
Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Aku baru saja selesai menyusui baby Angkasa dan saat ini putra kecilku itu sudah kembali terlelap dalam tidurnya. Seperti anak bayi pada umumnya, baby Angkasa juga seringkali terbangun di tengah malam. Entah itu untuk minum ASI atau hanya sekedar terjaga dari tidurnya dan mengajak begadang.
"Angkasa udah tidur lagi, sayang?" tanya Mas Awan seraya berjalan menghampiriku.
"Udah kok, Mas. Tapi ini biar pules dulu tidurnya, baru nanti aku letakkan ke boks bayinya lagi," jawabku dengan mengayun pelan baby Angkasa dalam gendonganku.
"Nih, Mas udah buatin nasi goreng spesial buatan Mas khusus untuk kamu, sayang. Kata Mama selama Mas nggak ada kemarin kamu sering kebangun di malam hari dan ngidam pengen makan nasi goreng spesial buatan Mas lagi, kan?" kata Mas Awan seraya mengangsurkan sepiring nasi goreng yang baunya sangat harum dan langsung menggoda seleraku itu.
"Hmm, wangi banget, Mas," ucapku dengan memejamkan kedua mataku, menghirup aroma sedap dari nasi goreng yang dibawa oleh Mas Awan itu.
"Iya. Makanya buruan kamu makan, sayang. Mumpung masih panas juga. Angkasa kalau belum pules tidurnya, sini biar sama Mas aja," kata Mas Awan yang sudah mendudukkan dirinya di sebelahku saat ini.
"Nggak perlu, Mas. Ini udah pules kok anaknya. Biar aku tidurin lagi aja ke boks bayinya," tolakku.
Aku kemudian bangun dari dudukku dan berjalan menuju ke arah boks bayi baby Angkasa yang terletak di sebelah tempat tidur kami ini. Pelan-pelan aku meletakkan kembali baby Angkasa ke dalam boks bayinya. Menepuk-nepuk pelan paha baby Angkasa agar dia semakin terlelap dalam tidurnya. Kemudian aku menyelimuti baby Angkasa lalu mencium keningnya penuh sayang.
Aku kemudian berjalan kembali menghampiri Mas Awan dan kembali mendudukkan diriku di sebelah Mas Awan.
"Mama cerita ya sama Mas Awan tentang aku yang sering kebangun di malam hari dan pengen makan nasi goreng spesial buatan Mas Awan itu?" tanyaku pada Mas Awan.
"Iya, sayang. Kemarin pas di rumah sakit itu Mama cerita sama Mas tentang masalah kamu yang sering kebangun di malam hari dan pengen makan nasi goreng itu. Mama juga bilang kalau kamu pasti selalu muntahin lagi nasi goreng yang kamu buat sendiri. Tapi setelah Mama yang buatin nasi gorengnya, alhamdulillaah kamu nggak muntahin lagi nasi goreng itu. Sayangnya kamu yang sering merasa nggak enak untuk bangunin Mama kalau kamu pas lagi ngidam kayak gitu. Sementara Mama sendiri juga sering pas nggak kebangun kalau kamu pas lagi ngidam pengen makan nasi goreng buatan Mas itu. Jadi Mama kayak ngerasa bersalah gitu katanya karena nggak bisa nurutin ngidam kamu itu, sayang," jawab Mas Awan menceritakan.
"Yaa Allah. Padahal aku sengaja nggak mau bangunin Mama karena takut ganggu waktu istirahatnya Mama dan ganggu tidurnya Mama juga, Mas. Aku nggak nyangka kalau Mama sampai berpikiran seperti itu," sesalku merasa bersalah juga.
Mas Awan justru tersenyum kemudian mengusap pipiku dengan lembut.
"Udah, nggak usah dibahas lagi. Udah lewat juga kan. Cuma Mama nitip pesen sama Mas, suruh bilangin ke kamu, lain kali jangan merasa sungkan atau nggak enak hati kalau mau minta tolong sama Mama. Soalnya kalau kamu nggak bilang, kan Mama juga nggak tau apa yang sedang kamu inginkan atau kamu butuhkan. Jadi kalau butuh apa-apa atau pengen sesuatu, kamu langsung bilang aja, ya. Entah itu sama Mama atau Papa, kalau Mas emang lagi nggak ada buat menemani kamu. Ya sayang, ya," pesan Mas Awan kepadaku, menyampaikan pesan dari Mama Wulan juga.
__ADS_1
"Iya, Mas," balasku, tidak ingin membantah.
"Ya udah. Sekarang kamu makan dulu ya nasi goreng spesial buatan Mas ini. Itung-itung buat nebus ngidam kamu kemarin selama Mas nggak ada. Ya meskipun sedikit terlambat sih, tapi seenggaknya tetep keturutan. Kan Angkasa juga bisa ikut ngerasain lewat ASI kamu juga nanti. Jadi secara tidak langsung dia juga udah ikut makan nasi goreng spesial buatan papanya yang selama ini dia pengen itu," kata Mas Awan kemudian.
