Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
54. Diusir Secara Tidak Langsung


__ADS_3

Sesuai kesepakatan mereka tadi, siang ini Bayu mengikuti Mas Awan dan Keinan untuk pulang ke rumah Papa Surya. Bayu mengendarai mobilnya sendiri, mengikuti mobil yang dikendarai oleh Mas Awan dan Keinan dari belakang.


Sesampainya di rumah Papa Surya, Mas Awan kemudian mengajak Bayu untuk masuk ke dalam. Aku dan Mama Wulan tentu saja sangat terkejut melihat kedatangan Bayu bersama dengan Mas Awan dan Keinan itu.


"Assalamu'alaikum," salam Mas Awan, Keinan, dan Bayu bersamaan begitu masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Mama Wulan.


"Eh," kagetku ketika melihat Bayu yang datang bersama dengan Mas Awan dan Keinan itu.


"Loh, kok," Mama Wulan juga nampak terkejut.


"Bunda, Oma, dedek Angkasa," teriak Keinan riang seperti biasanya.


Untuk sementara waktu fokusku dan Mama Wulan teralihkan oleh Keinan. Keinan mencium punggung tangan kananku dan Mama Wulan secara bergantian. Setelah itu Keinan juga langsung menghampiri baby Angkasa yang sedang berada di dalam boks bayinya tersebut dan bermain-main dengan adiknya itu.


"Kakak tadi udah cuci tangan belum?" tanyaku mengingatkan kepada Keinan.


"Udah kok, Bun. Tadi di depan sebelum masuk rumah kakak udah cuci tangan di kran kok," jawab Keinan seraya masih asyik menciumi pipi baby Angkasa dan memainkan tangan mungil adiknya itu.


"Siip. Pinter anaknya Bunda," pujiku.


"Sayang, ini ada Bayu. Katanya dia mau nengokin Angkasa sekalian mau ngucapin selamat sama kamu juga," kata Mas Awan kemudian, menjawab kebingunganku dan Mama Wulan.


"Oh, iya, Mas," balasku sedikit kaku, masih bingung bercampur heran juga.


Untungnya Mama Wulan lebih sigap. Mama Wulan kemudian mempersilahkan Bayu untuk duduk terlebih dahulu.


"Mari-mari, nak Bayu. Silahkan duduk dulu," kata Mama Wulan mempersilahkan.


"Iya, Tante. Terima kasih," balas Bayu.


Bayu kemudian mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga tersebut. Mas Awan segera menghampiriku.


"Kamu buatin Bayu minum dulu ya, sayang. Sekalian buat Mas juga. Mas nganter Keinan ganti baju dulu sebentar," ucap Mas Awan setengah berbisik kepadaku.


"I-iya, Mas," balasku, lirih.


"Ma, titip Angkasa dulu, ya. Sekalian tolong temani Bayu sebentar. Biar Shofi buat minuman. Aku juga mau nganterin Keinan ganti baju dulu ke atas," kata Mas Awan kepada Mama Wulan, sudah dengan nada suara yang seperti biasanya.


"Oh, oke, Wan. Kamu tenang aja pokoknya," balas Mama Wulan, seakan sudah memahami apa maksud tersembunyi dari perkataan putranya itu tadi.


"Aku nganterin Keinan ganti baju dulu ya, Bay," pamit Mas Awan kepada Bayu juga.


"Iya, Wan. Silahkan," balas Bayu.


"Ayo, Kak, kita ganti baju dulu, yuk," ajak Mas Awan kepada Keinan.

__ADS_1


"Oke, Papa," balas Keinan.


Mas Awan kemudian menggandeng tangan Keinan. Mengangguk pelan kepadaku, kami bertiga pun kemudian melangkah meninggalkan ruang keluarga bersama. Aku yang berbelok ke arah dapur, sementara Mas Awan dan Keinan yang menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.


Aku membuatkan teh untuk Bayu, Mas Awan, dan Mama Wulan dengan setengah hati. Ada rasa kesal yang aku rasakan ketika melihat mantan suamiku itu datang ke rumah ini bersama dengan Mas Awan dan Keinan tadi.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja Mas Awan sudah menghampiriku di dapur. Dan seperti biasa, Mas Awan langsung memeluk tubuhku dari belakang.


"Kenapa manyun, hmm?" tanya Mas Awan setelah mencium pipiku sekilas.


"Keinan, Mas?" aku bertanya balik, menanyakan Keinan, soalnya kan tadi Mas Awan bilang mau menemani Keinan ganti baju.


"Keinan masih ganti baju di atas," jawab Mas Awan.


"Sendiri?" tanyaku lagi.


"Putra kita itu udah besar, sayang. Udah bisa belajar mandiri juga. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Jadi kenapa ini wajahnya manyun gini, hmm?" jawab Mas Awan sekaligus bertanya lagi kepadaku.


"Kenapa Mas harus ngajak Bayu kesini sih, Mas? Bikin bete tau nggak," keluhku.


"Maaf deh, sayang. Dia bilang dia pengen nengokin Angkasa sekaligus ngucapin selamat sama kamu. Dia juga pengen menghabiskan waktu sebentar sama Keinan. Ya, Mas nggak mungkin dong nolak keinginan dan niat baiknya itu," jawab Mas Awan.


"Tapi aku jadi kesel, Mas. Apalagi kalau ingat perbuatan dia kemarin itu. Males banget rasanya harus berhadapan sama dia lagi," ucapku mengeluarkan unek-unekku.


"Iya, sayang, Mas tau kok. Cerita tentang Bayu yang sempat berusaha untuk mendekati kamu lagi pas Mas nggak ada kemarin itu, Mas juga udah tau masalah itu. Jadi kamu tenang aja ya, sayang. Pokoknya nanti Mas akan selalu nemenin kamu dan jagain kamu, biar Bayu sama sekali nggak punya kesempatan untuk bisa mendekati kamu lagi. Ya sayang, ya," kata Mas Awan meyakinkanku.


