PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Penyesalan Deddy


__ADS_3

"Masuk Vi" Deddy membuka pintu dan menyentuh bahu Vivi, membuyarkan lamunan Vivi.


"Kamu tinggal dengan siapa Ded?" tanya Vivi yang tidak nyaman dengan keadaan itu.


"Dengan mami" jawab Deddy berbohong. Dan Vivi percaya apa yang di katakan Deddy.


"Lalu papi kamu?" tanya Vivi lagi.


"Dinas di kota kelahiranku, setahun pulang hanya tiga sampe empat bulan setahun" Deddy memberi penjelasan. Vivi melangkah ragu.


********


"Kamu bisa tidur di sini" Deddy menunjukkan sebuah kamar untuk Vivi.


"Oke, thanks Ded" sahut Vivi. Dengan cepat Vivi masuk, lalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Karena kelelahan Vivi cepat tidur tanpa ingat mengunci pintunya. Tidak lama Vivi tidur dengan pulasnya, tanpa sadar Deddy sudah tidur di sampingnya.

__ADS_1


Hari masih gelap, Vivi membuka mata, melihat sekelillingnya tampak asing, dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Beberapa saat dia baru ingat, sedang tidur di rumah Deddy. Belum lama dia sadar, merasakan ada benda berat di pinggangnya. Dia melihat tangan lalu menoleh ke belakang.


"Deddy!" pekik Vivi terkejut. Vivi mencoba menyingkirkan tangan kekar Deddy, tapi tidak berhasil, karena terlalu kuat. Jika membandingkan tangan mereka satu banding dua, karena Deddy memiliki tubuh tinggi besar, berkulit hitam. Sangat kontras dengan Vivi.


"Ded, kenapa kamu tidur di kamarku?" tanya Vivi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Deddy. Deddy hanya bergerak sedikit dan mengeratkan pelukannya.


"Ded, bangun... bangun..." Vivi kembali menggoyangkan tubuh Deddy.


"Good morning honey" Deddy mengecup pipi Vivi.


"Ded, apa yang kamu lakukan?" teriakan Vivi tertahan. Deddy menempelkan telunjuknya ke bibir Vivi. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Vivi, dengan sigap Vivi menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tapi Deddy membuka paksa tangan Vivi, dan dia kalah tenaga.


"Vi, aku sayang kamu" ucap Deddy merayu. Vivi tak percaya begitu saja. Deddy menarik pinggang Vivi. Kembali dengan gerakan cepat, Deddy ******* lembut bibirnya, tanpa ada perlawanan yang berarti. Sedikitpun Vivi tidak membalas, karena dia tidak menginginkannya. Tapi tidak ada tenaga yang cukup untuk melawannya.


Deddy terus melancarkan aksinya, menyentuh leher, dada, dan Vivi pun tidak tahan, dan terbuai dengan aksi Deddy. Dia mulai membalas ******* di bibir nya. Sampai Vivi kehabisan nafas, tangan Deddy terus beraksi, sampai ke daerah sensitif Vivi. Vivi tersadar, lalu melepaskan bibirnya.

__ADS_1


"Ded, jangan" Vivi memohon dengan wajah memelas.


"Ayo lah Vi ga akan lama" rengek Deddy.


"Ded, jangan. Please" pinta nya lagi.


"Aku hanya mau main sebentar aja" kembali merayu.


"Ded, aku bukan, seperti wanita yang kamu pikirkan. Maaf, aku belum pernah melakukannya" imbuh Vivi sedih. Deddy tersentak sadar. Dan merutuki diri nya sendiri, lalu mencoba memeluk Vivi, tapi Vivi berontak.


"Vi maafin aku... aku salah, aku khilaf, maafin aku..." ucap Deddy penuh penyesalan.


"Aku benci kamu Ded... aku benci..." Vivi menangis pelan sambil memukul dada Deddy terus menerus.


"Iya Vi, pukul aja aku, aku pantas di pukul, aku jahat, aku hampir saja menuruti nafsuku" Deddy memeluk nya erat. Vivi menangis menjadi-jadi dalam pelukan Deddy saat dini hari itu. Deddy membelai rambut sebahu Vivi.

__ADS_1


"Aku sayang kamu Vi, maafin aku, aku ga akan mengulanginya lagi" bisik Deddy lembut.


"Sekarang tidurlah lagi, masih terlalu pagi, aku disini menjagamu" tambah Deddy lagi, setelah Vivi mulai tenang.


__ADS_2