
Awan POV.
Seorang perawat kembali memeriksa kondisi pembukaan pada bagian bawah tubuh Shofi. Aku menelan ludahku kasar. Melihatnya saja langsung membuatku bergidik ngeri. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana rasanya.
Belum lagi saat aku melihat Shofi yang meringis menahan rasa sakit ketika kontraksi itu datang lagi dan lagi. Bahkan semakin lama semakin sering saja datangnya. Aku biarkan Shofi yang terus mencengkeram erat tanganku tiap kali kontraksi itu datang. Karena aku sendiri juga tidak tau harus berbuat apa.
"Sudah pembukaan sempurna, Dok," kata perawat tersebut kepada Dokter Cahya.
"Oke. Persiapkan semuanya. Persalinan akan segera kita mulai sekarang," ucap Dokter Cahya.
"Baik, Dok," balas empat orang perawat yang berada di dalam ruangan bersalin tersebut.
Keempat perawat itu kemudian melakukan tugasnya masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk proses persalinan kali ini.
"Bu Shofi sudah siap? Kita mulai proses persalinannya sekarang ya, Bu," kata Dokter Cahya yang sudah mulai mengambil posisi di ujung hospital bed khusus persalinan yang sedang digunakan oleh Shofi saat ini.
"Iya, Dok," balas Shofi dengan suara lemah.
"Pak Awan, tolong bantu untuk terus menyemangati ibu Shofi, ya. Pada saat-saat seperti ini dukungan dari bapak selaku suaminya adalah yang paling dibutuhkan oleh ibu Shofi," kata Dokter Cahya kepadaku.
"Baik, Dok," balasku.
Dan akhirnya proses persalinan itupun dimulai. Dokter Cahya memberikan arahan-arahan pada Shofi. Satu orang perawat juga berdiri di sebelah kanan shofi, membantu Shofi juga mengarahkan cara mengambil nafas yang benar kepada Shofi.
"Pak Awan, terus support istrinya, ya. Suster, bantu arahkan dari sana. Yang lain persiapkan semua yang kita butuhkan nanti. Bu Shofi, saat kontraksi datang, tarik nafas yang dalam lalu dorong sekuat tenaga ya, Bu. Tunggu aba-aba dari saya," kata Dokter Cahya memberi instruksi kepada semuanya.
Aku, Shofi, dan keempat perawat itupun menganggukkan kepala kami sebagai jawaban. Mengiyakan arahan dari Dokter Cahya tadi.
"Bu Shofi, nanti saat mengejan angkat kepala ibu, ya. Pandangan jatuh ke perut ibu. Sekiranya sudah tidak kuat, berhenti dulu untuk atur nafas lagi. Oke?" lanjut Dokter Cahya.
Shofi kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Oke Bu Shofi, atur nafas dulu. Tarik nafas yang dalam. Dorong sekarang, Bu!" perintah Dokter Cahya.
__ADS_1
"Heeeeeeeeennnggghhhh,,," Shofi nampak mengejan dengan sekuat tenaga setelah sebelumnya menarik nafasnya dalam-dalam.
Aku meringis merasakan genggaman tangan Shofi yang begitu kuat itu. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Shofi saat ini.
"Oke, stop. Nah, betul seperti itu. Sudah mulai turun. Kita ulangi lagi ya, Bu. Atur nafasnya lagi. Tarik nafas dalam-dalam. Dorong lagi, Bu, sekarang!" perintah Dokter Cahya lagi.
"Heeeeeeeeennnggghhhh,,," kembali Shofi mengejan dengan sekuat tenaga.
"Huft, huft, huft," nafas Shofi sudah sangat ngos-ngosan dengan keringat yang memenuhi seluruh tubuhnya.
"Kamu kuat, Shofi. Kamu pasti bisa," ucapku mencoba memberikan semangat kepada Shofi.
Baru pertama kali ini aku mendampingi seorang wanita melalui proses persalinannya. Dan ternyata sesusah ini perjuangan seorang wanita untuk melahirkan bayinya. Benar-benar sebuah perjuangan yang sangat berat untuk menjadi seorang ibu.
Dan tiba-tiba saja sekelebat bayangan seorang wanita paruh baya muncul di kepalaku. Apakah itu adalah ibuku? Diakah wanita yang sudah bersusah payah melahirkan diriku ke dunia ini dulu?
"Atur nafasnya dulu ya, Bu," kata perawat di sebelah Shofi seraya memberikan pijatan-pijatan di perut Shofi, mungkin untuk memberikan rangsangan tambahan kepada Shofi.
