Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
23. Melahirkan Lebih Awal


__ADS_3

Awan POV.


"Awan? Kamu kenapa? Kok diem aja?" tanya laki-laki di hadapanku ini dengan mengernyitkan keningnya.


"A-aku---," entah kenapa aku tidak mampu melanjutkan perkataanku.


Suaraku seakan tercekat di tenggorokan. Ada banyak kata yang ingin aku sampaikan, tapi aku tidak mampu untuk mengatakannya. Bahkan seakan aku merasa ada sebuah dorongan kuat dari dalam diriku untuk segera memeluk laki-laki di hadapanku ini. Dan aku tidak tau kenapa bisa aku merasa seperti itu.


"Mas Awan bilang dia mengalami amnesia pasca trauma, Bang. Jadi saat ini dia nggak ingat sama kita."


Bukan aku, tapi justru Shofi, wanita hamil yang sedang bersandar pada tubuhku ini, yang menjawabnya.


Aku melihat ke arah Shofi. Sepertinya dia sudah sedikit lebih tenang saat ini. Mungkin rasa sakit yang tadi dia rasakan sudah berkurang.


"Apa? Amnesia? Jadi Awan hilang ingatan sekarang?" tanya laki-laki itu lagi begitu terkejut.


"Sepertinya begitu, Bang," jawab Shofi.


"Astaghfirullah hal adziim," lirih laki-laki tersebut. "Yaa Allah, kenapa bisa jadi seperti ini?" lanjut laki-laki itu lagi.


"Maaf, tapi Anda?" akhirnya aku bertanya juga, ingin tau siapa laki-laki di hadapanku ini sebenarnya.


"Dia Bang Langit, Mas. Kakak kandung Mas Awan," jawab Shofi.


"Bang Langit? Kakak kandungku?" ulangku bertanya.


"Iya, Mas," jawab Shofi.


"Kamu beneran nggak ingat sama Abang, Wan?" tanya laki-laki yang katanya kakak kandungku itu.


Bisa aku lihat wajah Bang Langit yang bertanya dengan penuh harap itu. Tapi sayangnya aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.

__ADS_1


"Yaa Allah," lirih Bang Langit kecewa.


"Mmmhhhh....."


Aku merasakan genggaman tangan Shofi pada tangan kiriku semakin erat. Aku dan Bang Langit langsung mengalihkan perhatian kami kepada Shofi. Shofi terlihat kembali meringis menahan rasa sakit. Sepertinya kontraksi itu datang lagi padanya.


"Kamu kenapa, Shof?" tanya Bang Langit khawatir.


"Sakit lagi?" tanyaku juga.


Dan Shofi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sssttt,,, astaghfirullah hal adziim. Huft.... Huft....."


Shofi beristighfar dan terus mengatur nafasnya. Tanpa aku sadari tangan kananku mengusap-usap lengan Shofi yang sedang aku pegang saat ini. Shofi nampak kaget dan langsung menoleh ke arahku. Sementara aku sendiri juga bingung, kenapa aku bisa tiba-tiba mengusap lengan Shofi seperti itu.


Akhirnya perawat yang tadi pergi untuk mengambil stretcher sudah kembali dengan mendorong sebuah stretcher menghampiri kami saat ini. Aku dan dua perawat yang lainnya kemudian membantu Shofi untuk naik ke atas stretcher tersebut.


Aku sendiri sebenarnya bingung dengan semua yang kulakukan saat ini. Aku secara refleks melakukan hal-hal yang tidak aku sadari. Seolah-olah itu semua adalah perintah dari alam bawah sadarku. Tetapi aku juga tidak ingin menghentikan semuanya ini. Itu kenapa aku membiarkan semuanya tetap terjadi seperti ini.


Beberapa saat kemudian kami sudah sampai di bagian poli kandungan di rumah sakit ini. Stretcher Shofi hendak didorong masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Tetapi kemudian salah satu perawat menghentikan aku dan Bang Langit.


"Maaf, tapi sebaiknya hanya suami pasien yang ikut masuk ke dalam," kata perawat tersebut.


Aku dan Bang Langit saling pandang. Bang Langit kemudian menepuk pelan pundakku.


"Kamu aja yang masuk, Wan. Temani istri kamu," kata Bang Langit.


Aku menganggukkan kepalaku. Para perawat kemudian kembali mendorong stretcher Shofi untuk masuk ke dalam ruangan pemeriksaan dan aku juga ikut masuk seraya masih terus memegangi tangan Shofi.


