... huuufft" pikirnya.

__ADS_1


"Mau balik ke kos, dari rumah" jawab Vivi.


"Emang rumahnya mana?" tanyanya lagi.


"Desa J" jawab Vivi lagi.


"Jeremy, panggil aja Jemmy" dia mengulurkan tangannya.


"Vivian, biasa di panggil Vivi" kata Vivi sambil tersenyum.


Akhirnya obrolan mereka mencair dengan karena mereka nyambung. Ternyata dia tidak tinggal dengan orang tuanya. Dia tinggal dengan oma nya, yang belum lama meninggal. Orang tuanya tinggal satu kabupaten dengan Vivi, Jemmy hanya seminggu sekali datang kesana.


Satu jam perjalanan Jemmy sebentar lagi turun, ketika lampu merah, sebelum Jemmy turun, dia minta nomer telepon kos Vivi.


Dia mencatat di tangan nya, Vivi tersenyum menutup mulutnya. Jemmy sadar di tangannya banyak sekali tulisan nomer telepon. Seolah Jemmy tahu apa yang Vivi pikirkan


"Ini no telepon beberapa toko elektronik dan service an elektronik, relasi kerjaan" katanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kirain kenalan nya banyak hahaha..." ucap Vivi sambil tertawa. Dia hanya geleng-geleng kepala, masih tersenyum ke arah Vivi. Bus berhenti di halte,sebelum dia turun, dia menoleh lagi.


"Duluan ya, ati-ati di jalan" pesannya, Vivi hanya mengangguk.


__ADS_2