
Ayesha yang terus mendengar suara rintihan dan teriakan tertahan dari Hamzah itu semakin merasa tidak tega saja. Ayesha kemudian berjalan mendekati pintu kamar tamu tersebut. Tetapi Ayesha tidak membuka pintu kamar tamu itu, dia hanya berdiri di depan pintu kamar tamu itu saja.
"Yaa Allah, Kak Hamzah. Aku sebenarnya khawatir banget sama kakak. Tapi mau gimana lagi, Kak Dirga ngelarang aku untuk masuk ke dalam," lirih Ayesha, berbicara sendiri.
Air mata itu sudah mengalir tanpa ijin dan membasahi kedua pipi Ayesha. Ayesha merasa sangat khawatir dengan keadaan laki-laki yang sangat dia cintai itu saat ini.
Dan tiba-tiba saja,
Ceklek!
Pintu kamar tamu itu tiba-tiba terbuka dari dalam. Hamzah dan Ayesha sama-sama terkejut ketika mereka berdua saling berhadapan seperti saat ini.
"Yesha," panggil Hamzah lirih dengan menahan rasa sakit yang sedang dia rasakan itu.
"Kak Hamzah. Kak Hamzah nggak pa-pa kan?" tanya Ayesha terlihat begitu khawatir seraya menangkup kedua pipi Hamzah.
Clesss.
Hamzah merasa sangat nyaman ketika Ayesha menyentuhnya seperti itu. Rasanya seperti ada air dingin yang menyiram tubuh Hamzah yang saat ini sedang merasa sangat kepanasan itu.
"Kamu nangis, Sha?" tanya Hamzah ketika melihat wajah Ayesha yang basah dengan air mata.
"Aku nggak pa-pa kok, Kak. Gimana keadaan Kak Hamzah sekarang? Apa yang Kak Hamzah rasain?" jawab Ayesha yang kemudian bertanya balik kepada Hamzah.
"Kakak haus, Yesha. Tubuh kakak juga rasanya panas banget," jawab Hamzah susah payah.
"Kak Hamzah haus? Biar Yesha ambilin air minum untuk kakak, ya. Kak Hamzah duduk aja dulu. Yuk," kata Ayesha yang kemudian menuntun Hamzah untuk berjalan menuju ke arah sofa.
Ayesha kemudian mendudukkan Hamzah di sofa yang tadi dia duduki itu.
"Kak Hamzah tunggu sebentar, ya. Yesha ambilin air minum buat Kak Hamzah dulu," kata Ayesha.
__ADS_1
Hamzah menganggukkan kepalanya pelan. Ayesha pun kemudian bergegas untuk menuju ke dapur di apartemen milik kakaknya itu dan mengambilkan air minum untuk Hamzah.
Ayesha segera kembali menghampiri Hamzah dengan segelas air putih di tangannya saat ini. Dapat Ayesha lihat Hamzah yang saat ini sedang menyandarkan kepalanya pada sofa dengan kedua mata yang tertutup itu. Beberapa kancing kemeja Hamzah bagian atas juga sudah terbuka.
Nafas Hamzah terlihat ngos-ngosan dengan wajah yang memerah. Hamzah terlihat sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat saat ini. Dan Ayesha merasa sangat kasihan melihat kekasihnya berada dalam keadaan seperti itu.
"Kak, minum dulu airnya," kata Ayesha dengan mendudukkan dirinya di sebelah Hamzah.
Hamzah membuka kedua matanya kemudian menoleh ke arah Ayesha. Hamzah lalu menegakkan tubuhnya perlahan-lahan. Dengan dibantu oleh Ayesha, Hamzah pun kemudian meminum air putih yang dibawakan oleh Ayesha itu sampai habis setengahnya.
Ayesha kemudian meletakkan gelas yang dia bawa itu ke atas meja sofa.
"Gimana keadaan Kak Hamzah sekarang?" tanya Ayesha dengan menggenggam tangan Hamzah.
"Kepala kakak pusing, Sha. Tubuh kakak juga rasanya panas banget," jawab Hamzah.
"Yaa Allah, sebenarnya apa yang sudah terjadi sama Kak Hamzah?" tanya Ayesha, masih dengan raut wajah yang khawatir itu.
"Entahlah, Sha. Kakak juga nggak tau," jawab Hamzah.
Hamzah tiba-tiba mengangkat tangan Ayesha yang sedang menggenggam tangannya itu kemudian meletakkannya di pipi Hamzah.
"Tangan kamu dingin, Sha. Rasanya nyaman banget," ucap Hamzah.
Belum sempat Ayesha menjawab, tiba-tiba saja Hamzah sudah mengangkat tangannya yang satu lagi kemudian menangkupkannya di pipi Ayesha.
"Kak," lirih Ayesha sedikit terkejut.
"Kamu cantik sekali, Sha," kata Hamzah dengan tersenyum lembut.