Dokter yang bertugas saat ini, yang kebetulan adalah Dokter Cahya, segera melakukan pemeriksaan terhadap Shofi. Perawat juga kemudian memasangkan infus di tangan kanan Shofi yang sedang tidak aku genggam saat ini, karena aku menggenggam tangan kiri Shofi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, setelah dokter tersebut selesai dengan semua pemeriksaannya,


"Loh, ini bukannya Pak Awan suaminya Bu Shofi, kan? Jadi akhirnya Pak Awan sudah kembali, Bu?" tanya dokter tersebut.


Aku mengernyitkan keningku, belum bisa memahami ucapan dokter wanita tersebut.


"Tadi nggak sengaja ketemu di bagian farmasi, Dok. Tapi kata Mas Awan dia mengalami amnesia pasca trauma. Jadinya Mas Awan nggak bisa mengingat aku dan kejadian masa lalunya dulu," jawab Shofi lemah.


"Astaghfirullah hal adziim. Ah, jadi seperti itu rupanya. Kontraksi yang terjadi pada ibu Shofi adalah akibat dari syok yang ibu Shofi alami setelah bertemu kembali dengan Pak Awan dan mengetahui kabar buruk tentang amnesia yang dialami oleh Pak Awan. Sampai akhirnya mengakibatkan ketuban ibu Shofi pecah dini," jelas Dokter Cahya.


( NB: Sebagai dokter yang memang menangani Shofi sejak pertama kali dinyatakan positif hamil, tentu saja Dokter Cahya juga mengetahui tentang masalah Awan, suami Shofi, yang dulu mengalami kecelakaan dan dinyatakan hilang. )


"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Shofi.


"Kandungan ibu Shofi memang baru memasuki usia 34 minggu awal. Tetapi karena air ketuban sudah terlanjur pecah dini, dan juga berdasarkan pemeriksaan saya tadi ibu Shofi juga sudah pembukaan empat sekarang. Jadi mau tidak mau ibu Shofi harus melahirkan sedikit lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Mungkin nanti kita bisa melakukan induksi untuk lebih merangsang kontraksinya, biar pembukaannya juga segera bertambah. Apalagi kondisi janin yang sedang ibu Shofi kandung juga dalam keadaan sangat baik, jadi tidak akan ada masalah seandainya ibu Shofi harus melahirkan lebih awal saat ini," jawab Dokter Cahya menjelaskan.


Aku dan Shofi sama-sama terkejut mendengar penjelasan dari Dokter Cahya. Bahkan bisa aku rasakan tangan Shofi yang mulai bergetar dalam genggamanku saat ini. Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tangan Shofi. Ingin rasanya aku mengatakan kepada Shofi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi lidahku seakan kelu.


"Jadi bagaimana, Pak Awan? Apakah bapak menyetujui untuk istri bapak melahirkan lebih awal dari perkiraan sebelumnya?" tanya Dokter Cahya.


"Jika memang harus seperti itu, tolong lakukan yang terbaik, Dok. Tolong selamatkan istri dan anak saya," ucapku tiba-tiba dengan mantap.


Seolah-olah perkataan itu keluar begitu saja dari mulutku. Dan dari ekor mataku, dapat aku lihat Shofi yang terkejut dan langsung menatap ke arah diriku.


"Baik, Pak Awan. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menyelamatkan istri dan anak bapak," kata Dokter Cahya.


Dan akhirnya seperti yang sudah dikatakan oleh Dokter Cahya tadi, Shofi kemudian mendapatkan induksi melalui infusnya untuk lebih merangsang kontraksinya menjadi semakin sering, agar pembukaannya juga semakin cepat, mengingat air ketuban Shofi yang sudah pecah terlebih dahulu tadi.


Genggaman tangan Shofi mencengkeram tanganku semakin erat setiap kali kontraksinya itu datang, lagi dan lagi. Tetapi Shofi terus mengalihkan rasa sakitnya itu dengan banyak-banyak beristighfar dan mengatur nafasnya sendiri. Aku merasakan hatiku rasanya juga ikut ngilu ketika melihat semua kesakitan yang dialami oleh Shofi setiap kali kontraksinya itu datang.


Aku menghapus keringat di kening Shofi menggunakan jari-jari tanganku. Aku usap-usap lembut tangan kiri Shofi yang saat ini sedang aku genggam. Mencoba menyalurkan kekuatan kepada Shofi.

__ADS_1


Sementara Dokter Cahya dan beberapa orang perawat terlihat masih sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk proses persalinan Shofi ini nanti.


__ADS_2