
"Vi... aku sampai sekarang masih sayang kamu" ucap Tio saat dalam perjalanan pulang.
"Mau ga kita pacaran lagi, kaya dulu" kata Tio lagi berharap.
"Yo... aku baru aja putus dari cowok ku, aku ga tau apa yang aku rasa ke kamu sekarang, aku takut kamu cuma buat pelarianku aja Yo"
"Aku ga peduli Vi... Yang aku tau aku sayang kamu itu aja, kamu balas atau ga terserah kamu... kita jalanin aja kaya dulu... biar mengalir dengan berjalannya waktu" kata Tio dengan tangan kiri menggenggam jemari Vivi.
"Oke... terserah kamu" ucap Vivi, yang sebenarnya dia takut kalo ada yang tersakiti di antara mereka, walaupun dia juga masih sayang Tio yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Tio sebenarnya memang masih mengharap kembali dengan Vivi, karena buatnya kenangan bersama Vivi adalah kenangan terindah baginya. Walaupun dia sudah pernah mencoba berpacaran dengan teman satu sekolah, tapi tidak bertahan lama, karena bagi Tio Vivi tidak tergantikan.
******
__ADS_1
Keesokan harinya Vivi pulang ke rumah dan melihat banyak sekali kiriman dari Jemmy.
"Buuuk... apa lagi ini? Kenapa sih dia masih mengganggu hidupku, aku sudah bosen dengan apa yang dia kasih ke aku. Aku mau bebas dari dia buk, aku capek" Vivi menangis.
"Vi... Jemmy orang baik, kenapa kamu sebenci itu dengan dia? Atau jangan-jangan kamu sudah punya laki-laki lain, dan dia sudah pengaruhi kamu?" ibu mulai tersulut emosinya.
"Iya bu... aku sudah punya pacar lagi. Tapi sedikitpun dia tidak tau apa-apa soal Jemmy. Aku pacaran lagi sama dia setelah aku dan Jemmy putus" Vivi tidak kalah tinggi emosinya.
"Ohh... jadi itu cara dia pencitraan di depan ibu? Pura-pura tanggung jawab dengan apa yang dia perbuat ke aku? Padahal itu cara dia untuk ngiket aku. Aku ga respect sama dia, aku sudah punya pilihan sendiri" kata Vivi berapi-api.
"Vi... laki-laki mana yang mau terima kamu kalo kami sudah ga perawan lagi?" kata-kata ibu menohok jantung Vivi.
__ADS_1
"Sudah lah bu, itu jadi urusan ku" kata Vivi meninggalkan ibu, karena malas berdebat lagi.
"Vi... ibu belum selesai ngomong" ibu setengah berteriak. Vivi mengunci rapat kamarnya, dia menekuk lututnya menelungkupkan wajahnya, menangis.
"Kenapa bahagia tidak berpihak pada ku, kenapa aku harus melewati hal yang menyakitkan ini. Aku cuma ingin bahagia dengan pilihanku, apa yang akan aku lakukan sekarang. Ibu selalu saja dengerin Jemmy lagi Jemmy lagi" Vivi mengacak rambut nya.
Semakin hari Vivi semakin tidak nyaman tinggal di rumah karena merasa semua keluarga nya tidak berpihak padanya, malah berpihak sama Jemmy yang bukan apa-apa mereka.
"Aneh" pikir Vivi kesal.
Tanpa sepengetahuan Vivi Jemmy tinggal di rumah bibi Vivi yang rumahnya tak terlalu jauh dari rumah ibu Vivi. Bahkan diam-diam ibu, dan adik-adiknya sering mengadakan pertemuan keluarga, untuk membahas perjodohan Vivi dengan Jemmy. Mereka pikir mau kasih tahu Vivi jika sudah dekat-dekat hari.
__ADS_1
Bahkan melalu telpon juga orang tua Vivi dan orang tua Jemmy pun sudah membicarakan hal yang serius.