PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Kebahagiaan Vivi


__ADS_3

"Apa kabar sayang?" kata Hari menggoda sambil menaikkan alisnya berulang-ulang, Vivi masih bengong, belum beranjak dari depan pintu.


"Heeemmmmm.... obat nyamuk niiih" kata Sapta pura-pura kesal.


"Hahaha.... makanya cari cewek sob" ledek Hari sambil melempar bantal sofa ke Sapta.


Vivi melangkah menuju dapur membuat teh, sambil menyiapkan minuman. Hari mengikuti di pintu sambil memperhatikan tingkah Vivi yang gugup.


"Kenapa? Kaget aku datang... hahaha" Hari semangat menggoda Vivi melihatnya gugup.


"Udah ah.... kamu duduk sana, bentar lagi selesai nih" ujar Vivi yang ga bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Lalu di bawa nya teh sama camilan itu ke ruang tamu.


"Ayo di minum" Vivi duduk di sebelah Hari yang langsung merangkul pundak Vivi. Vivi melirik tajam ke Hari, ga enak sama Sapta.


"Tenang aja, bentar lagi Sapta kasih kesempatan kita kok" Hari mengusir Sapta dengan cara menyindir.


"Iya... iya... aku sadar diri kok" Sapta berdiri sambil berlalu setelah meminum teh nya.


Sapta menuju rumak kakek-nenek Vivi, orang tua ibu Vivi, yang rumahnya di depan rumah ibunya.


"Vi, aku kangen" Hari memeluk Vivi setelah Sapta berjalan menjauh dari mereka.

__ADS_1


"Iya Ri, aku juga" Vivi membalas pelukan Hari, seperti dulu, jantungnya berdegup kencang. Hari merenggangkan pelukannya dan ******* bibir Vivi, agak lama.


"Sudah Ri" kata Vivi mengusap bibirnya. Dia tampak cemas


"Kenapa? Aku masih kangen tau" kata Hari sambil menggenggam tangan Vivi


"Takut ada yang datang" kata Vivi lagi.


"Aku bisa fokus ke kamu, dan ke jendela Vi" Hari berharap masih melanjutkan ciumannya. Sambil sesekali melirik ke jendela, karena rumah Vivi di sebelah pintu ada jendela kaca besar yang tampak gelap dari luar. Setelah di rasa aman, Vivi pun tidak menolak Hari kembali ******* bibirnya, sambil tangan mereka saling menggenggam.


Entah berapa lama, suara siulan Sapta mendekat ke arah pintu menghentikan aktivitas mereka. Vivi mengusap bibirnya sambil merapikan duduknya. Hari menarik kepala Vivi ke pundaknya, sambil tetap merangkul pundak Vivi.


"Apaan sih, Ta. Duduk sini, makan kue nya" sahut vivi yang terlihat merona pipinya


Ting... ting... ting....


Suara mangkok bakso di pukul.


"Mas bakso tiga ya" teriak Vivi ke tukang bakso langganan Vivi, yang biasa mangkal beberapa saat di perempatan dekat rumah Vivi.


"Iya mbak Vivi, lagi ada tamu ya?" kata tukang bakso semangat, Vivi tersenyum

__ADS_1


"Iya mas, pacarnya" sahut Hari pelan, yang tidak mungkin terdengar keluar rumah.


"Hari!" teriak Vivi sambil melotot. Walaupun tukang bakso tidak mendengar, tapi dia takut ada orang lain yang mendengar.


"Hahaha.... emang kenyataan kan" kata Hari sambil tertawa keras. Vivi menegepalkan tangannya yang di tunjukkan ke arah Hari.


"Iya... iya aku diam" katanya lagi sambil membungkam mulutnya sendiri menahan tawa. Dia melihat Vivi yang seperti menahan marah. Walaupun dia tahu, Vivi tidak mungkin serius.


"Ini, mbak Vivi baksonya" kata tukang bakso di depan pintu, sambil menyodorkan nampan berisi tiga mangkok bakso beserta saus, sambel dan kecapnya.


"Makasih ya mas" jawab Vivi sambil menyodorkan uangnya.


"Pas mbak, sama-sama" tukang bakso menghitung uang, dan mengangguk sambil melangkah kembali ke gerobaknya, kembali memukul kembali mangkoknya


"Ayo di makan, ibu tadi ga masak, soalnya aku ikut kerja dan biasanya kalo minta jajan sama ibu" ucap Vivi sambil nyengir, lalu menaruh nampan ke meja tamu.


"Dasar manja" kata Hari sambil nyolek pinggang Vivi yang duduk di sampingnya.


"Biarin, weeek" kata Vivi sambil menjulurkan lidahnya.


Sepanjang hari ini Vivi masih berbunga-bunga dengan apa yang sedang di alaminya hari ini.

__ADS_1


__ADS_2