
Saat ini Chef Yudha dan Nisa sudah duduk bersisian di sebuah kursi di taman kecil rumah sakit tersebut.
"Neng Nisa suka ya sama Bos Awan?" tanya Chef Yudha.
"Kelihatan banget ya, Kang?" tanya balik Nisa.
"Kelihatan banget sih enggak. Tapi kalau mau memperhatikan dengan seksama, dari tatapan mata Eneng aja emang udah kelihatan sih," jawab Chef Yudha.
"Duh, Teh Shofi nanti jadi salah paham enggak ya? Eneng beneran nggak bermaksud seperti itu, Kang," ucap Nisa khawatir.
"Kayaknya sih Bu Bos nggak begitu merhatiin. Mereka masih dalam suasana bahagia karena lahirnya baby Angkasa dan juga kembalinya Bos Awan saat ini," kata Chef Yudha.
"Huft, syukurlah kalau gitu," lirih Nisa membuang nafas lega seraya mengusap dadanya pelan.
"Jadi? Bener ya kalau Neng Nisa suka sama Bos Awan?" tanya Chef Yudha sekali lagi.
Nisa nampak terdiam. Masih bimbang antara harus menjawab pertanyaan Chef Yudha itu dengan jujur atau tidak.
"Tenang aja, Akang bisa jaga rahasia dengan baik kok. Tapi kalau emang Neng Nisa masih tetep nggak mau cerita, ya udah nggak pa-pa. Itu hak Neng Nisa. Akang nggak akan maksa juga kok," ucap Chef Yudha, tidak ingin memaksa.
Nisa menarik nafasnya dalam, menguatkan hatinya sendiri. Nisa memang sedang membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita saat ini. Setidaknya agar beban di hati Nisa bisa sedikit berkurang. Dan sepertinya, Chef Yudha adalah orang yang bisa dijadikan tempat untuk berbagi cerita oleh Nisa saat ini.
"Boleh Eneng berbagi cerita sama Kang Yudha?" ijin Nisa.
"Tentu saja boleh, Neng," balas Chef Yudha meyakinkan.
Chef Yudha kemudian sedikit menyerongkan duduknya dan mengalihkan pandangannya ke arah Nisa. Berusaha untuk mendengarkan dengan baik apa yang akan diceritakan oleh gadis ayu di sebelahnya itu.
"Sebenarnya, jujur saja, Eneng memang suka dengan Kang Awan," kata Nisa, memulai ceritanya.
"Oh ya? Dan sekarang masih kah?" tanya Chef Yudha.
Nisa menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban.
"Dulu Eneng pernah mengutarakan perasaan suka Eneng itu sama Kang Awan. Tapi Kang Awan menolaknya. Kang Awan bilang kalau dia udah nganggep Eneng seperti adiknya sendiri. Kang Awan sayang sama Eneng, tapi itu perasaan sayang seorang kakak kepada adiknya. Jadi mulai saat itu, Eneng mencoba untuk menghilangkan rasa suka itu perlahan-lahan. Apalagi setelah melihat kebahagiaan Kang Awan bersama dengan Teh Shofi dan anak-anaknya tadi. Eneng jadi semakin yakin kalau Eneng memang harus menghilangkan perasaan ini sepenuhnya. Meskipun jujur saja, hati Eneng juga sempat merasa sakit ketika melihat kebersamaan Kang Awan bersama dengan Teh Shofi dan anak-anaknya tadi. Tapi Eneng juga sadar, Kang Awan berhak memperoleh kebahagiaannya sendiri. Dan itu bukan bersama dengan Eneng, melainkan bersama dengan istri dan anak-anaknya. Apa yang Eneng lakuin itu udah bener kan, Kang?" kata Nisa mengutarakan isi hatinya.
Chef Yudha tersenyum lembut.
__ADS_1
"Eneng nggak salah kok. Justru Eneng udah hebat banget loh ini. Eneng nggak mau memaksakan keinginan Eneng sendiri dan lebih memilih untuk mengalah, meskipun hati Eneng sebenarnya juga sakit. Akang salut banget sama Neng Nisa," puji Chef Yudha.
"Sungguh, Kang?" tanya Nisa, tidak menyangka akan jawaban dari Chef Yudha tersebut.
"Iya, Neng. Beneran," jawab Chef Yudha, meyakinkan.
"Makasih, Kang," ucap Nisa seraya tersenyum kecil.
"Iya, Neng, sama-sama. Sekarang, Eneng mau enggak gantian denger cerita dari Akang?" tanya Chef Yudha kemudian.
"Boleh, Kang," jawab Nisa.
"Eneng percaya enggak kalau Akang bilang sebenarnya Akang suka sama Shofi?" tanya Chef Yudha masih dengan melihat ke arah Nisa.
Nisa nampak terkejut mendengar perkataan Chef Yudha tersebut.
"Kang Yudha suka sama Teh Shofi?" tanya Nisa tidak percaya.