"Sudah kelihatan, Bu. Sekali lagi ya, Bu. Kerahkan seluruh tenaga ibu. Ayo Bu, demi bayi ibu. Ibu Shofi pasti bisa," kata Dokter Cahya yang juga memberikan semangat kepada Shofi.
"Bismillah, Shofi. Kamu pasti bisa," ucapku kembali memberi semangat pada Shofi.
"Tarik nafas dalam-dalam, Bu. Dan, dorong sekuat tenaga, Bu, sekarang!" aba-aba Dokter Cahya lagi.
'Bismillaah hirrohmaan nirrohiim. Allaahu akbar,' Shofi mengucap basmalah dan bertakbir dalam hati.
"Huft, huft. Heeeeeeeeennnggghhhh,,," kembali Shofi mengejan dengan sekuat tenaga yang dia mampu.
Dan,
"Oeeek, oeeek, oeeek,,," perhatian kami semua langsung tertuju ke arah suara tangisan bayi yang nyaring itu, yang memenuhi ruangan persalinan ini.
Senyum bahagia penuh kelegaan itu langsung mengembang begitu saja di wajahku. Aku menoleh ke arah Shofi. Shofi juga terlihat sedang tersenyum dengan penuh kelegaan saat ini. Sesaat kemudian Shofi pun juga melihat ke arahku. Kami berdua kemudian sama-sama tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Selamat ya, bapak dan ibu. Seorang bayi laki-laki yang sehat," kata Dokter Cahya dengan tersenyum.
"Alhamdulillaah," ucap syukurku dan Shofi bersamaan.
Deg.
Tiba-tiba saja aku seperti merasakan ada ingatan-ingatan yang berkelebat dan memenuhi kepalaku saat ini. Dan itu adalah ingatan kebersamaanku dengan Shofi. Bahkan ada seorang anak kecil laki-laki juga.
Aku berusaha keras untuk mencoba mencerna semua ingatan-ingatan yang tiba-tiba datang itu. Sampai kemudian terdengar suara salah satu perawat yang menghampiriku.
"Silahkan bapak kalau mau mengadzani putranya," ucap perawat tersebut seraya menyerahkan bayi laki-laki yang sudah tertutupi dengan selimut itu.
Aku menerima bayi mungil tersebut dari tangan perawat tadi. Dengan hati-hati aku gendong bayi mungil itu. Jantungku seketika berdebar dengan sangat kencang begitu melihat wajah bayi mungil tersebut.
Perlahan-lahan aku kemudian mendekatkan wajahku ke arah telinga kanan bayi mungil tersebut. Aku pun kemudian mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi mungil itu dengan suara selembut mungkin.
Setelah selesai dengan kumandang adzanku, aku pun kemudian beralih ke arah telinga kiri bayi mungil tersebut. Aku kemudian mengumandangkan iqamah di telinga kiri bayi mungil tersebut dengan suara yang juga selembut mungkin. Berusaha mengenalkan bayi mungil itu kepada Allah Subhanahu wata'ala dan juga tentang tugasnya di dunia ini nanti.
Setelah aku selesai mengumandangkan adzan dan iqamah untuk bayi mungil tersebut, aku pun kemudian kembali menyerahkan bayi mungil itu kepada perawat di sebelahku.
Ingatan-ingatan itu datang semakin banyak, memenuhi seisi kepalaku. Aku memegang pelipis kananku. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa merangkai semua ingatan-ingatan itu. Tapi rasanya kepalaku juga sakit sekali saat ini. Mungkin karena aku yang berusaha terlalu keras untuk bisa segera merangkai semua ingatan-ingatan itu.
Aku membulatkan kedua mataku begitu mengingat sesuatu. Aku kemudian menoleh ke arah Shofi. Bisa kulihat Shofi yang juga sedang menatap ke arahku dengan wajah khawatir dan air mata yang sudah membasahi wajahnya saat ini.
"Baby Angkasa," ucapku setelah dengan susah payah mengingat sebuah nama yang dulu sudah aku pilih untuk putraku ketika dia lahir ke dunia nanti.
"Mas Awan," lirih Shofi yang nampak begitu terkejut.
"Aaahhh,,," pekikku dengan memegangi kepalaku ketika rasa sakit itu kurasakan semakin hebat di kepalaku.
Kepalaku benar-benar sakit saat ini. Rasanya pusing sekali. Dan tiba-tiba saja kurasakan tubuhku langsung roboh begitu saja.
"MAS AWAN!!!"
__ADS_1
Itu adalah teriakan nyaring dari Shofi yang masih bisa aku dengar, sesaat sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaranku.