
"Shofi? Istriku?"
Kembali aku mendengar Mas Awan mengulang kata-kata itu. Seolah dia sedang bertanya kepada dirinya sendiri. Aku mengernyitkan keningku.
'Ada apa ini? Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres yang sudah terjadi pada Mas Awan,' aku membatin dalam hati.
"Mas Awan kenapa? Ada apa, Mas?" tanyaku khawatir seraya memegangi lengan kiri Mas Awan.
🍁🍁🍁
Awan POV.
Aku yang terburu-buru ketika hendak kembali ke kamar rawat inap Abah Imron tanpa sengaja justru menyenggol seorang wanita yang sedang hamil besar. Kantong plastik berisi obat milik wanita hamil tersebut jatuh ke lantai. Aku langsung membantu wanita hamil tersebut untuk mengambil kembali obatnya dan sekaligus meminta maaf juga.
"Ini obatnya, Mbak. Sekali lagi maaf, ya. Saya nggak sengaja," ucapku menyesal.
"Mas Awan?" tanya wanita hamil tersebut dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.
Aku sedikit bingung, kenapa wanita hamil ini tau namaku? Dan kenapa juga dia langsung menangis seperti ini?
"Iya, saya Awan. Kamu,,," jawabku.
Aku tidak melanjutkan perkataanku. Aku berusaha mengingat-ingat tentang wanita hamil di depanku ini. Kenapa aku merasa familiar dengan wanita hamil di depanku ini?Aku merasa seperti aku sangat mengenal wanita ini. Tapi aku juga belum bisa mengingat tentang wanita ini.
Aku melihat wanita hamil di depanku ini tersenyum bahagia. Dan tiba-tiba saja dia langsung menghambur dan memeluk tubuhku, dengan air mata yang semakin deras mengalir di kedua pipinya. Aku sempat merasa kaget, tapi entah kenapa aku tidak ingin menghindar sama sekali ketika dipeluk oleh wanita hamil tersebut.
"Subhanallah. Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin. Akhirnya Mas Awan kembali juga," ucap wanita hamil tersebut begitu bahagia.
Beberapa saat kemudian wanita hamil tersebut melepaskan pelukannya. Dan aku bisa melihat senyumannya yang begitu lebar. Sepertinya dia sangat bahagia sekali saat ini. Tetapi kemudian, sepertinya wanita itu menyadari kebingungan yang sedang aku alami saat ini.
"Ini aku Shofi, Mas. Istrimu," ucap wanita hamil tersebut dengan memegangi kedua tanganku.
"Shofi? Istriku?" ulangku yang masih terlihat kebingungan.
Shofi? Bukankah itu adalah nama yang sering aku sebut ketika aku tiba-tiba terbangun dari tidurku di malam hari? Dan apa yang sudah dikatakan oleh wanita hamil ini tadi? Dia adalah istriku? Benarkah itu?
"Iya, Mas. Aku Shofi. Istri Mas Awan," ucap wanita hamil tersebut, mempertegas perkataannya tadi.
__ADS_1
"Shofi? Istriku?" lagi-lagi aku mengulangi kata-kata itu dengan raut wajah yang masih bingung.
Wanita hamil di depanku ini pun kemudian juga terlihat sama bingungnya dengan diriku saat ini. Raut wajah khawatir seketika memenuhi wajah cantik wanita hamil tersebut.
"Mas Awan kenapa? Ada apa, Mas?" tanya wanita hamil tersebut khawatir seraya memegangi lengan kiriku.
Aku memegangi kepalaku menggunakan tangan kananku yang bebas. Aku merasa sangat tidak asing dengan wanita hamil ini, tetapi kenapa aku sama sekali belum bisa mengingat tentang siapa wanita hamil di depanku ini?
"Maaf. Tapi aku belum bisa mengingat tentang dirimu," ucapku sangat menyesal.
"Apa maksud Mas Awan?" tanya wanita hamil tersebut semakin bingung.
Terlihat sekali bahwa wanita hamil tersebut sangat terkejut dan kebingungan saat ini.
"Maaf, Mbak. Tapi aku memang mengalami amnesia pasca trauma. Dan aku kehilangan ingatanku tentang kehidupan masa laluku sebelum ini," jawabku dengan merasa sangat menyesal.
Wanita hamil tersebut terlihat kembali meneteskan air matanya, meski tanpa suara isakan. Aku sendiri juga tidak tau, kenapa aku bisa merasa sangat menyesal seperti saat ini. Hatiku bahkan rasanya ikut perih ketika melihat air mata di wajah wanita hamil di depanku ini.
