
Jemmy terbangun, dia buka gorden kamar, matahari sudah masuk menembus jendela kamar mereka. Vivi menggeliat tapi dia kembali tidur. Jemmy tersenyum melihatnya, dia lihat jam tangannya yang tergeletak di meja kecil di samping ranjang mereka, jam tujuh lima belas.
"Sayang kamu sempet masuk kuliah ga?" Jemmy menyentuh dahi Vivi, panasnya sudah turun. Vivi membuka satu matanya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Vivi lalu kembali memekakkan matanya.
"Tujuh seperempat" jawab Jemmy mengusap rambut Vivi.
"Yaaah.... ga keburu, kuliahku jam lapan" ucap Vivi sedih.
"Ya udah kamu ijin sama temen mu sana" perintah Jemmy. Vivi menghubungi Eka, minta tolong di ijinkan ga masuk kuliah.
"Koko ga kerja?" tanya nya, setelah menutup hp nya.
"Senin, ga ada jam kok, jadi aku bisa nemenin kamu sampe siang" kata Jemmy menoel hidung Vivi.
"Ya udah aku mau tidur lagi" Vivi kembali menarik selimut.
__ADS_1
"Sayaaanggg.... udah siang..." Jemmy berusaha menarik selimut Vivi. Tapi Vivi mempertahankan selimutnya. Dia menggelitiki Vivi, yang membuat Vivi tertawa.
"Koooo.... hentikan.... udah... udah..." Vivi menahan tangan Jemmy.
"Makanya bangun" Jemmy mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Vivi. Jantung mereka berdegup kencang, lalu bibir mereka saling menyentuh. Jemmy menekan leher Vivi memperdalam ciuman mereka.
Tubuh mereka saling menegang, Jemmy tak tahan kembali melancarkan aksinya, berusaha menusukkan miliknya ke milik Vivi.
"Aaawwww.... kooo... saaa... kiiit..." Vivi menggigit bibir bawahnya, menahan sakit miliknya.
"Iya aku melakukan perlahan sayang" bisik Jemmy ke telinga Vivi. Jemmy berusaha dengan segala cara, akhirnya bisa menembus milik Vivi.
Akhirnya dengan susah payah, Jemmy mencapai puncaknya, yang di muntahkan di paha Vivi, dan tidak dengan Vivi, yang masih kesakitan, dan merasakan jijik dengan sesuatu yang lengket di pahanya.
"Aneh banget, milik Vivi masih sempit, tapi kenapa tidak ada bercak darah?" pikiran Jemmy gusar berjalan masuk ke kamar mandi.
Vivi sejak tadi terdiam, dia hanya termenung, takut, dengan apa yang mereka lakukan barusan. Jemmy keluar dari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, melihat Vivi yang hanya terdiam.
__ADS_1
"Vivi sayang... kamu kenapa hemm?" tanya Jemmy mendekati ranjang, Vivi menggeleng pelan.
"Vi... please, ngomong dong sayang, jangan diem aja..." Jemmy merengkuh tubuh Vivi, lalu mendekapnya.
"Aku takut ko..." Vivi menunduk dalam.
"Takut kenapa sayang? Hemmm..." Jemmy mengecup puncak kepala Vivi.
"Takut koko ninggalin aku.. Apa lagi sampai aku hamil" Vivi menitikkan air mata.
"Sayang... hey... tatap mata aku... Apa kamu meragukan aku? Kalo sampai kamu hamil, aku janji aku akan bertanggung jawab sayang, aku cinta kamu bukan untuk main-main. Aku serius!" Jemmy meyakinkan Vivi.
"Koko serius? Koko ga cuma lagi bikin seneng aja kan?" tanya Vivi meyakinkan dirinya sendiri, dengan menatap mata Jemmy dalam.
"Ssstt... liat ada kebohongan ga dalam mataku?" mereka saling bersitatap. Vivi menggeleng, ragu. Jemmy meraih kedua jemari tangan Vivi, mengecup keduanya.
"Usiaku bukan untuk main-main lagi sayang... kamu tau ga? Temen-temen aku anaknya sudah ada yang SMP, malah ada yang udah mau masuk SMA lho, masa aku mau main-main lagi" Jemmy menyingkirkan anak rambut Vivi.
__ADS_1
"Kalo aku mau main-main, kenapa aku minta kamu mengenalkan orang tua kamu? Mendingan cukup aku apel ke kos kamu aja" Vivi kembali tertawa mendengarnya, dan membenarkan kata-kata Jemmy.
"Tolong ya, percaya sama aku, aku ga akan ninggalin kamu" kata Jemmy membuat Vivi makin yakin pada pria yang mengisi hatinya akhir-akhir ini. Mereka berpelukan, saling menatap dan tersenyum bahagia.