Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
40. Kembali Ke Kafe


__ADS_3

Acara syukuran aqiqah baby Angkasa dan juga syukuran ulang tahun pertama pernikahanku dengan Mas Awan alhamdulillaah sudah selesai dan berjalan dengan baik dan lancar.


Malam ini aku dan Mas Awan sudah berada di atas tempat tidur kami dengan bersandar pada headboard tempat tidur. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidang suamiku itu. Sementara Keinan dan baby Angkasa sudah terlelap dalam tidur mereka sejak beberapa saat yang lalu.


"Alhamdulillaah ya, Mas, acara syukuran hari ini berjalan dengan lancar," ucapku.


"Iya, sayang. Alhamdulillaah semua acaranya bisa berjalan dengan lancar tadi siang. Dan kamu tau, sayang? Mas sangat bahagia sekali, akhirnya Mas bisa berkumpul kembali bersama dengan semua orang yang Mas kenal dan Mas sayangi seperti dulu lagi, sayang," kata Mas Awan yang kemudian mencium puncak kepalaku.


"Iya, Mas. Kami semua juga bahagia kok bisa berkumpul kembali bersama dengan Mas Awan. Bahkan rasanya aku seperti masih belum bisa percaya, Mas. Setelah hampir enam bulan tanpa kabar, akhirnya Mas Awan bisa kembali juga dan berkumpul lagi bersama dengan kami semua disini," ucapku juga seraya mengeratkan pelukanku kepada Mas Awan.


Tiba-tiba saja tangan kanan Mas Awan terangkat dan mencubit hidungku pelan.


"Aaahhh. Sakit, Mas," gerutuku yang merasa kaget.


Aku langsung bangun dari pelukan Mas Awan. Aku lalu menatap suamiku itu dengan raut wajah kesal seraya mengusap-usap hidungku sendiri yang tadi dicubit oleh Mas Awan itu. Rasa sakitnya sebenarnya tidak seberapa. Tapi rasa kagetku karena perbuatan Mas Awan yang tiba-tiba itu yang membuat aku menjadi merasa kesal.


"Sakit? Berarti kamu harus percaya dong, sayang, kalau sekarang Mas ini beneran udah balik lagi dan bisa berkumpul kembali bersama dengan kalian semua," kata Mas Awan.


"Mas Awan iiihhh," rajukku setelah sadar kalau saat ini Mas Awan sedang menggodaku.


Mas Awan justru tertawa melihat aku yang merajuk kesal seperti itu.


"Hahahaha. Habisnya kamu lucu sih, sayang. Masak iya udah semingguan sama Mas lagi tapi kamu bilang kalau kamu masih belum percaya kalau Mas ini beneran udah balik dan sekarang ini bisa berkumpul kembali bersama dengan kalian semua? Makanya Mas cubit hidung kamu. Biar kamu bisa percaya kalau semua ini nyata," kata Mas Awan dengan sisa-sisa tawanya.


"Kan tadi aku bilangnya 'seperti', Mas. 'Seperti'. Jadi bukannya aku nggak percaya. Cuma ngerasa kayak masih belum percaya aja. Gitu loh maksudnya," tegasku dengan kesal.


"Ya itu sama aja maksudnya, sayangku, istriku, cintaku," balas Mas Awan lagi-lagi dengan menggodaku.

__ADS_1


"Tau ah. Aku nggak mau ngomong lagi. Mas Awan bikin kesel," rajukku seraya menyilangkan kedua tanganku di depan dada dan membalikkan tubuhku menjadi membelakangi Mas Awan saat ini.


Grep.


Aku tersentak kaget ketika tiba-tiba saja tangan Mas Awan sudah melingkar di tubuhku. Ternyata Mas Awan sedang memelukku dari belakang saat ini.


"Maaf ya, sayang. Mas nggak ada niatan buat bikin kamu kesel kok. Mas cuma pengen godain kamu aja gitu. Kan udah lama Mas nggak godain kamu kayak gini. Jadinya Mas kangen banget pengen godain kamu lagi kayak dulu, sayang," sesal Mas Awan.


Aku tersenyum mendengar perkataan Mas Awan yang penuh dengan penyesalan itu.


"Iya, Mas. Nggak pa-pa kok. Aku juga paham banget kok sama apa yang Mas Awan rasain itu," balasku yang kemudian melapisi kedua tangan Mas Awan yang sedang memelukku saat ini dengan kedua tanganku.


"Makasih, sayangnya Mas," kata Mas Awan.


"Iya, Mas," balasku.


"Sayang," panggil Mas Awan.


"Hmm," jawabku dengan bergumam.


"Hari Senin besok Mas mulai berangkat ke kafe lagi, ya," kata Mas Awan meminta ijin padaku.


"Emangnya Mas Awan beneran udah ngerasa sehat?" tanyaku.


"Ya tentu aja udah dong, sayang. Lagian juga Mas kan pengen bisa nganterin dan jemput Keinan sekolah lagi. Mas juga kangen pengen datang ke kafe dan kumpul, bekerja bareng sama anak-anak di kafe kayak dulu lagi, sayang," jawab Mas Awan menjelaskan maksudnya kepadaku.


"Hmm, ya udah deh kalau gitu. Tapi Mas pulangnya nggak usah sampai sore, ya. Kan Mas masih belum boleh terlalu lelah," kataku menyetujui sekaligus berpesan kepada Mas Awan juga.

__ADS_1


"Siap, Bu Bos," balas Awan.


"Ya udah. Yuk kita tidur. Udah malem juga," ajakku kemudian.


"Iya, sayang. Ayo," balas Mas Awan.


Mas Awan kemudian membawa tubuhku untuk berbaring bersamanya, masih dengan memeluk tubuhku.


Cup.


Mas Awan mencium keningku penuh sayang.


"Selamat malam, istri Mas tercinta," ucap Mas Awan.


"Selamat malam juga, suamiku tercinta," balasku dengan tersenyum.


Setelah itu kami berdua pun kemudian mulai memejamkan mata kami masing-masing dan mencoba untuk memasuki alam mimpi kami.


🍁🍁🍁


Seperti yang sudah aku dan Mas Awan bicarakan malam kemarin, hari Senin ini Mas Awan akan mulai datang ke kafe lagi. Mas Awan juga mulai kembali mengantar dan menjemput Keinan untuk ke sekolahnya.


Setelah mengantarkan Keinan ke sekolahnya, Mas Awan kemudian langsung mendatangi kafenya yang berada di seberang jalan sekolah Keinan itu. Mas Awan membuka kunci pintu kafe miliknya itu. Setelah mengucapkan salam, Mas Awan pun kemudian masuk ke dalam kafenya yang masih dalam keadaan kosong tersebut.


Mas Awan berhenti beberapa langkah dari pintu masuk kafe tersebut. Mas Awan lalu mengedarkan pandangannya. Melihat ke segala penjuru yang ada di kafe miliknya itu. Tidak ada perubahan yang signifikan. Semuanya masih sama seperti yang dulu, ketika terakhir kali Mas Awan datang ke kafe miliknya itu.


'Rasanya sudah lama sekali aku tidak datang kesini. Hampir enam bulan. Ah, aku sangat merindukan ketika aku berada di kafe ini. Berkumpul dan bekerja bersama dengan anak-anak yang lain. Mbak Maya, Adit, Danu, Dedi, dan Chef Yudha. Bersama mereka-lah aku dulu merintis kafe ini dari nol. Syukur alhamdulillaah, sekarang aku bisa kembali lagi ke kafe ini. Terima kasih banyak, Yaa Allah,' kata batin Mas Awan dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2