"Apa? Amnesia? Jadi Mas Awan..." ucapan wanita hamil tersebut terjeda.
"Aaahhh!!!"
Aku begitu terkejut karena wanita hamil di depanku ini tiba-tiba merintih kesakitan seraya memegangi perut besarnya itu. Refleks aku langsung memegangi kedua lengan wanita hamil tersebut, membantu menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Mbak. Mbak kenapa?" tanyaku khawatir.
"Ssshhh... Huuufffttt... Aaahhh..."
Bisa aku lihat wanita hamil tersebut yang meringis menahan rasa sakitnya seraya mencoba mengatur nafasnya sendiri. Dapat kurasakan tubuh wanita hamil tersebut semakin melemas. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menyandarkan tubuh wanita hamil tersebut ke tubuhku sendiri agar dia tidak terjatuh.
"Mbak," panggilku.
Wanita hamil tersebut nampak masih mengatur nafasnya seraya meringis kesakitan. Dan ketika aku melihat ada cairan bercampur sedikit darah yang mengalir di kaki wanita hamil tersebut, aku pun seketika menjadi sangat panik.
"Sus, suster! Tolong, Sus," teriakku kencang meminta bantuan para perawat yang saat ini sedang berada tidak jauh dari tempatku berdiri bersama wanita hamil ini.
Tiga orang perawat segera berlari menghampiri kami berdua.
__ADS_1
"Ada apa ini, Pak?" tanya salah satu perawat tersebut.
"Nggak tau, Sus. Tiba-tiba mbaknya kesakitan kayak gini. Dan itu juga ada kayak cairan bercampur dengan darah gitu yang merembes di kaki mbaknya," jawabku masih panik.
"Astaga. Sepertinya ibu ini mau melahirkan," ucap perawat yang lainnya.
Aku membulatkan kedua mataku karena terkejut.
"Cepat ambil stretcher ( brankar dorong )!" perintah perawat tersebut kepada temannya.
Perawat yang mendapat perintah tersebut menganggukkan kepalanya. Dia kemudian bergegas untuk mengambil stretcher ( brankar dorong untuk memindahkan pasien ).
"Astaghfirullah hal adziim, Shofi," terdengar suara seorang laki-laki yang sedikit berteriak, tidak jauh dari tempat kami saat ini.
Laki-laki tersebut bergegas menghampiri kami dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Ini adik saya kenapa, Sus?" tanya laki-laki tersebut khawatir.
"Ibu ini sepertinya mau melahirkan, Pak. Air ketubannya juga sudah pecah ini soalnya," jawab salah satu perawat tersebut.
"Masya Allah. Tapi HPL-nya masih awal bulan depan, Sus? Masih tiga minggu lagi." tanya laki-laki tersebut.
"Saya juga kurang tau, Pak. Sebaiknya nanti biar Dokter yang menjelaskan keadaan pastinya kepada bapak setelah melakukan pemeriksaan terhadap ibu ini," jawab perawat tersebut.
Sedari tadi aku terus melihat ke arah laki-laki yang baru saja datang ini. Entah kenapa lagi-lagi aku juga merasa sangat familiar dengan laki-laki ini. Tetapi sayangnya aku juga masih belum bisa mengingat tentang siapa laki-laki di hadapanku ini.
Dan tiba-tiba saja pandangan mata kami berdua bertemu. Dapat aku lihat laki-laki tersebut yang seketika langsung membulatkan kedua matanya karena terkejut.
"Awan?" tanya laki-laki tersebut seakan tidak percaya.
"Subhanallah. Awan, ini beneran kamu, Dek?" tanya laki-laki tersebut yang langsung memegangi kedua lenganku.
Dapat aku lihat kedua mata laki-laki ini yang sudah berkaca-kaca. Tetapi senyuman bahagia juga menghiasi wajah laki-laki di hadapanku ini.
Aku mengernyitkan keningku. Ada apa ini? Siapa sebenarnya wanita hamil dan laki-laki ini? Kenapa aku merasa begitu familiar dengan mereka berdua? Dan kenapa mereka berdua juga terlihat sangat mengenalku? Benarkah mereka berdua ini mengenalku?
Rasanya kepalaku mulai sakit karena memikirkan semua masalah ini. Ini benar-benar sebuah kejadian yang tidak terduga dan sangat mengejutkan untuk diriku. Dan sepertinya juga untuk kedua orang di hadapanku ini. Wanita hamil dan juga laki-laki ini.
__ADS_1