PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Insiden


__ADS_3

Tidak terasa hari berganti, Vivi kini sudah ada di pertengahan kelas tiga SMA. Ada rasa trauma mengingat tiga tahun lalu ketika dia masih pacaran sama Hari, miss komunikasi dengannya, Vivi tidak pernah datang ke kota karena kesibukannya menghadapi ujian. Les, dan belajar lebih giat berharap dapat nilai yang bagus.


"Akankah Tio juga pergi kaya Hari dulu? Apa dia setia?" batin Vivi nelangsa mengingat itu semua. Minggu ini, kesempatan terakhir Vivi datang ke kota untuk bertemu Tio, sebelum persiapan menghadapi ujian.


"Yo, minggu depan dan seterusnya aku ga akan kesini lagi, bentar lagi ujian, aku harus fokus belajar" kata Vivi saat mereka sedang berdua.


"Iya Vi aku tau, tapi kita harus bisa berpisah untuk sementara, besok kalo kamu kuliah di sini aja biar kita sering-sering ketemu, mungkin kita break dulu selama ga ketemu" Tio menenangkan kegundahan Vivi, walaupun usianya lebih muda Tio membuat Vivi nyaman, dia selalu bisa menenangkan hati Vivi.


"Iya Yo, semoga ini ga lama. Oke kita break dulu biar ga saling gatung" harap Vivi dengan memandang jauh dan kosong.


Tio merangkul pundak Vivi sambil mengecup puncak kepala Vivi. Ada kelegaan di hati Vivi dari kata-kata Tio.

__ADS_1


*********


Sore itu Vivi di antar Kiki, kakak Sapta menuju ke terminal, biasanya Vivi menunggu bus di pintu keluar terminal, tapi entah kenapa saat itu Kiki mengantar di pintu masuk karena ga enak hati, kalau mau pindah tempat akhirnya Vivi masuk ke dalam terminal, hari sudah menjelang malam, sudah tidak banyak bus yang ada. Saat sedang mununggu bus datang tiba-tiba ada cowok cakep, tegap, berkulit putih, terlihat ada beberapa tatto di beberapa bagian tubuhnya, dia mendekati Vivi, mengulurkan tangannya ke arah Vivi


"Agus" dia menyebutkan namanya dan di sambut Vivi.


"Vivi" katanya ragu.


"Pulang ke desa" Vivi menjawab tanpa ada rasa apapun.


"Jam segini sudah ga ada bus, ada nya besok pagi-pagi jam empatan dari sini" katanya lagi "Mending aku temenin kamu, besok pagi-pagi aku antar kamu pulang" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Orang ini baik banget, lagian kalo mau balik besok siapa yang nganterin ke terminal, di sini masih ada toko-toko yang buka aku pasti aman" pikir Vivi.


"Kamu tidur aja, aku jagain kamu, nih jaketku buat selimutan" Agus mengajak Vivi ke salah satu bangku panjang. Vivi ga nolak kata-kata Agus. Vivi sempat ketiduran beberapa menit, tapi kebangun karena ada suara orang bicara di dekatnya, tidak jauh dari Vivi, ada dua pria tua yang sedang berbicara sama Agus.


"Vi, kamu ikut mereka, mereka mau carikan kamu penginapan dekat-dekat sini, biar kamu aman, bahaya juga kalo disini" kata Agus, Vivi pikir ada benarnya, di depan Agus sedikitpun Vivi ga bisa menolak, dia mengangguk ke arah Agus dan mengikuti dua pria tua itu. Sedikitpun Vivi tidak berpikir buruk.


Salah satu dari mereka memanggil becak, menyebutkan nama tempat, yang Vivi sendiri ga tau ituvdaerah mana. Mereka naik, lalu Vivi di suruh duduk di tengah, tidak ada yang di lakukan mereka di dalam perjalanan, mereka diam. Sampai akhirnya Vivi tiba-tiba tersadar, sepertinya mereka bukan orang baik-baik, karena jalan yang di lalui semakin jauh dari terminal, semakin menjauh dari keramaian, semakin sepi. Vivi memutar otak, karena takut kalau tiba-tiba berlari, pasti mereka akan mengejarnya, tubuh mereka kekar, akan dengan mudah membawa Vivi kembali ke cengkeraman mereka. Di depan jalan agak menanjak, otomatis tukang becak turun, untuk mendorong becaknya. Vivi tiba-tiba dapat ide, sampai di jalan tersebut, Vivi melompat dan berlari ke arah sebaliknya, tanpa melihat ke belakang lagi, entah kedua pria masih mengejarnya atau tidak, dan keberuntungan ada di pihak Vivi, ada motor dari arah belakang, Vivi menoleh seorang pria tua, dia melambai ke arah motor itu.


"Pak tolong antar saya ke halte terdekat, saya di kejar-kejar orang jahat" kata Vivi berharap, sambil menoleh, kedua pria itu sudah dekat dengan mereka.


"Ayo pak, mereka sudah dekat" kata Vivi sambil naik ke bapak itu.

__ADS_1


"I-iya mbak" dia menarik gas motornya, menjauh, meninggalkan tempat itu.


__ADS_2