Aku tertawa kecil mendengar semua perkataan Mas Awan itu.
"Mas Awan ada-ada aja deh. Emang ngidam bisa ditebus gitu ya?" tanyaku masih dengan tawa kecilku.
"Anggap aja bisa. Yang jelas pokoknya biar nanti Angkasa nggak ngences-an karena ada ngidam kamu yang nggak keturutan, sayang," jawab Mas Awan.
"Astaga, Mas," ucapku yang semakin tertawa mendengar perkataan Mas Awan itu.
"Udah-udah, ayo buruan dimakan, sayang. Keburu dingin nanti. Sini Mas suapin kamu. Ayo, buka mulut kamu, sayang. Aaaaa..."
Mas Awan menyodorkan sesendok penuh nasi goreng spesial buatannya itu ke depan mulutku. Aku pun kemudian membuka mulutku dan menerima suapan nasi goreng dari Mas Awan tersebut.
"Syukurlah kalau kamu suka," kata Mas Awan.
"Suka banget dong, Mas. Kalau nggak suka, aku nggak akan sampai ngidam dan kebangun di malam hari cuma karena pengen makan nasi goreng spesial buatan Mas Awan ini," balasku meyakinkan.
"Iya-iya, sayang. Ya udah, ayo buruan habisin nasi gorengnya. Buka lagi mulut kamu, sayang. Aaa....."
Kembali aku menerima suapan nasi goreng dari tangan Mas Awan.
"Oh iya, sayang. Ulang tahun pernikahan kita yang pertama udah kelewatan ya rupanya?" tanya Mas Awan di sela-sela aktivitasnya menyuapi aku.
"Hmm, udah kelewat sekitar setengah bulan yang lalu sih, Mas. Tapi nggak pa-pa lah. Kan waktu itu Mas juga belum kembali. Kita semua juga masih belum tau dimana keberadaan Mas Awan dan bagaimana keadaan Mas Awan," jawabku setelah menelan nasi goreng di mulutku.
__ADS_1
"Hmh, iya juga ya, sayang. Terus kalau untuk acara aqiqah Angkasa nanti, rencananya mau kita ambil hari ketujuh, keempat belas, atau kapan, sayang?" tanya Mas Awan lagi.
"Mmm, kalau misalnya kita ambil hari ketujuh besok lusa itu terlalu mepet enggak ya, Mas, buat nyiapin semuanya?" aku balik bertanya kepada Mas Awan.
"Insya Allah enggak, sayang. Kan nanti kita dibantuin juga sama semua keluarga kita untuk nyiapin acaranya. Bila perlu, nanti biar anak-anak di kafe juga ikut bantu persiapannya. Makin banyak orang yang bantuin kan makin ringan juga kerjanya, sayang," jawab Mas Awan seraya kembali menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutku.
"Ya udah, kalau gitu kita ambil hari ketujuh besok lusa itu aja ya, Mas?" tanyaku lagi, memastikan.
"Iya, sayang. Kita ambil hari ketujuh besok lusa itu aja," jawab Mas Awan.
"He-em," gumamku dengan menganggukkan kepala beberapa kali.
"Oh iya, sayang. Misalkan besok lusa itu Mas mau sekalian ngadain syukuran buat ngerayain ulang tahun pernikahan kita yang pertama gitu gimana, sayang? Ya, walaupun udah sedikit terlambat sih. Tapi nggak pa-pa lah. Yang penting kan do'a dari semuanya," usul Mas Awan lagi, menanyakan pendapatku juga.
"Eh, jadi mau tetep dirayain ya, Mas, walaupun udah kelewat?" tanyaku.
"Cuma syukuran kecil-kecilan aja, sayang. Kan sekalian sama aqiqahnya Angkasa. Jadi semua keluarga, kerabat, dan sahabat kita juga pas lagi ngumpul semua kan itu. Jadi bisa sekalian, gitu maksudnya Mas," jawab Mas Awan.
"Mmm,,, ya udah deh, Mas. Aku ngikut aja rencananya Mas Awan," balasku.
"Jadi kamu juga setuju kan, sayang, untuk acara dobel syukuran nanti? Syukuran aqiqahnya Angkasa sekalian syukuran ulang tahun pernikahan kita yang pertama," tanya Mas Awan memastikan.
"Iya, Mas. Aku setuju-setuju aja kok," jawabku.
"Oke deh. Kalau gitu biar besok Mas yang sampai-in ke Mama, Papa, ibu, sama keluarga kita yang lainnya ya, sayang," kata Mas Awan kemudian.
"Iya, Mas," balasku menyetujui.
__ADS_1
Aku dan Mas Awan sama-sama tersenyum. Mas Awan lalu melanjutkan aktivitasnya menyuapiku nasi goreng spesial buatannya itu sampai habis, seraya kami mengobrol tentang banyak hal juga.