"Iya, sayang. Mas janji."


"Kalau bisa nanti nggak usah lama-lama dia disini. Aku nggak mau lama-lama ngadepin dia, Mas," pintaku lagi.


"Iya sayang, iya. Nanti biar Mas cari alasan ya, supaya Bayu nggak berlama-lama disini," balas Mas Awan.


Aku menganggukkan kepalaku seraya tanganku mengaduk teh di depanku itu.


"Sayang, kita kan nggak boleh menolak niat baik seseorang. Jadi kamu sabar aja dulu sebentar, ya. Tapi Mas janji kok, nggak akan lama. Dan Mas juga akan selalu menemani di samping kamu. Mas nggak akan kasih celah sedikitpun buat Bayu untuk bisa mencoba mendekati kamu. Ya sayang, ya?" lanjut Mas Awan lagi.


"Iya, Mas," jawabku pada akhirnya.


"Ya udah, yuk kita balik ke depan. Kasihan Angkasa ditinggal terlalu lama," ajak Mas Awan dengan tersenyum.


Mas Awan melepaskan pelukannya kepadaku. Aku pun kemudian menganggukkan kepalaku dengan tersenyum juga, membalas senyuman dari suamiku itu tadi.


Aku dan Mas Awan kemudian melangkah kembali ke ruang keluarga lagi.


"Silahkan diminum, Bay," kataku mempersilahkan setelah selesai meletakkan cangkir teh di atas meja sofa tersebut.


"Iya, terima kasih ya, Shofi," ucap Bayu.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum seadanya sebagai jawaban. Aku kemudian mendudukkan diriku di sebelah Mama Wulan yang sedang memangku baby Angkasa saat ini. Mas Awan duduk di sofa tunggal di sebelahku, berhadapan dengan Bayu saat ini.


Tidak lama kemudian Keinan pun turun dari lantai atas. Keinan kembali menghampiri baby Angkasa kemudian bermain-main dengan tangan mungil adiknya itu, terlihat sangat gemas sekali.


"Oh iya, selamat ya Shofi untuk kelahiran baby Angkasa. Semoga baby Angkasa nanti bisa tumbuh besar menjadi anak yang shalih dan berbakti kepada kedua orang tuanya, aamiin," kata Bayu, mengucapkan selamat sekaligus mendo'akan kebaikan untuk baby Angkasa kedepannya.


"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," ucapku, Mas Awan, dan Mama Wulan bersamaan, meng-amin-kan do'a Bayu tersebut.


"Terima kasih ya, Bay," balasku.


"Iya, sama-sama," kata Bayu dengan tersenyum.


Mas Awan kemudian mengajak Bayu untuk berbincang. Seperti janjinya tadi, Mas Awan sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Bayu untuk bisa mengobrol denganku. Bahkan tiap kali Bayu berusaha untuk mengajak aku mengobrol dengan menanyakan perihal baby Angkasa, justru Mama Wulan-lah yang akan terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari Bayu tersebut.


Aku mengulum senyum tipis. Merasa sangat bersyukur di dalam hatiku karena memiliki suami dan ibu mertua yang begitu memahami diriku ini.


Tidak lama kemudian, baby Angkasa menangis dengan kencang karena haus.


"Sayang, Angkasa sepertinya haus itu. Udah jam-nya dia buat bobok juga, kan. Kamu bawa Angkasa ke atas gih, biar dia bisa mimik sama bobok dulu," kata Mas Awan kepadaku.


"Iya, Mas," balasku dengan sumringah.


Aku diam-diam tersenyum. Pinter banget suamiku ini memanfaatkan kesempatan. Aku pun kemudian mengambil alih baby Angkasa dari gendongan Mama Wulan.


"Shofi bawa Angkasa ke atas dulu ya, Ma," pamitku kepada Mama Wulan.


"Iya. Buruan dikelonin aja biar bisa bobok lagi dia," kata Mama Wulan.


"Iya, Ma. Maaf ya, Bay, aku tinggal dulu," pamitku kepada Bayu juga.


"Eh, i-iya, Shofi. Nggak pa-pa kok," balas Bayu.


Aku kemudian meninggalkan ruang keluarga tersebut.


"Papa, kakak juga ngantuk, mau bobok dikelonin sama Papa," rajuk Keinan yang masih bisa aku dengar juga.


"Loh, tapi ini masih ada ayah Bayu lho, Kak," kata Mas Awan.


"Tapi kakak ngantuk, Pa," rengek Keinan.


Lagi-lagi aku tersenyum kecil. Putraku itu ternyata juga sama pintarnya dengan papanya.


"Ya udah sih, Wan. Kasihan Keinan sampai ngerengek kayak gitu. Ngantuk banget dia. Kamu kelonin aja dulu. Nggak pa-pa kan, nak Bayu?" kata Mama Wulan sekaligus menanyakan pendapat Bayu.


"Eh, i-iya, Tante, nggak pa-pa kok. Ya udah, Wan, kamu kelonin Keinan aja dulu. Aku pamit pulang dulu aja kalau gitu. Besok aku datang lagi buat nemuin Keinan," kata Bayu pada akhirnya, mengalah.


"Iya, Bay. Sorry banget, ya," kata Mas Awan juga.

__ADS_1


Dan akhirnya, Bayu pun kemudian pamit pulang. Jujur saja Bayu merasa sangat dongkol saat ini. Secara tidak langsung dirinya sudah diusir dari rumah Awan, meski dengan cara yang halus.


__ADS_2