Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
44. Perasaan Yang Berbalas


__ADS_3

Pagi ini sebelum berangkat ke kafe Chef Yudha kembali menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah sakit dan membawakan makanan yang sudah dia masak sendiri untuk Nisa, Abah Imron, dan Umi Nur.


"Assalamu'alaikum," salam Chef Yudha begitu sampai di bangsal rawat inap Abah Imron.


"Wa'alaikumsalam," jawab Nisa, Abah Imron, dan Umi Nur bersamaan.


"Eh, nak Yudha," sapa Umi Nur.


"Iya, Umi," balas Chef Yudha yang kemudian mencium punggung tangan kanan Umi Nur dan Abah Imron bergantian.


"Kang Yudha," sapa Nisa juga seraya mengangkat kedua tangannya dan menangkupkannya di depan dadanya, sebagai simbol salaman secara tidak langsung.


"Iya, Neng," balas Chef Yudha yang juga ikut menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, sama seperti yang dilakukan oleh Nisa tersebut.


"Oh iya, ini saya bawain makanan untuk Abah, Umi, sama Neng Nisa juga," kata Chef Yudha seraya menyerahkan paper bag yang dia bawa kepada Umi Nur.


"Wah, terima kasih banyak ya, nak Yudha," jawab Umi Nur dengan menerima paper bag dari tangan Chef Yudha tersebut.


"Iya, sama-sama, Umi," balas Chef Yudha.


"Duh, kita jadi nggak enak nih selalu ngerepotin nak Yudha kayak gini terus. Nak Yudha harus selalu repot-repot buat masakin kita terus masih harus nganterin kesini pula. Sekali lagi terima kasih banyak ya, nak Yudha," ucap Umi Nur berterima kasih dengan tulus.


"Sama-sama, Umi. Lagian juga nggak ngerepotin sama sekali kok, Umi. Kan sekalian saya masak juga tadi. Jadi sekalian aja saya masak lebih banyak buat dibawa kesini untuk Umi, Abah, sama Neng Nisa. Semoga Umi, Abah, sama Neng Nisa suka ya dengan masakan saya," balas Chef Yudha.


"Suka kok, nak. Suka banget malahan. Masakan nak Yudha enak. Tuh, lihat aja pipinya Nisa sampai jadi makin tembem kayak gitu," kata Umi Nur dengan tertawa kecil.


"Umi,,," rajuk Nisa merasa malu karena digoda uminya seperti itu.


Abah Imron, Umi Nur, dan Chef Yudha justru tertawa melihat Nisa yang tersipu malu itu.


"Hmm, ya udah deh kalau gitu. Saya sekalian mau langsung pamit aja ya, Umi, Abah, Neng Nisa. Mau berangkat kerja sekarang soalnya," pamit Chef Yudha kemudian.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya, nak Yudha. Dan sekali lagi terima kasih banyak untuk makanannya," balas Umi Nur.


"Iya, Umi, sama-sama. Mari Umi, Abah, Neng Nisa. Assalamu'alaikum," salam Chef Yudha.


"Wa'alaikumsalam," jawab Umi Nur, Abah Imron, dan Nisa bersamaan lagi.


"Hati-hati ya, nak Yudha," pesan Abah Imron juga.


"Pasti, Abah. Terima kasih," balas Chef Yudha.


Abah Imron tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Eneng anterin sampai ke depan ya, Kang. Umi, Abah, Eneng nganterin Kang Yudha sebentar, ya," kata Nisa yang sekaligus berpamitan kepada Umi Nur dan Abah Imron itu.


"Iya, Neng," balas Umi Nur dan Abah Imron mengiyakan.


"Mari, Kang," kata Nisa.


"Iya, Neng. Mari," balas Chef Yudha juga dengan tersenyum senang.


Dan ketika keduanya berjalan melewati taman kecil yang terdapat di rumah sakit tersebut, Chef Yudha pun kemudian membuka suaranya dan bertanya kepada Nisa.


"Mmm, kalau Akang mau bicara sebentar sama Neng Nisa, boleh enggak?" tanya Chef Yudha.


"Tentu saja boleh dong, Kang. Mau duduk di taman situ dulu enggak?" jawab Nisa sekaligus bertanya juga kepada Chef Yudha.


"Boleh, Neng. Ayo," ajak Chef Yudha dengan tersenyum.


Nisa ikut tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Nisa dan Chef Yudha kemudian berjalan menghampiri salah satu bangku taman yang kosong. Mereka berdua kemudian mendudukkan dirinya di bangku taman tersebut.


"Kang Yudha mau ngomongin apa emangnya?" tanya Nisa setelah mereka berdua duduk di bangku taman tersebut.

