PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Sakit


__ADS_3

Vivi berjalan ke warung makan di dekat kos nya sendiri, karena dia mau yang ekspres karena jika dengan teman pasti akan lebih lama kembali ke kos.


"Bu, nasi rames pake telur, sama es sirop, di bungkus ya bu" kata Vivi sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan uang sepuluh ribuan.


"Iya mbak" dengan cekatan ibu itu membungkus yang di pesan Vivi.


"Sepuluh ribu mbak" kata ibu itu sambil menyerahkan plastik kecil ke arah Vivi. Vivi menerima bungkusan itu, lalu menyerahkan uang kepada ibu itu.


"Makasih mbak" ucap ibu itu ramah.


"Sama-sama bu" Vivi meninggalkan warung tersebut, dia berjalan cepat agar segera menyelesaikan makan dan melanjutkan tugasnya.


Sesampainya di kos, rasa haus yang menyerang di tambah hawa udara kota yang panas itu membuat Vivi segera menghabiskan es sirop yang di belinya dengan perut kosong.


Tidak lama dia menghabiskan makannya, lalu kembali menyelesaikan tugas nya Satu jam semuanya sudah selesai, Vivi merenggangkan otot tubuhnya, setelah menyimpan file nya.


"Besok pagi berangkat lebih awal, biar bisa ngeprint dulu" pikir Vivi. Dia ingin segera cepat tidur agar besok tidak kesiangan bangunnya.


Pukul satu malam keringat dingin membanjiri tubuh Vivi, suhu tubuhnya panas tinggi, perutnya terasa mual, Vivi berlari ke arah pintu, membuka pintu yang tiba-tiba sulit untuk di buka. Dan akhirnya.....

__ADS_1


Hoeeeekkk.....


Vivi memuntahkan semua isi perutnya, di depan pintu kamar, tepatnya masih di dalam kamar.


"Vi, kamu kenapa?" hanya suara itu yang Vivi dengar, selanjutnya Vivi ga ingat apa-apa lagi. Entah berapa lama, Vivi tidak tahu, yang dia tahu begitu membuka mata di dahi nya ada kain basah. Dan hari masih gelap, dan kedua teman sekamarnya sudah kembali tidur.


Vivi bangun lalu keluar menuju ke kamar lagi, perutnya seperti di aduk. Di dalam kamar mandi isi perutnya kembali terkuras. Bahkan sampai pagi dia tidak tidur, karena dia harus bolak balik ke kamar mandi.


*******


Vivi sempat nitip ijin sakit ke teman kampusnya, yang satu kos dengannya. Teman-teman sekamarnya sudah berangkat kerja. Lalu Vivi menghubungi Jemmy.


"Ko..." kata Vivi lemah.


"Vi.... kamu kenapa? Abis nangis? Kamu sakit?" tanya Jemmy panik.


"Iya... aku sakit" ucap Vivi lagi.


"Sakit apa? Trus kamu dah minum obat?" tanya Jemmy lagi.

__ADS_1


"Belum... belum tau sakitnya... Koko bisa kesini?" Vivi berharap.


"Iya, bisa tapi bentar lagi ya, ini masih tiga puluh menit lagi selesai ngajar, kalo bisa minta tolong temen suruh nganter ke rumah sakit ya" kata Jemmy yang khawatir dengan kondisi Vivi.


"Di kos sepi, dah pada berangkat kerja sama ngampus, ga papa aku tunggu koko aja" kata Vivi.


"Ya udah, aku usahain cepet sampe ya, buat tidur dulu aja" Jemmy segera menutup handphone nya.


Dan Vivi mencoba menutup mata, tapi rasa badannya tidak mau kompromi, dia masih bolak balik ke kamar mandi. Tanpa dia sadari tubuhnya sudah tinggal tulang sama kulit. Karena cairan dalam tubuh nya habis, dan tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Jangankan makan, minum air putih pun di muntahkan lagi. Badannya masih demam tinggi, tapi dia ga tahu harus berbuat apa, karena dia hanya sendirian di dalam kos.


Menjelang siang, Vivi sempat memejamkan mata, walaupun hanya beberapa menit saja. Dan di kos nya sudah terdengar suara, mungkin sudah ada teman yang pulang kuliah.


Ting tong....


Tidak lama kemudian ada suara bunyi bel pintu, lalu ada suara langkah kaki mendekat ke arah pintu kamarnya.


Tok... Tok... Tok... Cekleeek...


"Vi... di cariin mas mu" Eka melongok ke kamar Vivi.

__ADS_1


"Ya ampun.. Vi kamu kenapa?" melihat kondisi Vivi Eka panik.


__ADS_2