PELABUHAN CINTA VIVIAN

PELABUHAN CINTA VIVIAN
Terbongkar


__ADS_3

Vivi mengambil sebatang rokok putih di meja Deddy, menyalakan dan menghisapnya. Vivi mulai merokok sejak kelas satu SMP, tapi dia bukan perokok berat. Hanya sesekali saja, terlebih jika stres berat, itupun di lakukan sangat hati-hati, dan tidak banyak yang tahu dia merokok. Ga tau kenapa Hari itu dia sangat menginginkannya.


Deddy masuk ke kamarnya sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Dia sempat tersentak melihat yang di lakuķan Vivi.


"Wooowww... anak gadis ngerokok nih...." kata Deddy sambil tertawa, Vivi hanya tersenyum simpul.


"Jangan banyak-banyak kasian kalo ntar kamu hamil" Deddy mengingatkan.


"Nikah juga belum, mikirin hamil" ujar Vivi asal.


"Emang mau aku hamilin" kata Deddy sambil tertawa lebar.


"Enak aja, kuliah dulu yang bener! Banggain orang tua, baru nikah" Vivi melempar bantal ke arah Deddy yang masih tertawa.


Deddy masih masih mengenakan celana pendek, belum berpakaian, tiba-tiba Vivi melihat tatto di tangan Deddy, ada huruf membentuk sebuah tulisan. Dengan penasaran Vivi mendekat, Deddy tidak tahu, dia mengira Vivi mau menggodanya. Lalu Deddy menarik tangan Vivi lalu memeluknya dari belakang.

__ADS_1


Masih merasa penasaran di pegangnya tangan Deddy dan di baca nya tulisan itu "Alvi"


Pipi Vivi memerah menahan marah, dia lepaskan tangan Deddy, di hisapnya rokok yang ada di tangannya. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya, dia tertunduk tidak mau terlihat lemah. Deddy heran dengan perubahan air muka Vivi.


"Vi, kamu baik-baik aja?" tanya Deddy khawatir. Vivi mengangguk, dadanya terasa sesak, seperti ada silet yang menancap dalam hatinya.


Deddy menarik dagu Vivi ke atas, tapi Vivi membuang muka. Dia malah menghisap rokoknya lebih dalam, Deddy sadar Vivi sedang kesal.


"Vi, tolong jawab, kamu kenapa?" tanya Deddy yang di sambut gelengan kepala Vivi.


"Siapa Alvi?" kata-kata Vivi lirih, hampir tak terdengar. Deddy sontak terkejut, baru menyadari tatto di tangannya. Deddy terdiam sesaat, dia menata kata-kata yang baik, agar Vivi tidak emosional. Vivi kembali menghisap rokoknya yang hampir habis, lalu dia ambil satu batang lagi, menyambung setelah menyalakan dengan rokok pertamanya.


"Vi, jangan banyak-banyak" ucap Deddy kembali mengingatkan.


"Ga usah mengalihkan pembicaraan, jawab aja pertanyaanku" kata Vivi sangat emosi.

__ADS_1


"Dia..... pacarku" ucap Deddy pelan, membuat air mata Vivi mengalir tak terbendung lagi.


"Dia kuliah di Aussy" Deddy menghembuskan nafas berat.


"Ohh jadi aku kamu pake buat ban serep selama dia tinggalkan?" ujar Vivi sinis.


"Kamu mau cari kesenanganmu dengan mencari pengganti selama dia ga ada?" nada Vivi meninggi. Deddy menutup pintu dan membesarkan volume DVD, berharap suara mereka tidak terdengar keluar.


"Kenapa? Kamu malu kedengeran temen-temenmu?" emosi Vivi sudah tidak terkendali, dia makin sering menghisap rokoknya.


"Vi, tolong dengerin aku...." tenggorokan Deddy serasa tercekat.


"Aku sayang kamu... aku tau aku salah... aku ga jujur dari awal, tapi apa salah kalo aku sayang kamu?" Deddy mulai mengungkapkan isi hatinya.


"Hampir tiga tahun aku ga ketemu dia, dia teman masa kecilku dulu, kami pacaran sejak sekolah. Tiba-tiba dia memutuskan untuk kuliah disana. Kami hanya berhubungan lewat telepon. Salahkah kalo aku jatuh cinta dengan wanita yang ada di depanku?" ucap Deddy tanpa memberi kesempatan kepada Vivi bicara. Vivi hanya terdiam, dia teringat Tio.

__ADS_1


"Apa dia juga punya pacar lagi? Apa dia juga melakukan hal yang sama dengannya selama mereka break?" hati Vivi mulai berkecamuk, tidak tahu apa yang terjadi nanti. Dia hanya melanjutkan menghisap rokok yang ada di tangannya, tanpa penghayatan. Hanya untuk menghilangkan kekacauan hati nya.


__ADS_2