Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
53. Bayu Kembali Hadir


__ADS_3

Siang ini Bayu sengaja datang ke sekolah Keinan untuk menjemput Keinan pulang sekolah. Dan tentu saja Bayu juga bertemu dengan Awan yang juga berniat untuk menjemput Keinan pulang dari sekolah, seperti biasanya.


"Hai, Wan," sapa Bayu begitu melihat Awan.


"Oh, hai juga, Bay," balas Awan setelah menoleh ke arah Bayu.


Awan dan Bayu kemudian saling berjabat tangan sesaat.


"Keinan belum keluar, ya?" tanya Bayu mencoba memulai obrolan.


"Belum. Paling sebentar lagi. Itu udah berdo'a juga," jawab Awan seraya mengendik ke arah kelas Keinan.


Dari arah kelas Keinan tersebut memang bisa terdengar suara riuh anak-anak yang sedang membaca do'a bersama-sama dengan guru mereka saat ini.


"Kapan pulang, Bay?" tanya Awan kemudian.


"Baru kemarin kok, Wan. Oh iya, selamat ya untuk kelahiran putra kamu dengan Shofi," jawab Bayu sekaligus mengucapkan selamat kepada Awan atas kelahiran baby Angkasa.


Bayu mengulurkan tangan kanannya sekali lagi, bermaksud mengucapkan selamat kepada Awan. Awan pun kemudian juga langsung menyambut uluran tangan dari Bayu tersebut. Keduanya berjabat tangan kembali untuk sesaat.


"Iya, makasih ya, Bay," balas Awan.


"Sama-sama. Namanya siapa, Wan?"


"Angkasa, Bay. Angkasa Isnan Putra."

__ADS_1


"Nama yang bagus, Wan. Semoga jadi anak yang shalih dan berbakti kepada kedua orang tua nantinya," do'a Bayu, yang sebenarnya hanya setengah hati saja.


"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin. Makasih banyak ya, Bay, do'anya," balas Awan.


"Iya, Wan, sama-sama. Wah, keluarga kalian ini benar-benar keluarga 'atas' ya rupanya. Semuanya memakai nama-nama yang ada di 'atas'. Mulai dari Om Surya, Tante Wulan, kakak kamu Langit dan putranya Bintang, juga kamu sendiri, Awan. Dan sekarang putra kamu juga namanya Angkasa," ucap Bayu sedikit berkelakar.


"Hehe, bisa dibilang begitu sih, Bay. Tapi emang dari dulu kita udah kesepakatan bersama aja sih. Nama anak pertama kita juga memakai nama kumpulan benda-benda di atas langit. Baru nanti setelah anak kedua dan seterusnya kita boleh menamai dengan nama yang lainnya, sesuai dengan keinginan kita masing-masing. Sama seperti putri kedua Bang Langit dan Kak Jani yang diberi nama Inara itu," jawab Awan menjelaskan apa adanya.


"Oh, jadi seperti itu, ya," kata Bayu menanggapi.


"Hmm-mmm," balas Awan dengan bergumam.


Tidak lama kemudian, Keinan dan teman-temannya yang lain nampak sudah keluar dari dalam ruang kelas mereka saat ini.


Keinan sempat tersentak sesaat ketika melihat sang ayah, Bayu, yang saat ini sedang berdiri di samping Papa Awan-nya itu sekarang. Tetapi Keinan juga segera bisa menguasai dirinya sendiri dari rasa terkejutnya itu. Keinan pun kemudian segera menghampiri Papa dan ayahnya itu.


"Wa'alaikumsalam, Keinan sayang," jawab Awan dan Bayu bersamaan.


Keinan kemudian mencium punggung tangan kanan Awan dan Bayu secara bergantian.


"Kita langsung ke kafe dulu yuk, Kak. Baru setelah itu nanti Papa anterin kamu pulang," ajak Awan.


"Iya, Papa," balas Keinan dengan riang.


"Eh, gimana kalau Keinan aku aja yang nganterin pulang, Wan? Kamu kan masih repot juga di kafe kamu. Sekalian aku juga mau jengukin Shofi sama putra kalian, baby Angkasa. Jadi biar sekalian aja gitu," usul Bayu, mencoba mencari kesempatan.

