
Sesampainya di kos mbak Win, di ajaknya Vivi makan sate yang di belinya di dekat pasar, dalam perjalanan ke kos tadi.
"Heeeii, anak manis datang lagi" kata Dwi, pria bertubuh tegap, tinggi, besar, berkulit bersih, berwarna sawo matang.
"Iya om" kata Vivi kecil polos.
"Bobok sini?" tanya Dwi, Vivi kecil mangangguk, tanda mengiyakan.
"Nanti mau gak bobok sama om?" tanya Dwi lagi. Vivi melihat mbak Win seolah bertanya. Mbak Win menggeleng, seperti seorang ibu yang tidak mengijinkan anaknya main keluar rumah, tangannya yang lentik menyuapi Vivi lontong.
"Vivi bobok sama mbak Win, om" kata Vivi kecil yang sangat patuh sama mbak Win.
Lalu Dwi dan mbak Win terlibat obrolan, Vivi tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dwi masuk ke kamarnya yang tepat ada di depan kamar mbak Win.
"Vi, om punya permen buat Vivi" Dwi menggoda Vivi supaya datang, Vivi menggeleng, dia masih patuh dengan mbak Win. Tiba-tiba mbak Win masuk kamarnya, berganti baju dan celana panjang.
__ADS_1
"Mbak Win, mau kemana?" tanya Vivi melihat mbak Win sudah berganti pakaian.
"Mbak Win keluar bentar ya, ada yang mbak mau beli. Vivi di sini jangan kemana-mana ya, mas nitip anak gue bentar" kata mbak Vivi mengingatkan Vivi, sambil melongok dari pintu kamar Dwi, Dwi memberi jempol, pertanda setuju, kemudian melihat ke arah Vivi, Vivi mengangguk mengiyakan.
Sepeninggalnya mbak Win, Dwi mencoba masih merayu Vivi untuk datang.
"Vi, sini, ga takut sendiri, nanti kalo ada penculik lho" Dwi menakuti dan membujuk Vivi kecil untuk datang ke kamarnya. Vivi takut melihat ke kanan kiri, dan sekeliling tempat itu penerangan sangat minim, kemudian berjalan ke arah kamar Dwi.
"Sini masuk, bobok dulu, sambil nunggu mbak Win datang" kata Dwi sambil menutup pintu, lalu menyuruh Vivi naik ke atas kasurnya.
Cup...
"Vivi gerah ya? Buka dong bajunya biar ga gerah" Dwi coba merayu Vivi kecil. Vivi mengikuti maunya Dwi, mecoba memejamkan mata lagi, tapi tangan Dwi mengelus tubuh Vivi kecil. Vivi takut, tapi tidak berani berbuat apa-apa, dia diam dan mengunci mulutnya, tak berani bersuara. Beberapa saat kemudian...
Tok... tok... tok...
__ADS_1
Suara pintu di gedor keras dari luar. Dwi tampak kesal dan memakaikan kaos Vivi yang tadi dilepasnya. Vivi mengucek matanya, Dwi membuka pintu santai. Mbak Win di depan pintu melongok ke arah tempat tidur.
"Vivi, bobok sama mbak yuk" kata mbak Win cemas, tangannya masih menenteng kantong plastik.
"Loe, apain anak gue mas?" dia bebisik di telinga Dwi sambil melotot.
"Aku cuma ngajak dia tidur, kasian dia ngantuk, di kamar sendirian sendirian" sahut Dwi tanpa merasa bersalah. Vivi turun dari kasur berlari keluar.
"Mbak Win, takuuut" Vivi kecil memeluk kaki mbak Win.
"Ya udah bobok di kamar mbak yuk" kata mbak Win, sambil menatap tajam Dwi. "Awas loe ya mas!" mbak Win mengancam, dengan sorotan mata tajam, seolah tatapannya menusuk ke ulu hati. Dwi mengacak-acak rambutnya, tampak kesal sendiri karena ada hasrat yang tak tersalurkan.
*********
"Vivi ga kenapa-napa?" tanya mbak Win sambil memperhatikan seluruh tubuh Vivi. Vivi menggeleng, membuat mbak Win lega.
__ADS_1
"Ya udah bobok gih" mbak Win menyelimuti Vivi dan membaringkan tubuhnya sendiri.
Flashback off