Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
61. Rencana Chika Gagal


__ADS_3

Ketika jam pulang kantor.


Chika merasa kebingungan ketika dirinya mendapati Hamzah yang tidak juga kembali ke meja kerjanya, bahkan sampai jam pulang kantor seperti ini.


"Kak Hamzah kemana, ya? Masak iya ke toilet dari tadi nggak balik-balik sih?" tanya Chika di dalam hatinya sendiri


Dan ketika tiba-tiba saja ada seorang office boy yang membereskan meja kerja Hamzah, Chika pun lalu buru-buru untuk mendekati office boy tersebut.


"Loh, Mas, kok yang beresin kamu? Emang Kak Hamzah-nya kemana, ya?" tanya Chika penasaran.


Office boy itu, yang memang berbeda dengan office boy yang tadi dibayar oleh Chika untuk memberikan minuman kepada Hamzah, pun berhenti sesaat dari kegiatannya membereskan meja kerja Hamzah dan barang-barang Hamzah itu. Office boy itu lalu menoleh ke arah Chika.


"Oh, iya, Mbak. Mas Hamzah tadi pulang duluan sama Pak Nadirga. Dan ini saya diperintahkan oleh Pak Nadirga untuk membereskan meja kerja dan barang-barang Mas Hamzah, terus mengantarkannya ke apartemen Pak Nadirga juga nanti," jawab office boy itu.


"Oh, gitu ya. Ya udah kalau gitu, silahkan dilanjutkan, Mas," kata Chika kemudian dengan menahan rasa dongkolnya.


"Iya, Mbak," balas office boy itu.


Chika pun kemudian meninggalkan office boy tersebut yang sedang membereskan meja kerja dan barang-barang Hamzah itu. Dan office boy itupun juga lalu kembali melanjutkan aktivitas beres-beresnya itu.


"Sial-sial-sial! Gagal sudah semua rencana gue. Padahal udah tinggal selangkah lagi dan gue bisa berhasil. Tapi semua kesempatan itu melayang begitu saja," gerutu Chika di dalam hatinya dengan raut wajah yang terlihat sangat dongkol itu.


🍁🍁🍁


Sementara itu, Nadirga dan Hamzah sudah sampai di apartemen milik Nadirga saat ini. Nadirga membantu memapah Hamzah untuk berjalan menuju ke kamar tamu di dalam apartemennya tersebut.


Setelah sampai di dalam kamar tamu, Hamzah pun kemudian dibaringkan di atas tempat tidur oleh Nadirga.


"Ham, kamu tunggu disini dulu, ya. Kamu istirahat aja dulu disini. Kakak keluar dulu buat cariin kamu obat," kata Nadirga kemudian.


"I-iya, Kak. Makasih banyak ya, Kak Dirga," balas Hamzah dengan susah payah.

__ADS_1


"Iya, Ham. Sama-sama."


Setelah berkata seperti itu, Nadirga pun kemudian melangkah keluar dari kamar tamu tersebut. Nadirga menutup pintu kamar tamunya itu dari luar.


Dan kebetulan sekali, ketika Nadirga bersiap untuk pergi keluar untuk membeli obat untuk Hamzah, ternyata Ayesha juga sudah sampai di apartemen Nadirga itu.


"Assalamu'alaikum, Kak," salam Ayesha begitu memasuki apartemen milik kakaknya itu.


"Wa'alaikumsalam, Dek. Udah datang kamu?" balas Nadirga sekaligus bertanya.


"Iya, Kak, udah. Dimana Kak Hamzah, Kak? Gimana keadaan Kak Hamzah sekarang?" tanya balik Ayesha dengan raut wajah khawatirnya itu.


"Hamzah ada di dalam kamar tamu, Dek. Kakak nyuruh dia untuk istirahat dulu disana," jawab Nadirga.


"Syukurlah," lirih Ayesha dengan membuang nafas lega.


"Dek, kakak titip Hamzah dulu sama kamu sebentar, ya. Tolong kamu jagain dia dulu," kata Nadirga.


"Kakak mau keluar dulu buat nyariin obat sama air kelapa muda untuk Hamzah. Biar efek obatnya bisa segera hilang," jawab Nadirga.


"Oh, oke, Kak. Kakak tenang aja, biar Yesha yang jagain Kak Hamzah disini selama kakak pergi," balas Ayesha.


"Tapi Dek, tolong kamu dengarkan ucapan kakak ini baik-baik. Apapun yang terjadi, kamu nggak boleh masuk ke dalam kamar tamu itu. Oke, Dek?" pesan Nadirga kepada Ayesha.


"Hah? Memangnya kenapa, Kak? Aku kan pengen lihatin keadaan Kak Hamzah juga," tanya Ayesha tidak mengerti.


"Pokoknya kamu ikutin aja omongan kakak itu, Dek. Hamzah lagi dalam pengaruh obat. Kakak nggak mau terjadi sesuatu sama kamu yang tidak kita inginkan," jawab Nadirga merasa khawatir.


"Hmh, iya deh, Kak, iya. Aku bakal dengerin omongannya kakak," kata Ayesha kemudian.


"Baguslah kalau gitu. Ya udah, kakak pergi dulu, ya," pamit Nadirga.

__ADS_1


"Iya, Kak. Kak Dirga hati-hati, ya," pesan Ayesha.


"Iya, Dek, pasti. Kamu juga hati-hati ya disini. Assalamu'alaikum," salam Nadirga.


"Iya, Kak. Wa'alaikumsalam," jawab Ayesha.


Nadirga pun kemudian bergegas untuk keluar dari apartemennya tersebut. Nadirga hendak membeli obat dan juga air kelapa muda untuk Hamzah.


Setelah kepergian Nadirga, Ayesha pun lalu mendudukkan dirinya di sofa yang berada tidak jauh dari kamar tamu tersebut, dimana Hamzah sedang berada saat ini. Dan tiba-tiba saja,


"Aaaarrrggghhh,,," terdengar teriakan keras Hamzah dari dalam kamar tamu itu.


"Kak Hamzah," kaget Ayesha yang seketika langsung berdiri dari duduknya saat ini.


Prang!!!


Terdengar suara barang yang pecah dari dalam kamar tamu tersebut.


"Kak Hamzah," panggil Ayesha pelan, merasa sangat khawatir.


"Panas banget, Yaa Allah. Aaaarrrggghhh,,," terdengar lagi suara teriakan Hamzah dari luar.


Ayesha benar-benar merasa sangat khawatir saat ini. Ingin sekali Ayesha masuk ke dalam kamar tamu itu dan melihat keadaan Hamzah dengan mata kepalanya sendiri. Tetapi Ayesha juga teringat dengan pesan dari kakak kakaknya tadi.


"Gimana ini?" bingung Ayesha.


"Aaaarrrggghhh,,,,," sekali lagi terdengar suara teriakan keras Hamzah dari dalam kamar tamu tersebut.


"Kak Hamzah," lirih Ayesha sekali lagi dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


Terjadi perang batin saat ini di dalam diri Ayesha. Di satu sisi Ayesha sangat ingin untuk masuk ke dalam kamar tamu itu dan melihat bagaimana keadaan Hamzah saat ini. Tetapi di sisi lain Ayesha juga teringat dengan semua pesan dari kakak kandungnya tadi untuk tidak masuk ke dalam kamar tamu itu, meski apapun yang terjadi.

__ADS_1


Ayesha benar-benar berada dalam dilema saat ini. Dan sungguh, Ayesha benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Hamzah saat ini.


__ADS_2