
"Vi.... bada. kamu panas banget" Jemmy menempelkan punggung tangannya ke dahi Vivi.
"Ko... kapan dateng?" Vivi mengerjapkan matanya, melihat Jemmy duduk di tepi ranjang Vivi.
"Baru aja, tadi aku telepon ibu, katanya kamu masih sakit, jadi aku cepet-cepet ke sini. Aku kuatir banget sama kamu" Jemmy menggenggam tangannya, lalu mengecupnya. Vivi terbelalak melihat perlakuan mesra Jemmy.
"Aku ga papa kok, aku sudah baikan" Vivi mencoba menenangkan kecemasan Jemmy
"Vi... badan kamu panas kaya gini, kamu masih bilang ga papa?" ucap Jemmy gusar, Vivi tersenyum tapi tidak bisa di pungkiri hatinya berdebar.
"Oh iya aku tadi bawain kamu madu, sama obat untuk panas herbal, kamu minum ya, aku buatin", Vivi mengangguk, Jemmy beranjak menuju dapur membuat obat untuk Vivi.
Satu gelas madu di campur dengan obat tersebut di habiskan Vivi dalam sekali minum.
"Kamu ga usah balik ke kos dulu ya, besok aja kalo sudah sembuh baru balik ke kos" raut wajah Jemmy terlihat khawatir.
"Besok aku ada tugas praktek, aku harus balik ko" rengek Vivi.
__ADS_1
"Tapi, liat kondisi kamu Vi" ucap Jemmy, Vivi otomatis memasang muka sedih. Jemmy tidak tega, sebenarnya badan Vivi masih panas tinggi, tapi dia tidak mau ketinggalan tugas kampusnya.
"Ya udah, aku anter kamu sampe kos" Jemmy memilih mengalah, walaupun sebenarnya dia tidak tega melihat kondisi Vivi saat ini.
******
Menjelang sore Vivi pamit ke ibu nya, balik ke kos di antar Jemmy, di tengah perjalanan kondisi Vivi makin melemah, Jemmy panik.
"Vi kita balik aja ya, kondisi kamu ga memungkinkan, liat kamu badan panas, dan lemah banget" ucap Jemmy sangat khawatir.
"Ga mau ko... aku mau ke kos, nanggung udah setengah perjalanan" kata Vivi ngeyel.
"Ga mau... nanti aku minum air madu lagi aja" jawab Vivi santai.
"Tapi Vi.... Kamu pucat banget" Jemmy merangkup wajah Vivi.
"Aku ga papa, liat nih aku baik-baik aja" Vivi memasang muka senyum ceria, padahal untuk mengangkat tangan aja dia ga kuat.
__ADS_1
Mereka pun turun untuk berganti bus, saat Jemmy menyentuh tangan Vivi, dia sangat terkejut.
"Vi kamu panas banget, udah deh kita ke rumah sakit" Jemmy menarik tangan Vivi ke arah luar terminal, tapi Vivi menepis.
"Aku ga mau ke rumah sakit, ga mau di suntik. ga mau minum obat ko... aku takut..." Vivi hampir menangis.
"Ya udah, tapi kalo untuk melanjutkan perjalanan kamu ga mungkin banget, aku kuatir banget sama kamu Vi" Jemmy putus asa melihat Vivi memasang muka kesal.
"Gini aja deh, kita cari hotel terdekat aja, kamu istirahat dulu, minum madu sama obat nya tadi, kalo panas kamu sudah turun kita lanjut perjalanan" Jemmy akhirnya memutuskan.
"Terserah!" ujar Vivi masih kesal.
Akhirnya mereka mencari hotel yang dekat dengan terminal, sampai di kamar dengan kondisi nya saat itu, Vivi minum obat herbal yang di buatkan Jemmy, lalu tidur.
Jemmy menjaga Vivi dengan telaten, beberapa kali karena suhu tubuhnya yang tinggi, Vivi sempat mengigau. Dan Jemmy pun tertidur di samping Vivi, dengan tangan memeluk tubuh Vivi yang terbungkus selimut.
Tengah malam Vivi terjaga, dia terkejut ada Jemmy di sampingnya, untuk beberapa detik dia mengingat kenapa mereka bisa tidur sekamar. Setelah ingatannya benar-benar pulih, Vivi khawatir karena takut terjadi apa-apa di antara mereka.
__ADS_1
Vivi turun pelan-pelan dari ranjang, berjalan pelan menuju ke kamar mandi, setelah kembali dia melihat Jemmy pun terbangun.