
Di dalam bus perjalanan pulang dari rumah neneknya, ingatan Vivi masih melayang-layang ke kejadian hari ini. Mulai dari awal pertemuanya dengan kedua cowok tadi, sampai saat kejadian perpisahan yang baru saja di alaminya.
"Hari......." gumamnya lirih
"Rasanya ga sabar sabtu lagi buat ketemu dia" pikir Vivi sambil membekap mulutnya sendiri, karena tanpa di sadari, dia sudah senyum-senyum sendiri.
Dua jam perjalanan sudah di lalui tidak terasa dia sudah sampai di desa nya. Turun dari bus Vivi jalan kaki menuju rumahnya. Hanya beberapa menit saja dia sudah sampai rumah.
"Kenapa kamu, Vi?" tanya ibunya setelah masuk rumah, wajah Vivi masih kelihatan sumringah, Vivi mencium tangan ibunya.
"Eh, ga apa-apa bu" jawab Vivi malu.
"Gimana kabar mbah putri kamu?" tanya ibu lagi.
"Baik bu, semua sehat" jawab Vivi lagi.
"Syukurlah" sahut ibu singkat.
"Ya udah aku mandi dulu ya bu" kata Vivi
"Iya, jangan lupa makan sekalian, udah malem" kata ibu mengingatkan.
__ADS_1
"Okey deeh" kata Vivi semangat.
Setelah makan Vivi masuk kamar, langsung naik ke kasur sambil guling-guling ke kanan kiri, sambil bayangin kejadian sepanjang hari ini. "Emang bener ya, jatuh cinta bikin kaya orang gila, kok hari terasa lama banget ya? kapan sabtu lagi" pikir Vivi, begitu konyolnya, karena dia baru saja pulang dari rumah neneknya.
**********
Rasanya seperti setahun nunggu hari sabtu lagi, Vivi pamit ke ibunya berangkat ke rumah neneknya lagi.
"Bu, Vivi berangkat ke rumah mbah putri ya" Vivi pamit sambil mencium tangan ibu nya.
"Iya hati-hati di jalan, salam buat keluarga disana.
"Siaaap" sahut Vivi cepat, sambil mengangkat kedua jempolnya.
**********
Dengan semangat Vivi menuruni bus antar kota yang mengantar dia ke kota, dia menyebrang jalan menuju halte bus kota. Berganti bus kota menuju rumah neneknya.
Setelah berbasa basi dan menyampaikan pesan untuk neneknya dia pamit keluar ke rumah Vero.
"Ta, mbak Vero kemana?" tanya Vivi yang sedang berjalan keluar rumah.
__ADS_1
"Dia lagi ke rumah mbak Vera, temen sekelas mbak Vero yang tomboy, cerewet itu lho" jawab Sapta.
"Ooh, ya ya ya..... Eh ngomong-ngomong Hari kesini ga?" tanya Vivi, bukannya fokus ke jawaban Sapta, malah fokus sama yang membuat dia semangat untuk datang ke kota itu.
"Cieeeeee.... yang lagi jatuh cinta, eheemmmm....." goda Sapta, yang berhasil membuat pipi Vivi memerah.
"Apaan siih!" sahut Vivi pura-pura marah.
"Tapi tau ga? Kamu dah berhasil bikin temen jadi berantem" kata Sapta lagi.
"Maksudnya?" Vivi penasaran sama kata-kata Sapt, sambil menerka-nerka.
"Hari sama Diki berantem gara-gara kamu" dari kata-kata Sapta, dia terlihat sedikit meyesal
"Mereka yang berantem kenapa aku yang di salahin?" ujar Vivi sewot.
"Mereka berantem gara-gara ngerebutin kamu, tau!" jawab Sapta
"Apa?!" mata Vivi melotot mendengar jawaban Sapta, menelan ludah cepat. "Kok bisa?!" gumamnya lirih.
Vivi masih ga habis pikir dengan kata-kata Sapta.
__ADS_1
"Diki waktu ketemu minggu lalu, ga banyak ngomong, kenapa dia bisa suka sama aku? Ga mungkin, ga mungkin...... Sapta pasti bohong" kata Vivi dalam hati. Vivi masih bingung dan mencoba mencerna kata-kata Sapta tadi, masih belum mau percaya.