
Sampai di tempat nongkrong mereka belum melepas tangan mereka, Diki terlihat membuang muka. Vivi melihat tangannya yang masih bertautan, lalu melepas tangan Hari, canhgung. Dia tidak mau menyakiti Diki, walaupun sama sekali tidak memiliki perasaan apapun dengan Diki.
"Cieeee yang baru jadian" ledek teman-teman mereka. Vivi yang langsung duduk di dekat Sapta, wajahnya memerah.
"Iya dong! Emang kalian jomblo" Hari gantian meledek mereka.
"Sialan!" salah satu teman mereka nyeletuk.
"Awas kalo bikin nangis Vivi, aku aduin ke bapaknya" kata Sapta mengancam.
"Tenang aja boss, percaya sama aku" jawab Hari sombong.
"Ta, aku pulang dulu ya" Diki mulai tak nyamandengan keadaan, dia pamit ke Sapta.
"Mau kemana Dik" tanya Vivi resah.
"Aku janjian sama temen Vi, aku balik duluan" katanya sambil mengayuh sepeda gunungnya. Vivi terpaku ga enak sama keadaan ini, Hari yang sedari tadi menatap Vivi, terlihat geram, dan berbisik.
"Kenapa? Kamu ga suka dia pergi?" tanya Hari tegas.
__ADS_1
"Bukan gitu Ri, aku ga nyaman aja, kan kalian berteman, aku merasa bersalah karena aku kalian begini" jawab Vivi gugup. Kata-kata mereka tenggelam dengan suara gitar dan nyanyian teman-teman mereka.
"Vi, biar Diki jadi urusanku, kamu ga usah kuatir ya" Hari meyakinkan Vivi
Vivi mengangguk sambil tersenyum. Mereka lalu ikut nyanyi temen-temennya melupakan yang baru saja terjadi.
*********
Dua tahun berlalu, perjalanan cinta Vivi dan Hari tidak ada masalah yang berarti. Walaupun hanya bertemu seminggu-dua minggu sekali. Pertengahan Vivi masuk ke kelas tiga SMP. Seperti biasa Hari datang di malam minggu.
"Vi, kenapa kamu? Ada masalah?" tanya Hari yang sedari tadi melihat kekasihnya tidak semangat.
"Bagus dong, bentar lagi kamu SMA, ayo semangat dong!" kata Hari menyemangati.
"Tapi kita ga akan ketemu lama" Vivi terlihat kesal. Karena saat itu belum ada HP, baru ada telepon kabel, Vivi berpikir ga akan bisa ketemu Hari lagi, tapi mereka pun tidak terpikir untuk bertukar no telepon.
"Mau gimana lagi, kita kan masih sekolah" jawab Hari tanpa semangat seperti tadi.
"Yang penting aku sayang kamu. Aku tunggu kamu datang kesini lagi." kata Hari menghibur Vivi, sambil menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Ya" sahut Vivi hampir menangis.
"Udah dong Vi, jangan bersedih" dia kecup kening Vivi, mereka terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ada firasat tidak enak dalam hati Vivi. Tapi di tepisnya
"Aku berharap kita akan seperti ini lagi..... NANTI" batin Vivi sedih.
*************
Beberapa bulan berlalu, Vivi sudah selesai ujian, hari minggu pagi, dia ikut ke tempat usaha ibu nya yang buka salon sedari Vivi masih balita. Mungkin ibu nya termasuk senior dalam usaha tersebut.
Kira-kira jam 10 pagi, tiba-tiba om nya, adik dari ibu Vivi menjemputnya, menggunakan motor.
"Vi, ada Sapta datang, ayo pulang" kata om nya.
"Bu, aku pulang dulu ya" Vivi ijin pamit ke ibu nya, sambil mencium tangan ibu nya.
"Iya, hati-hati" kata ibu lembut, Vivi tersenyum mengiyakan.
**************
__ADS_1
"Hari?!" ucap Vivi terkejut, sambil membelalakan matanya melihat Sapta dan Hari datang, dia grogi, seneng tapi juga takut. Karena selama ini ibu nya tidak mengijinkan dia pacaran sebelum dewasa, takut mengganggu sekolahnya.