
Saat hari mulai gelap, tanpa sepengetahuan Vivi, terlihat Hari sudah ngobrol dengan Sapta di tempat biasa mereka nongkrong. Seperti ada yang serius, kali ini mereka masih berdua karena belum ada teman-teman mereka yang datang lagi.
"Ta, aku boleh ajak Vivi jalan sebentar?" tanya Hari berharap di ijinkan, mengingat kedekatan ViVi dengan keluarga Sapta.
"Mau kemana?" tanya Sapta sambil memainkan gitarnya.
"Cuma jalan ke taman bentar" jawab Hari cepat.
"Ya udah, kalo anaknya mau ajak aja" jawab Sapta santai.
*********
"Hai, Vi" sapa Vi sapa Hari ketika Vivi datang mendekat, biasanya malam minggu Vivi kadang ikut nongkrong sama temen-temen cowok Sapta
"Hai" Vivi tampak canggung.
"Jalan-jalan yuuk" Hari semangat.
"Kemana?" tanya Vivi
"Ke taman belakang kampung" kata Hari berharap banget Vivi mau ikut
"Boleh Ta?" tanya Vivi menatap Sapta memohon, karena keluarga neneknya sudah percaya dengan keluarga Sapta makanya Vivi lebih sering ijin dengan Sapta karena cowok itu selalu melindunginya.
__ADS_1
"Boleh, tapi jangan malem-malem pulangnya" kata Sapta menatap Hari tajam.
"Siap sob, thanks ya!" sahut Hari cepat, wajahnya tampak berseri-seri mendengar jawaban Sapta.
Vivi dan Hari berjalan berdampingan, ga ada yang mereka omongin, karena sama-sama canggung. Ketika sudah tak terlihat dari pandangan Sapta, Hari menggandeng tangan Vivi. Vivi terkejut menatap tangan mereka tapi tidak menolaknya. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya melayang tidak karuan.
Sampai di taman, lampu tamannya remang-remang membuat suasana romantis. di sana ada beberapa pasang anak muda yang berpasang-pasangan. Hari mencari tempat duduk kosong, dan setelah menemukannya, di tariknya tangan Vivi untuk duduk disana.
"Duduk sini" ajak Hari. Tanpa menjawab Vivi mengikuti, masih belum bisa mengendalikan gejolak hatinya.
"Vi, kenapa dari tadi diem?" tanya Hari membuka obrolan.
"Ehmm... a-aku... ga papa" Vivi gugup, ga tau harus ngomong apa.
"Belum!" jawab Vivi malu-malu.
"Vi, mau ga kamu jadi pacarku, mulai dari kita ketemu, aku udah suka sama kamu" lanjut Hari
Vivi masih ga habis pikir kenapa dia juga bisa jatuh cinta sama anak kelas enam SD. Tapi memang tidak terlihat wajah Hari yang kekanak-kanakan, mereka terlihat seusia
"Gimana Vi?" Hari membuyarkan lamunan Vivi, dan mencoba mulai konsen lagi.
"Iya Ri, aku mau" Vivi tertunduk, pipinya panas, tangannya meremas ujung kaosnya, karena sudah mulai berkeringat.
__ADS_1
"Beneran, kita pacaran Vi... Yesss!" sambut Hari bahagia. Vivi tersenyum seolah mengiyakan pertanyaan Hari.
"Vi!" panggil Hari mengangkat dagu Vivi dan mengecupnya, lalu jarinya mengusap bibir Vivi. Seolah sudah pernah melakukan, atau entah dapet dari adegan film yang dia tonton.
Vivi terbelalak, lalu memejamkan mata nya, ada perasaan takut, malu, senang, berdebar, semua bercampur jadi satu. Vivi berpikir, "Apa kaya gini rasanya ciuman?" kembali tertunduk dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Aku seneng malem ini, kamu?" setelah sekian lama Hari memecah keheningan.
"Iya" jawab Vivi singkat.
"Udah hampir jam sembilan, kita balik yuuk, ntar Sapta ngira aku nyulik kamu lagi" gurau Hari sambil menggandeng Vivi.
Dalam perjalanan, Vivi teringat sesuatu yang ingin di tanyakan ke Hari.
"Ri, kamu beneran kemarin berantem sama Diki?" tanya Vivi ragu, takut Hari marah.
"Iya emang, aku sudah naksir kamu duluan tapi Diki ternyata juga curhat sama temen, kalo dia naksir kamu, aku denger ga trimalah." kata Hari menjelaskan.
"Harusnya kamu ga kaya gitu juga kali Ri, yang penting kan aku mau nya sama siapa" kata Vivi menenangkan.
"Aku" Hari menyahut sambil tertawa.
"Iiihhhh... kamu" Vivi malu, lalu mencubit pinggang Hari.
__ADS_1
"Aduuuh...." Hari makin bahgia dengan cubitan mesra Vivi