Yudha justru tertawa kecil melihat keterkejutan Nisa itu.
"Subhanallah. Eneng salut banget sama Kang Yudha dan semua yang udah Kang Yudha lakuin itu," puji Nisa juga.
"Kita berdua sebenarnya sama, Neng. Akang juga sempat merasakan sakit hati tadi saat melihat kebersamaan dan kebahagiaan Shofi bersama dengan Bos Awan dan anak-anaknya. Sama seperti kamu juga kan? Tetapi seperti yang sudah kamu bilang tadi juga, sama seperti Bos Awan, Shofi pun juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Dan itu bukan bersama dengan Akang, melainkan bersama dengan Bos Awan dan anak-anak mereka," kata Chef Yudha kemudian.
"Iya ya, Kang. Ternyata kita memiliki cerita dan masalah hati yang sama," ucap Nisa dengan tertawa kecil.
"Makasih banyak ya, Kang, udah bersedia mendengarkan cerita Eneng. Hati Eneng jadi merasa lebih lega sekarang," ucap Nisa kemudian.
"Nggak perlu bilang makasih, Neng. Eneng juga udah bersedia dengerin cerita dari Akang tadi, jadi kita sama kan? Lagian juga, Akang seneng kok bisa saling berbagi cerita gini sama Neng Nisa," balas Chef Yudha.
"Iya, Kang. Sama, Eneng juga seneng kok," kata Nisa.
Nisa dan Chef Yudha kemudian saling melempar senyum manis.
Tiba-tiba saja terdengar suara dering telepon masuk yang begitu nyaring dari dalam saku jaket Chef Yudha. Chef Yudha kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku jaket yang sedang dia pakai itu. Dilihatnya siapa yang sedang menelponnya saat ini. Ternyata itu dari Mbak Maya.
"Telepon dari Mbak Maya. Bentar ya, Neng," ijin Chef Yudha kemudian.
__ADS_1
"Iya, Kang," balas Nisa mempersilahkan.
Chef Yudha kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya tersebut.
📞: Halo, Mbak. Assalamu'alaikum.
📞: Wa'alaikumsalam, Yud. Yudha kamu dimana sih? Kok lama banget nggak balik-balik ke kafe. Ya emang kafe lagi nggak begitu ramai juga sih. Tapi kan kita semua jadi khawatir sama kamu karena kamu nggak balik-balik dari tadi.
📞: Eh, iya. Sorry Mbak, sorry. Sampai lupa ngabarin. Ini aku masih di rumah sakit Mbak. Tadi keasyikan ngobrol sama Bos Awan, jadinya sampai lupa waktu deh.
📞: Hah? Bos Awan? Mbak nggak salah denger kan, Yud?
📞: Iya, Mbak. Bos Awan. Mbak Maya nggak salah denger kok. Syukur alhamdulillaah akhirnya Bos Awan sudah kembali Mbak. Dan dia juga yang nemenin Bu Bos lahiran kemarin.
📞: Subhanallah. Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin. Akhirnya Bos Awan beneran kembali juga, Yud. Masya Allah. Duh, jadi nggak sabar ini pengen cepet-cepet ke rumah sakit biar bisa ketemu sama Bos Awan, sama Bu Bos dan bayinya juga.
📞: Oh iya, tadi Bos Awan bilang kalau kafe tutup lebih awal aja Mbak. Biar Mbak Maya dan yang lainnya bisa segera nyusul kesini. Bos Awan juga udah kangen sama kalian katanya. Biar kita bisa kumpul-kumpul lagi kayak dulu.
📞: Oh, oke-oke, Yud. Mbak bilangin ke Adit, Danu, sama Dedi ya. Kita langsung nyusul kesitu begitu kafe udah tutup. Mumpung kafe nggak begitu ramai juga, jadi nggak masalah kita tutup sekarang aja.
📞: Oke, Mbak. Kalau gitu aku tungguin disini, ya. Mbak Maya sama yang lainnya buruan nyusulin kesini.
📞: Oke, Yud. Mbak tutup dulu kalau gitu. Assalamu'alaikum.
📞: Iya, Mbak. Wa'alaikumsalam.
Tut.
Sambungan telepon pun terputus.
"Kalau Akang mau ketemu sama temen-temen Akang, Eneng nggak pa-pa kok Kang balik ke kamar rawat inap Abah sendirian," kata Nisa setelah Yudha menyimpan kembali ponselnya.
"Mereka juga masih mau nutup kafe dulu kok, Neng. Nggak pa-pa. Yuk Akang anterin sampai ke kamar rawat inap Abahnya Eneng," ucap Chef Yudha.
"Ya udah kalau gitu. Mari, Kang," balas Nisa.
Nisa dan Chef Yudha kemudian bangun dari duduk mereka. Keduanya lalu meneruskan perjalanan mereka menuju ke kamar rawat inap Abah Imron.
__ADS_1