"Ka-kak Hamzah," ucap Ayesha terbata dengan wajah yang memerah karena tersipu itu.
__ADS_1
"Kakak sayang banget sama kamu, Sha," kata Hamzah lagi.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Ayesha seketika berdetak lebih kencang dari biasanya. Berada dalam posisi sedekat ini dengan Hamzah dan mendengarkan pernyataan sayang dari kekasihnya itu, rasanya benar-benar membuat Ayesha sangat gugup dan tersipu malu dengan jantung yang berdebar-debar.
Perlahan-lahan Hamzah mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ayesha. Ayesha benar-benar merasa sangat gugup saat ini. Dan ketika bibir Hamzah menyentuh bibir Ayesha dengan sangat lembut, nafas Ayesha seketika tercekat dengan kedua mata yang membulat sempurna.
Sungguh, ini merupakan ciuman bibir pertama Ayesha dengan Hamzah. Selama tiga tahun lebih berpacaran dengan Hamzah, mereka berdua belum pernah sama sekali berciuman di bibir seperti ini. Selama ini mereka berdua hanya berani berciuman di kening dan pipi saja.
Dari awal berpacaran, Hamzah dan Ayesha memang sudah sepakat kalau hubungan mereka berdua adalah serius dan bukan hanya karena nafsu semata. Itu kenapa mereka berdua juga belum pernah sama sekali berciuman di bibir. Selain untuk menghindari munculnya hawa nafsu yang berlebihan juga untuk menjaga agar mereka berdua tidak lepas kendali dan akhirnya berbuat hal yang melebihi batas.
Tetapi kali ini rasanya Hamzah sudah tidak bisa menahan dirinya sendiri. Melihat bibir mungil Ayesha yang terlihat begitu lembut dan sangat menggoda itu, juga karena pengaruh obat yang tadi diberikan kepada Hamzah, akhirnya membuat Hamzah lepas kendali dan berani mencium bibir mungil kekasihnya itu.
Beberapa detik Hamzah menyatukan bibirnya dengan bibir Ayesha yang terasa sangat lembut itu. Setelah itu Hamzah lalu menarik kembali bibirnya dari bibir Ayesha. Hamzah tersenyum. Diusapnya dengan lembut pipi Ayesha, yang wajahnya masih terlihat sangat terkejut itu.
"Bibir kamu sangat lembut dan manis, sayang. Dan kakak sama sekali nggak menyesal karena sudah memberikan ciuman pertama kakak ini sama kamu. Kakak sayang banget sama kamu. Kakak sangat mencintai kamu, Sha," kata Hamzah yang sudah berada di ambang batas kesadarannya sendiri saat ini karena pengaruh obat yang tadi dia minum itu.
Sama seperti Hamzah, ini juga merupakan ciuman pertama bagi Ayesha. Kedua mata Ayesha berkaca-kaca. Merasa sangat terharu mendengar semua perkataan kekasihnya itu. Lidah Ayesha juga rasanya sangat kelu saat ini. Ayesha sama sekali tidak bisa berkata-kata sekarang. Hanya senyuman yang terukir di wajah cantik Ayesha saat ini.
Hamzah kemudian mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Ayesha. Dan sekali lagi, Hamzah kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Ayesha. Tetapi kali ini Hamzah mulai memberanikan diri untuk menggerakkan bibirnya. Me lu mat lembut bibir Ayesha. Mencecap rasa manis dari bibir kekasihnya itu.
Ayesha tidak kuasa untuk menolak ciuman dari laki-laki yang sangat dia cintai itu. Perlahan-lahan kedua mata Ayesha pun justru ikut tertutup, sama seperti kedua mata Hamzah yang juga sudah tertutup sedari tadi. Ayesha justru ikut terhanyut dalam kelembutan ciuman yang diberikan oleh kekasihnya itu.
Sepasang kekasih itu sangat dimabuk kepayang saat ini. Keduanya menumpahkan semua rasa cinta dan kasih sayang mereka berdua melalui kelembutan ciuman mereka saat ini.
Hamzah yang memang sedang berada dalam pengaruh obat itupun merasa semakin tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat ini. Ciumannya kepada Ayesha mulai berubah menuntut, membuat Ayesha merasa sedikit kewalahan menghadapi ciuman dari kekasihnya itu.
Nafas Hamzah dan Ayesha semakin berat. Keduanya sudah semakin terhanyut dalam pusaran kenikmatan yang timbul akibat permainan bibir mereka berdua saat ini.
Tubuh keduanya semakin merapat. Tangan Hamzah bahkan sudah terulur ke belakang kepala Ayesha saat ini. Menekan tengkuk Ayesha untuk semakin memperdalam ciuman mereka berdua. Sepasang kekasih itu benar-benar semakin dimabuk kepayang saat ini.
__ADS_1