
Satu tahun berlalu, tinggal beberapa minggu lagi mereka ujian kenaikan kelas. Sama sekali Vivi tidak dapat kabar tentang Hari, Vivi belajar menerima kenyataan dengan membuka hati untuk cowok lain. Dari awal masuk SMA Vivi berteman akrab dengan Yuna, teman sekelas yang sering pulang bareng sepulang sekolah, karena rumah mereka searah, dan kebetulan di halte mereka sering bertemu dengan cowok bernama Dion, anak sekolah kejuruan. Usia Dion lebih muda satu tahun dari mereka, cowok sipit, tubuhnya padat berisi, tidak terlalu tinggi, rambutnya ikal, lumayan menawan. Tidak tahu kapan tepatnya mereka kenal, tapi mereka bertiga sudah akrab satu sama lain, suatu hari, ketika pulang sekolah Dion nembak Vivi.
"Vi, aku suka sama kamu, mau ga kamu jadi pacarku?" kata Dion sepulang sekolah, hari itu Yuna tidak pulang bareng dengan Vivi.
"Aku ga tau Yon, aku belum kasih jawaban sekarang, kita jalanin aja dulu, aku ga mau nanti kita sama-sama kecewa" kata Vivi, tidak mau membuat Dion sakit hati, tapi dia juga ingin belajar melupakan bayang-bayang Hari.
"Oke, kita coba jalan ya" jawab Dion dengan ceria. Vivi mengangguk dengan pandangan kosong.
__ADS_1
********
Dion selalu nunggu Vivi pulang sekolah, bahkan sering janjian naik bus bareng, dengan menyebutkan nama bus langganan Vivi. Jarak rumah Vivi lebih jauh dari rumah Dion, Dion satu kecamatan dengan Yuna. Ketika Yuna tahu hubungan mereka, entah kenapa Yuna selalu menghindar dari Vivi, baik di kelas maupun saat pulang sekolah, tidak pernah bareng Vivi lagi, menghindar dengan banyak alasan. Dia selalu pulang cepat, seolah sengaja tidak mau bertemu dengan Vivi, Vivi tidak begitu menyadari, karena hanya berpikir positiv saja.
Sekitar dua mingguan hubungan Vivi dan Dion berjalan, saat itu sekolah pulang lebih awal karena ada rapat, Vivi cepat keluar, menyetop angkot, lalu mampir ke swalayan untuk mencari keperluannya sebelum pulang.
Yuna sedang bergandengan tangan berjalan menuju halte dengan Dion, tidak jauh di depan matanya Vivi. Dia melambatkan jalannya sedang berpikir dengan perasaannya. Di satu sisi dia marah karena penghianatan mereka, tapi di sisi lain dia juga belum bisa benar-benar mencintai Dion, karena belum bisa melupakan cinta yang masih menggantung.
__ADS_1
Vivi berjalan ke arah mereka, keduanya sontak terkejut dan melepaskan pegangan tangan, terlihat mereka tampak gugup. Terlihat pipi keduanya memerah, mata mereka tidak fokus.
"Vivi......." ucap Dion tidak meneruskan. Vivi hanya tersenyum kecut ke arah mereka menatap keduanya, terlihat Yuna menunduk, dan Dion dengan sorot mata yang seolah mau menjelaskan sesuatu. Tanpa berkata apapun, kemudian Vivi menaiki bus yang sudah datang. Dia sengaja mencari bangku yang sebelahnya sudah terisi orang, dia tidak ingin salah satu dari mereka tiba-tiba duduk di sebelahnya. Tapi dia tidak melihat kedua orang yang sudah menyakitinya, naik bus yang sama, dia sedang menata pikirannya yang dikacaukan keadaan itu.
"Ri, apa ini karma ku karena aku, ga setia sama kamu? Tapi kapan kita bisa bertemu kaya dulu lagi?" batin Vivi memejamkan mata rapat, mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Mbak ongkosnya" suara kondektur bus menyentuh bahu Vivi pelan. Vivi menyerahkan uang, menyebutkan kota dimana dia turun dan kembali melamun. Bayangan kejadian yang baru saja muncul kembali....
__ADS_1
"Kenapa sih kalian ga jujur aja? Kenapa harus seperti ini....... aaah... sudahlah" tangan Vivi mengepal, tapi cepat tersadar, dia juga belum benar-benar mencintai pria itu, dia yakin ini hanya emosi sesaatnya, dia pasrah.