
Kejadian Vivi sakit sudah berlalu, Vivi sudah kembali beraktivitas di kampusnya lagi. Sebelum Vivi balik ke kampus Jemmy terus menerus mendatanginya, karena dia sangat khawatir dengan keadaan Vivi.
Sampai-sampai di kampung Vivi terdengar gosip kalau Vivi hamil di luar nikah dan sakitnya itu karena kandungannya di gugurkan. Bahkan ada orang lain yang menggosipkan kalau keluarga Vivi sudah menentukan bulan pernikahan. Vivi dan keluarga nya sudah tahu siapa yang menyebar gosip itu, tapi membiarkan saja. Karena mereka menganggap karma akan ada, dan Tuhan lebih tahu dari pada mereka.
Sebenarnya Vivi tidak ambil pusing gosip yang berkembang, hanya saja kasihan ibu nya yang seorang single parent harus terbebani hal-hal tidak penting seperti itu.
Drrt drrrttt
"Halo" Vivi mengangkat handphone nya yang bergetar, maklum saja, beberapa hari lalu saat di angkutan kota handphone nya di beri ring tone. Semua yang ada di dalam angkot tersebut sontak menengok ke arahnya. Karena saat itu handphone masih merupakan barang mahal. Yang memiliki barang seperti itu pada usia Vivi, jika bukan anak orang kaya berarti wanita panggilan. Dan saat itu Vivi tidak enak hati, akhirnya memutuskan untuk merubah settingan di handphone nya dengan mode getar.
"Vi, malam minggu kita makan malam di kota S ya, rumah makan Pondok Bambu, jam tujuh sampe di sana ya" suara Jemmy di seberang sana.
__ADS_1
"Tapi minggu ini aku kan belum pamit sama ibu kalo ga pulang" ujar Vivi ragu.
"Kamu telepon ibu aja, ntar jatah uang makan aku yang kasih" kata Jemmy.
"Ya udah ntar aku telepon ibu dulu ya" kata Vivi.
******
Akhirnya malam yang di janjikan datang, Vivi berangkat dari rumah neneknya, karena memang itu tempat yang di janjikan Jemmy. Vivi minta tolong Gunawan, tetangga neneknya untuk mengantar nya ke rumah makan yang di janjikan.
"Mbak, meja atas nama pak Jemmy nomer berapa ya?" tanya Vivi kepada seorang perempuan cantik berpakaian rapi di belakang meja tersebut.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya kak" jawabnya sambil membuka menatap komputer di depannya.
"Meja pesanan pak Jemmy nomer tujuh belas kak, di bagian lesehan, mari saya antar?" katanya ramah.
"Ga usah mbak, makasih... saya tau tapi tadi ragu karena ada beberapa orang disana" ucap Vivi membalas senyuman resepsionis itu.
"Iya, pak Jemmy pesan meja untuk lima sampai enam orang kak" kata nya lagi.
"Oke makasih mbak" Vivi tersenyum meninggalkan meja itu, berjalan menuju meja yang di pesan Jemmy. Menatap dua wanita seusia Jemmy, dan seorang pria dewasa. Mereka terlihat tidak ada kemiripan dengan Jemmy, itu artinya mereka bukan saudara Jemmy.
"Hai Vi, kamu baru datang" sapa Jemmy, lalu mempersilahkan Vivi duduk di sebelahnya, sedangkan dua wanita dan satu pria teman Jemmy, begitulah menurut pemikiran Vivi.
__ADS_1
Setelah Jemmy memperkenalkan mereka, mereka memesan makanan, tapi masih saja Vivi merasa tidak nyaman. Agung dan dua wanita itu Oca dan Oci, kakak beradik tetangga tante Esti, tante Jemmy yang sudah pernah di kenalkan Jemmy kepada Vivi, bahkan Vivi sudah beberapa kali di ajak ke rumah tante Esti.
"Aku permisi ke toilet dulu ya" Jemmy berdiri meninggalkan mereka. Vivi mulai tak nyaman dengan keadaan itu, duduk bersama orang yang tak di kenalnya.