__ADS_1


"Kakak pokoknya mau pulang dianterin sama Papa kayak biasanya. Titik!" celetuk Keinan tiba-tiba, seakan menolak secara tidak langsung usulan yang sudah disampaikan oleh Bayu tadi.


Bayu nampak sedikit terkejut mendengar perkataan dari Keinan itu. Awan mengulum senyum tipis. Awan sebenarnya sudah bisa menebak jalan pikiran dan maksud Bayu yang sebenarnya. Tetapi Awan juga tidak mungkin akan menjatuhkan Bayu di hadapan Keinan, putranya sendiri. Itu kenapa Awan tetap bersikap tenang dan mengikuti alur permainan Bayu. Menolak tetapi masih tetap dengan cara halus.


"Hehe, maaf ya, Bay, Keinan emang gitu. Dia udah terbiasa pulang sama aku soalnya. Lagian juga kamu nggak perlu repot-repot kok, Bay. Aku juga nggak terlalu repot banget kok di kafe. Dan biasanya memang Keinan tiap harinya aku sendiri juga yang nganterin pulang. Kalau untuk masalah kafe, aku sih fleksibel aja. Kalau mood ya balik lagi ke kafe setelah nganterin Keinan pulang. Tapi kalau enggak ya, ya udah aku nggak balik lagi ke kafe. Lagian juga anak-anak udah biasa kok, ngurusin kafe sendiri tanpa aku. Terutama masalah tutup kafe, udah terbiasa mereka nutup kafe sendiri tanpa aku," tolak Awan secara halus dengan menjelaskan panjang lebar.


"Oh, jadi begitu, ya," balas Bayu dengan tersenyum canggung.


"Tapi kalau misalkan kamu emang berniat untuk menjenguk Shofi dan baby Angkasa, ya nggak pa-pa, Bay. Kamu bisa kok ikut pulang bareng aku dan Keinan. Jadi nanti selain kamu bisa menghabiskan waktu bareng Keinan, kamu juga bisa sekalian jengukin Shofi dan baby Angkasa nanti. Gimana menurut kamu, Bay?" tawar Awan kemudian, menghargai niat baik Bayu tadi.


"Ah, eh, iya. Boleh juga itu, Wan.Ya udah, kalau gitu aku nanti ngikutin kalian berdua dari belakang, ya, pakai mobil aku sendiri," balas Bayu kemudian yang akhirnya menyetujui tawaran dari Awan tadi.


"Oke, Bay. Kalau gitu, yuk kamu ikut ke kafe aku dulu aja. Aku mau beresin dulu kerjaan aku sebentar. Sekalian pamit sama anak-anak dan ambil mobil juga," kata Awan.


"Iya, Wan. Ayo," balas Bayu lagi.


"Ayo, Bay. Yuk, Kak, kita langsung ke kafe dulu," ajak Awan juga kepada Keinan


"Oke, Pa," balas Keinan.


Keinan kemudian berjalan dengan menggandeng tangan Awan. Awan lalu memberikan kode kepada Keinan melalui tatapan matanya dengan mengendik ke arah Bayu. Ya, Awan menyuruh Keinan untuk menggandeng tangan Bayu juga. Awan berusaha untuk memahami bagaimana perasaan Bayu selaku ayah kandung dari Keinan tersebut. Itu kenapa Awan juga menyuruh Keinan untuk menggandeng tangan Bayu juga.


Keinan sempat mengerucutkan bibirnya sebentar, merasa keberatan dengan permintaan dari sang Papa tersebut. Tetapi kemudian bocah kecil itu pun menganggukkan kepalanya pelan dan mengiyakan permintaan dari sang Papa itu.


Keinan pun kemudian juga menggandeng tangan Bayu menggunakan tangan kirinya yang menganggur itu. Bayu sempat tersentak kaget, seakan tidak percaya karena tiba-tiba Keinan berjalan dengan menggandeng tangannya seperti itu. Tetapi sesaat kemudian senyuman Bayu pun terkembang sempurna.

__ADS_1


Bayu merasa sangat bahagia karena saat ini dirinya bisa berjalan dengan bergandengan tangan bersama putranya itu. Bayu, Awan, dan Keinan kemudian berjalan bersama-sama menuju ke kafe milik Awan, dengan Keinan yang berjalan di tengah dan menggandeng tangan Awan dan juga Bayu di sebelah kanan dan kirinya itu.


__ADS_2