__ADS_1


"Mmm, Neng Nisa, sebenarnya Akang suka sama Neng Nisa," jawab Chef Yudha yang akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nisa tersebut.


Nisa nampak terkejut. Tetapi sesaat kemudian Nisa justru mengulum senyum kecil. Chef Yudha menyerongkan duduknya dan menghadap ke arah Nisa.


"Maaf, Neng. Mungkin Neng menganggap kalau Akang lancang udah berani ngomongin masalah ini sama Eneng. Tapi sungguh, Akang beneran suka sama Eneng. Semenjak pertama kali kita saling bertukar cerita di taman ini beberapa waktu yang lalu, semenjak saat itulah Akang mulai merasakan ada perasaan yang berbeda untuk Neng Nisa. Lama kelamaan Akang pun mulai menyadari kalau ternyata rasa itu adalah rasa suka, selayaknya seorang laki-laki kepada seorang wanita. Akang menyukai Neng Nisa. Jadi, maukah Neng Nisa berjalan bersama dengan Akang untuk melupakan rasa kita yang salah dulu dan mencoba membuka lembaran rasa yang baru untuk kita berdua?" tanya Chef Yudha setelah mengutarakan perasaannya kepada Nisa.


Lagi-lagi Nisa tersenyum kecil seraya melihat ke arah Chef Yudha.


"Jujur Eneng akui, Eneng juga mulai merasakan perasaan yang sama seperti yang Kang Yudha rasakan itu. Bersama dengan Kang Yudha selama beberapa waktu ini membuat hati Eneng merasa nyaman dan tenang," kata Nisa.


"Jadi? Maukah Eneng merajut rasa ini bersama dengan Akang?" tanya Chef Yudha sekali lagi, memastikan.


Nisa menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum lembut.


"Iya, Kang, Eneng bersedia. Eneng juga suka sama Kang Yudha," lirih Nisa, sedikit malu.


"Syukur alhamdulillaah. Kita jalani rasa ini bersama ya, Neng. Semoga kedepannya hubungan kita ini mendapat ridho dari Allah Subhanahu wa ta'ala dan bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius lagi ya, Neng," kata Chef Yudha sumringah.


"Iya, Kang," balas Nisa. dengan menundukkan wajahnya yang tersipu.


Chef Yudha tersenyum senang. Dalam hatinya dia merasa sangat bersyukur karena perasaan sukanya terhadap Nisa ternyata berbalas juga, seperti yang dia harapkan selama ini. Sementara Nisa sendiri juga merasa sangat senang. Ternyata seperti ini rasa bahagia itu ketika perasaan yang kita miliki akhirnya bersambut dan mendapatkan balasan dari orang yang kita sukai.


"Oh iya, kapan Eneng ada waktu luang? Nanti Akang jemput Eneng buat datang ke kafenya Bos Awan. Biar Eneng tau tempat kerjanya Akang, tau kafe milik Bos Awan juga. Sekalian nanti Akang kenalin Eneng sama temen-temen kerja Akang disana juga. Mereka orangnya baik-baik semua loh, Neng," kata Chef Yudha.


"Boleh sih, Kang. Eneng juga pengen tau kafenya Kang Awan. Pengen lihat tempat kerjanya Kang Yudha juga. Mmm, misalkan besok siang aja gimana, Kang? Kebetulan besok kan Kang Rijal datang kesini, jadi nanti Kang Rijal bisa temenin Umi buat jagain Abah kalau Eneng tinggal," balas Nisa menyampaikan usulannya.


"Besok siang ya? Boleh banget dong, Neng. Oke, kalau gitu besok siang Akang jemput Eneng kesini, ya. Sekalian nganterin makan siang buat Abah, Umi, sama Kang Rijal juga," kata Chef Yudha begitu senangnya.


"Iya, Kang. Boleh. Nanti biar Eneng ijin sama Umi sama Abah juga sebelumnya," balas Nisa.


"Oke, Neng. Besok juga Akang pasti ijin langsung kok sama Umi sama Abah, sama Kang Rijal juga," ucap Chef Yudha.

__ADS_1


"Iya, Kang," balas Nisa lagi dengan tersenyum lembut.


Chef Yudha dan Nisa kemudian saling melemparkan senyuman manis mereka. Keduanya merasa bahagia karena ternyata mereka berdua memiliki perasaan yang sama. Dan mereka berdua juga berharap semoga perasaan mereka ini nanti akan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan bisa berlanjut hingga ke jenjang yang lebih serius lagi, yaitu pernikahan. Aamiin Yaa robbal 'aalamiin.


__ADS_2