PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Kenalan


__ADS_3

Minggu pagi seperti biasa Vivi dan Vero sepedaan menuju ke stadion yang letaknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah Vero. Biasanya setiap hari minggu stadion ramai di kunjungi orang yang mau olah raga atau yang hanya sekedar cuci mata.


Dalam perjalanan, ada dua cowok sedang mengayuh sepeda, yang di sejajarkan dengan sepeda Vivi dan Vero.


"Mbak boleh kenalan ga?" Sapa cowok putih, bermata sipit, perpawakan kurus tinggi, sambil menatap Vivi, dan satu lagi kulitnya lebih gelap, berhidung mancung postur tubuhnya sedikit lebih besar daripada teman satunya.


Vivi mengangguk dan tersenyum, rasanya jantungnya berdegup lebih kencang menatap yang mengajaknya bicara, pipinya merah merona.


"Hari!" katanya singkat sambil tersenyum.


Vivi belum menjawab, lalu dia melirik cowok hitam manis itu.


"Diki" katanya sedikit menyunggingkan senyumnya


"Vero.... lho bukannya kamu temen main Sapta?" tanya Vero.


"Oh iya, aku temen main Sapta, kadang juga nongkrong bareng. Mbak kakaknya Sapta ya?" tanya Hari


"Iya... ooh makannya aku ga asing sama kamu" kata Vero lagi.


"Dia siapa mbak?" tanya Hari lagi sambil melirik Vivi.


"Oh, ini Vivi adikku, dia dari kampung, liburan sabtu-minggu" kata Vero yang selalu memperkenalkan Vivi sebagai adik ke teman-temannya.


"Kelas berapa, Vi?" tanya Hari yang memang pembawaanya lebih cerewet daripada Diki.

__ADS_1


"Satu SMP" jawab Vivi malu-malu


"Tungguin aku ya?" kata Hari menggoda


Kening Vivi berkerut sambil tersenyum, seolah bertanya


"Maksudnya?"


"Aku ketinggalan satu tahun." kata Hari sambil ketawa, dia masih duduk di kelas enam SD. Tapi penampilannya dan gaya nampak sedikit lebih dewasa.


Vivi geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


"Mbak aku duluan ya" kata Hari ke Vero sambil melambaikan tanyannya ke arah Vivi sambil mengedipkan mata kirinya.


"Duluan ya mbak" kata Diki menyusul Hari


********


"Hari, kaya nya naksir kamu Vi, dia cakep ya?" kata Vero setelah punggung kedua cowok itu tak terlihat.


"Iya dia cakep" jawab Vivi sambil senyum-senyum mengingat-ingat kelakuan Hari tadi.


"Cieeeee yang lagi berbunga-bunga" goda Vero


"Apaan sih, belum tentu juga dia naksir aku, udah ah ayo fokus olahraga?" jawab Vivi grogi, mengalihkan perhatian Vero.

__ADS_1


Tiga kali putaran mereka sudah berkeringat dan kelelahan, mereka pun memutuskan untuk pulang.


*********


Sore harinya Vivi pamit pulang, tapi sebelumnya Vivi mencari Sapta minta di antar ke terminal, di rumahnya ga ada. Vivi mencoba keluar rumah, mencari Sapta ke tempat biasa dia nongkrong dengan teman-temannya. Benar saja, Sapta baru main gitar sambil nyanyi.


Deg....... disana ada Hari dan Diki juga. Vivi mendekat ke Sapta sambil menunduk malu, wajahnya serasa kesemutan.


"Ta, anterin aku ke terminal" kata Vivi ga berani menatap Hari.


"Bentar satu lagu lagi" jawab Sapta


"Emang, mau pulang kemana?" tanya Hari.


"Ke desa" jawab Vivi dengan pipi merona.


"Ngapain pulang, sekolah aja di sini, kan ayah kamu juga disini" kata Hari lagi. Tanpa di sangka ternyata Hari cari tau info tentang Vivi ke Sapta, bahkan kedatangannya tiap sabtu-minggu, Hari juga sudah kenal keluarga juga ayahnya Vivi.


"Ga ah, enak di desa, nyaman, adem. kesini kalo pas liburan aja." jawab Vivi sambil tersenyum


"Berarti Sabtu depan ke sini lagi dong?" tanya Hari, dengan nada berharap.


"Ga tau juga yaaaa, yuuk aku pulang dulu ya" kata Vivi sambil berlalu. Di susul Sapta setelah menyelesaikan satu lagunya, dan menyerahkan gitarnya ke tangan Diki.


"Titi DJ ya Vi, aku tunggu kamu minggu depan" teriak Hari lagi

__ADS_1


Vivi tidak menjawab, dia hanya bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Mungkin jika bisa di gambarkan seluruh tubuhnya di penuhi bunga-bunga. Apa ini yang di namakan cinta monyet, cintanya anak-anak. Setelah Vivi tahu Lilo agak jaga jarak, dia tidak pernah berharap lagi.


__ADS_2