Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
71. Amarah Hamzah


__ADS_3

"AYESHA!!!" teriak Hamzah dan Nadirga setelah berhasil mendobrak pintu ruangan dimana Ayesha sedang disekap itu.


Ayesha, Chika, dan juga ketiga orang laki-laki suruhan Chika itu pun merasa sangat terkejut. Mereka semua langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu ruangan yang terbuka dengan paksa dari luar itu. Disana sudah berdiri Hamzah, Nadirga, dan Alvin dengan raut wajah penuh amarah.


"Kakak. Kak Hamzah," lirih Ayesha dengan air mata yang semakin mengalir deras itu.


Melihat kondisi pakaian Ayesha yang sangat berantakan dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh air mata itu. Juga dua orang laki-laki yang sedang memegangi kedua tangan Ayesha dan seorang laki-laki yang sedang berusaha untuk mencumbu Ayesha dari depan. Membuat Hamzah, Nadirga, dan Alvin pun meradang.


Amarah seketika memenuhi diri Hamzah saat ini. Tanpa berpikir panjang lagi Hamzah langsung berlari menghampiri Ayesha dan tiga orang laki-laki suruhan Chika itu. Hamzah langsung menarik laki-laki bertubuh paling besar itu untuk berdiri.


Bugh!!!


Satu pukulan sangat keras langsung Hamzah layangkan ke wajah laki-laki itu. Dan belum sempat laki-laki itu memberikan perlawan atas serangan Hamzah tersebut, Hamzah sudah kembali melayangkan pukulan demi pukulannya kepada laki-laki itu.


Kedua laki-laki yang tadi memegangi tangan Ayesha pun langsung berdiri dan hendak membantu bos-nya yang sedang dihajar oleh Hamzah itu. Tetapi diluar dugaan, Hamzah mampu menghalau serangan mereka berdua dan bahkan juga langsung melancarkan serangan balasan kepada dua orang laki-laki itu juga.


Nadirga dan Alvin memilih untuk tidak ikut campur dan membiarkan Hamzah yang sedang menghajar habis-habisan ketiga orang laki-laki suruhan Chika itu. Mereka berdua bisa memahami amarah yang sedang dirasakan oleh Hamzah saat ini. Amarah Hamzah itu bahkan jauh lebih besar daripada amarah mereka berdua sendiri.


Nadirga kemudian menghampiri Ayesha yang masih terduduk di lantai dengan wajah ketakutan itu. Dipeluknya adik perempuan satu-satunya itu.


"Yesha. Kamu nggak pa-pa kan, Dek?" tanya Nadirga khawatir.

__ADS_1


"Kakak, aku takut, Kak. Huhuhu,,," jawab Ayesha masih dengan tangisannya.


Hamzah menghajar ketiga orang laki-laki suruhan Chika itu dengan membabi buta. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya ketiga orang laki-laki suruhan Chika itu pun sudah jatuh bergelimpangan di lantai dalam keadaan babak belur dan tidak mampu untuk bangun lagi.


Di dalam hatinya, Alvin merasa sangat terkejut melihat keberingasan serangan Hamzah itu. Tadi saja Hamzah bahkan membutuhkan bantuannya ketika menghadapi salah satu penjaga di depan. Tapi sekarang, Hamzah justru bisa menumbangkan tiga orang laki-laki itu dengan sangat mudahnya.


Ternyata seperti itulah kehebatan amarah seseorang. Yang mampu merubah kemampuan mereka menjadi berkali-kali lipat lebih kuat daripada sebelumnya.


Melihat ketiga orang laki-laki suruhannya itu sudah tidak berdaya di lantai, Chika pun mulai merasa panik. Diam-diam Chika kemudian berusaha untuk melarikan diri dari ruangan tersebut. Namun sayangnya Alvin dengan sigap langsung menghadang Chika.


"Mau lari kemana kamu?" tanya Alvin.


Chika semakin panik. Tanpa berpikir panjang, Chika kemudian berusaha untuk mendorong tubuh Alvin. Sayangnya Chika kalah tenaga dari Alvin yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya terhadap serangan Chika itu.


"Aaakkkhhh," pekik kesakitan Chika.


Tidak lama kemudian, Sammy dan Lucky datang bersama dengan tiga orang anak buah mereka.


"Kak Sammy, tolong urus mereka semua. Bawa langsung mereka semua ke kantor polisi," pinta Nadirga.


"Oke, Ga. Lo tenang aja," balas Sammy.

__ADS_1


"Aku nggak mau. Lepasin. Aku nggak mau dibawa ke kantor polisi," teriak Chika berusaha untuk memberontak.


Namun sayangnya kuncian tangan Alvin itu terlalu kuat sehingga Chika tidak bisa melepaskan diri sama sekali.


"Diam kamu. Ayo ikut kami ke kantor polisi. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan jahat kamu ini," hardik Alvin.


Alvin, Sammy, Lucky, dan tiga orang anak buahnya itu kemudian membawa Chika dan ketiga orang laki-laki suruhan Chika yang sudah tidak berdaya itu untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Enggak. Aku nggak mau. Kak Hamzah tolong aku. Aaahhhhh, aku nggak mau dibawa ke kantor polisi. Aaahhhhh... Ayesha, awas kamu. Tunggu pembalasan dariku," teriak Chika histeris.


Setelah melihat Chika dan ketiga orang laki-laki suruhannya itu dibawa pergi, Hamzah pun kemudian berbalik ke arah Ayesha dan Nadirga.


"Yesha," lirih Hamzah dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


Raut wajah penuh amarah Hamzah tadi kini sudah hilang dan berganti dengan raut wajah yang sendu. Hamzah langsung menghampiri kekasih hatinya tersebut.


Nadirga melepaskan pelukannya kepada Ayesha. Nadirga sangat bisa memahami kekhawatiran Hamzah saat ini. Itu kenapa Nadirga ingin memberikan kesempatan kepada Hamzah sekarang untuk meluapkan kekhawatirannya.


"Kak Hamzah," lirih Ayesha juga.


Hamzah langsung menghambur dan memeluk tubuh Ayesha. Ayesha kembali menumpahkan tangisannya di dalam pelukan kekasihnya itu. Air mata Hamzah pun kemudian ikut mengalir begitu saja. Hati Hamzah rasanya hancur melihat keadaan Ayesha yang seperti itu.

__ADS_1


Dan seperti itu juga yang sedang dirasakan oleh Nadirga saat ini. Nadirga mengusap lembut punggung Ayesha yang masih berguncang hebat dalam pelukan Hamzah itu. Nadirga merasa sangat marah dan sedih melihat keadaan adik perempuannya sekarang ini.


__ADS_2